
Arsenio menyuruh Joseph membelikan seragam sekolah untuk Daviena, sang sekretaris terkejut. kenapa Arsenio mau Repot-repot menyekolahkan gadis itu, bukankah Daviena hanya peliharaan nya saja. sikap mafia itu mulai berubah semenjak kehadiran Daviena.
Daviena dalam suasana hati yang baik, Reyana tersenyum melihat putrinya yang sudah kembali seperti biasanya. "Suasana hatimu sepertinya sedang bagus," ucapnya.
"Iya, karena aku akan mulai bersekolah lagi." ucapnya.
"Tuan Arsen Benar-benar sangat baik, Dia mau menyekolahkan mu lagi. kita beruntung dapat bertemu dengan orang sebaik dirinya." ucap sang ibu.
Raut wajah gadis itu perlahan mulai berubah "Dia bukanlah orang yang baik ibu, aku bahkan tak tahu sampai kapan Dia memperlakukan ku seperti ini." batinnya.
"Daviena, kenapa kau Tiba-tiba murung? apa ada sesuatu yang salah?" tanya sang ibu.
"Tidak ada ibu." ucapnya.
Arsenio mendatangi sebuah sekolah menengah, Dia datang seorang diri. karena Joseph masih harus mengurus perlengkapan sekolahnya Daviena. saat berjalan di Koridor sekolah, banyak pasang mata yang melihat ke arahnya. kebetulan ini sudah jam istirahat, jadi banyak para murid yang berlalu lalang di sekitar sekolah. para gadis yang berada di sekolah itu terus menatap Arsenio, mereka terpesona melihat ketampanan mafia itu.
"Dia sangat tampan, siapa pria itu?" ucap seorang gadis.
"Penampilan nya Benar-benar seperti bintang aktor terkenal," ucap gadis lainnya.
Ada banyak gadis yang memujinya, tetapi Arsenio tidak mempedulikan nya. bahkan mafia itu tak sedikit pun melirik para gadis itu. menurutnya mereka sangat berisik.
Arsenio tiba di sebuah ruangan yang bertuliskan kantor Kepala sekolah, Dia memasuki ruangan itu. di dalam ruangan tersebut ada beberapa guru dan pengurus sekolah yang lainnya. seorang pria paruh baya menyadari kehadiran Arsenio, Dia begitu terkejut. para guru yang melihatnya pun menjadi bingung, lalu pandangan mereka teralihkan pada mafia itu.
"D-dia... Dia tuan Vincent Adonis Arsenio kan." ucap seorang guru pria.
"Astaga, apa yang sedang Dia lakukan di sini." ucap guru lainnya. pria paruh baya yang diketahui adalah seorang Kepala sekolah itupun menghampiri Arsenio.
"S-selamat datang tuan Arsenio, saya Benar-benar tidak menyangka anda akan datang ke sekolah kami." ucapnya sedikit gugup.
"Saya datang ke sini karena ada sesuatu. apa anda Kepala sekolah, di sekolah ini?" tanya Arsenio.
__ADS_1
"Benar, saya adalah Kepala sekolah, di sekolah ini. apa ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin mendaftarkan adik saya di sekolah ini. apa sekolah ini masih bisa menerima siswa baru?" tanya mafia itu, Dia sengaja berbohong.
"Tentu Tuan, anda masih bisa mendaftar di sekolah ini." ucap Kepala sekolah.
Kepala sekolah itu mengambilkan formulir pendaftaran nya dan memberikannya pada Arsenio, pria itu langsung mengisi formulir tersebut. karena Dia sudah mengetahui semua data informasi tentang Daviena. setelah mengisi data formulir itu, Arsenio memberikan secarik kertas cek uang berisi nominal yang cukup besar. "Ini untuk membayar biaya pendaftarannya. oh iya, adik saya akan masuk sekolah ini besok." ucapnya.
"Ini terlalu banyak tuan." ucapnya, melihat banyak angka di kertas cek uang tersebut.
"Sisanya untuk mu dan para guru saja." Arsenio pergi dari ruangan itu setelah urusannya selesai.
Setelah kepergian mafia itu, para guru dan pengurus sekolah mulai Berbisik-bisik tentangnya. "Sejak kapan orang terkaya di Indonesia memiliki seorang adik. setahuku keluarga Vincent hanya memiliki anak tunggal." ucap seorang guru wanita.
"Mungkin saja selama ini keluarga Vincent telah menyembunyikan anak keduanya. kalian pasti tahu kan, banyak sekali orang jahat yang mengincar keluarga itu. apalagi ada rumor beredar, bahwa telah terjadi sebuah penyerangan di mansion utama keluarga itu." ucap guru lainnya.
...****************...
"Kerja yang bagus Joseph, kau boleh kembali ke pekerjaan mu." ucapnya.
Joseph pergi dari ruangan Arsenio, pria itu masih harus mengurusi beberapa pekerjaan di perusahaan itu. Arsenio menatap layar laptop nya yang terhubung dengan CCTV mansion nya. layar laptop itu menampilkan Daviena yang tengah tidur siang di ruang tamu. "Kenapa Dia tidur di sana?" ucapnya.
Malam harinya, mafia itu kembali ke mansion-nya. Arsenio menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawakan Barang-barangnya yang berada di dalam bagasi mobil. "Tuan Arsen, selamat datang." Reyana beserta para maid menyambut kepulangan Arsenio.
"Mana Daviena?" tanya mafia itu.
"Dia menunggu anda di meja makan." ucapnya.
Arsenio segera berjalan ke arah meja makan. di sana sudah ada Daviena yang menunggu nya, gadis itu tampak merasa bosan. sepertinya Dia menunggu Arsenio terlalu lama.
"Kenapa kau tidak makan lebih dulu?" ucapnya menghampiri Daviena.
__ADS_1
"S-selamat datang, tuan Arsen." gadis itu cukup terkejut dengan kehadiran Arsenio yang datang secara Tiba-tiba.
"Seharusnya kau tidak perlu menungguku, makanlah. kau pasti sangat lapar." ucapnya. Arsenio dan Daviena mulai mengambil makan malam yang tersaji di atas meja makan.
"Kau sudah bisa bersekolah besok." ucapnya.
"Benarkah?" kedua mata gadis itu berbinar, Dia Benar-benar sangat senang.
"Besok aku yang akan mengantarkanmu ke sekolah, oh iya, jika ada yang bertanya siapa dirimu. kau katakan saja pada mereka bahwa kau adalah adik perempuan ku. apa kau mengerti."
"Baiklah." tersenyum manis. senyuman Daviena membuat pria itu ikut tersenyum.
...****************...
Saat ini mereka berada di dalam kamar Daviena, Arsenio membantu gadis itu membereskan peralatan dan seragam sekolahnya, "Besok, aku akan menyuruh beberapa anak buahku untuk menjagamu dan membantumu, karena kakimu belum sembuh dan kau belum bisa berjalan dengan baik." ucapnya.
"Tuan Arsen, kedua kakiku sudah membaik. dan aku juga sudah bisa berjalan cukup baik." ucap Daviena.
"Kakimu mungkin akan semakin sakit jika kau paksakan untuk berjalan."
"Tidak Apa-apa, aku pasti bisa. anda tak perlu menyuruh para bawahan anda untuk membantuku dan mengawasiku, aku tidak akan kabur." ucapnya.
Arsenio berpikir sejenak, haruskah Dia membiarkan gadis itu bersekolah tanpa penjagaan "Lebih baik aku menyuruh beberapa bawahan ku untuk mengawasinya dari jauh." batinnya.
Setelah selesai menyiapkan dan membereskan semua barang keperluan sekolah nya, gadis itu memutuskan untuk tidur. malam ini, ada sang mafia yang menemaninya tidur. Arsenio memeluk tubuh Daviena dari belakang. kedua pipi Daviena bersemu merah, sampai kapanpun gadis itu tidak akan terbiasa tidur bersama pria yang ada di belakangnya.
"T-tuan Arsen, tolong jangan sentuh area itu." ucapnya.
Saat ini tangan Arsenio menggerayangi tubuh mungil gadis itu, Daviena terus meminta Arsenio untuk berhenti. namun sepertinya mafia itu tidak peduli, Dia begitu suka menyentuh tubuh gadis itu. kulit Daviena terasa sangat lembut seperti kulit bayi.
Suara erotis terus saja keluar dari mulut Daviena, Dia Benar-benar sudah tidak bisa menahan suaranya lagi. sebab, tangan Arsenio mulai nakal menyentuh bagian intim tubuhnya.
__ADS_1