
Bianca dan kedua temannya membungkuk meminta maaf, mereka tidak tahu jika Daviena adalah salah satu anggota keluarga Vincent. Bianca kemudian menjelaskan kenapa mereka bertiga bisa mengejar Daviena "Dia telah mendekati kekasih saya tuan Arsenio, itu sebabnya saya dan kedua teman saya mengejarnya. saya cemburu ketika Dia mendekati kekasih saya." ucapnya.
Mendengar hal itu membuat pria itu mengerutkan alisnya, pandangan Arsenio lalu mengarah pada gadis mungil yang bersembunyi di belakang nya. tatapan nya saat melihat Daviena begitu menusuk, seakan pria itu siap mengoyak tubuh gadis itu.
"Sepertinya aku memiliki firasat yang buruk." batin Daviena.
"Apa benar yang dikatakan nya, Daviena?" tanya Arsenio.
"Tidak!, bukan aku yang mendekati kekasihnya. tetapi kekasihnya lah yang mendekati ku lebih dulu, Dia bahkan terus menggangu ku selama di sekolah. padahal aku terus berusaha menghindarinya." ucapnya.
"Kau pasti bohong, Louis sebelumnya tak pernah mendekati gadis lain, selain aku." ucap Bianca.
"Itu benar, Louis tak pernah mendekati gadis lain, selain Bianca." ucap teman Bianca.
"Aku tak pernah mendekati Louis, Dia sendiri yang datang mendekati ku." ucap Daviena.
"Kami tidak percaya pada mu, kau pasti berbohong." ucapnya. Arsenio menghela nafasnya, Dia benci pertengkaran anak remaja, terutama perempuan.
"Saya tidak mau Berlama-lama di sini, jadi sebaiknya lupakan saja permasalahan ini. dan anggap semua ini tidak pernah terjadi." ucapnya.
Arsenio lalu membawa Daviena pergi menjauhi ketiga gadis itu, Bianca sebenarnya tidak terima gadis itu dibawa pergi begitu saja. Dia Benar-benar ingin memberikan pelajaran pada Daviena, agar gadis itu tak mencoba mendekati kekasihnya lagi. namun sayangnya, Arsenio membawa nya lebih dulu.
"Jika saja pria itu tidak datang ke sini, aku pasti sudah memberikan pelajaran pada gadis itu." ucapnya kesal.
"Gadis itu adalah salah satu anggota keluarga Vincent, bagaimana cara nya kita membalasnya? tuan Arsenio tak akan mungkin diam saja jika terjadi sesuatu pada adiknya." ucap salah satu teman Bianca.
__ADS_1
"Aku baru tahu, ternyata keluarga Vincent memiliki keturunan lain, selain tuan Arsenio... bukankah, tuan Arsenio adalah anak tunggal?" ucapnya.
"Bahkan tidak ada informasi yang mengatakan jika keluarga Vincent memiliki keturunan lain, bukankah itu sedikit aneh?"
Arsenio mendorong kasar Daviena, masuk ke dalam mobilnya. gadis itu meringis saat punggungnya bertubrukan dengan sisi samping mobil. gadis itu berada di bangku penumpang, mafia itu langsung menghidupkan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan sekolah tersebut.
Daviena merasakan hawa yang sedikit berbeda di sekitar Arsenio, sepertinya mafia itu sedang dalam suasana hati yang buruk "Sepertinya aku telah membuat suasana hatinya memburuk." batinnya.
"Tuan Arsen, jangan percaya pada ketiga gadis itu, semua yang mereka katakan adalah kebohongan. aku tidak pernah mendekati kekasih gadis itu, jadi... tolong jangan marah." ucapnya. Arsenio diam tidak merespon, beberapa saat kemudian dia berbicara dengan nada suara yang terkesan dingin.
"Diam lah, hukuman tengah menantimu." ucapnya.
Daviena tersentak, apakah Dia akan kembali mendapatkan hukuman dari sang mafia. gadis itu seketika menjadi lesu membayangkan bagaimana Arsenio menyiksanya. apakah pria itu akan menggagahi nya lagi atau menyayat kembali telapak kakinya, dan yang lebih buruknya mungkin Arsenio akan menghabisinya. jika itu terjadi siapa yang akan menjaga ibunya, Dia tidak boleh mati secepat itu sebelum dapat membahagiakan ibunya.
"Tuan Arsen, apakah aku boleh tahu hukuman apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Daviena pelan.
"Sungguh, aku tak pernah berniat mendekati Laki-laki lain. yang dikatakan oleh ketiga gadis tadi hanyalah kebohongan, yang sebenarnya mendekati lebih dulu bukanlah aku. tetapi Laki-laki yang bernama Louis lah yang mendekatiku lebih dulu, padahal aku mencoba untuk menghindarinya karena Dia sangat menyebalkan." ucapnya.
"Hukuman, tetaplah hukuman. aku akan memberikanmu hukuman karena sudah membuat masalah." ucap Arsenio.
"Tapi yang pertama kali membuat masalah bukanlah aku."
"Aku akan menambahkan hukuman mu, jika kau menolaknya." ucapnya, Arsenio kembali melajukan mobilnya. Daviena hanya bisa pasrah sekarang. sebab, mafia itu tidak akan mungkin mengubah apa yang sudah dikatakannya.
Sesampainya di mansion, Arsenio segera membawa Daviena menuju kamarnya. Reyana saat ini tidak berada di mansion, wanita itu sedang pergi ke pasar untuk membeli Bahan-bahan makanan. jadi Dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada putrinya saat ini.
__ADS_1
Setibanya di dalam kamar, mafia itu segera menjatuhkan tubuh gadis itu di atas tempat tidur, lalu mengukungnya "Kali ini hukuman yang akan kuberikan padamu sedikit berbeda, apa kau tahu... hukuman seperti apa yang akan ku berikan padamu? Daviena." ucapnya dingin.
Daviena menggeleng pelan, Dia tidak berani menatap kedua mata Arsenio. suara mafia itu bahkan membuat tubuhnya gemetar.
"Daviena, kau menyayangi ibumu bukan? apa yang akan terjadi bila wanita yang kau sayangi itu tersakiti." menyeringai. mendengar hal itu membuat gadis itu langsung menatap kedua mata Arsenio.
"Apa yang akan kau lakukan pada ibuku?"
"Ibumu akan menjadi penggantimu, hukuman mu kali ini akan ku berikan pada ibumu." Arsenio tersenyum sinis.
"Tidak!, ku mohon jangan lakukan hal itu. biarkan aku sendiri yang menerima hukumannya." ucapnya.
"Tetapi kali ini aku Benar-benar ingin melibatkan ibumu, aku ingin tahu reaksi apa yang akan Dia perlihatkan jika Wanita itu tahu bahwa selama ini putri kecilnya adalah seorang budak."
"Tuan Arsen, tolong jangan katakan apapun pada ibuku. jika Dia mengetahui hal itu Dia pasti akan merasa sangat sedih dan kecewa padaku." menunduk sedih.
"Aku tidak peduli," ucapnya dengan nada bicara yang datar.
Air mata Daviena mulai mengalir keluar, gadis itu menangis. kenapa Arsenio selalu mempermainkan dirinya, Dia mulai lelah dipermainkan seperti boneka. Arsenio yang melihat nya pun tersenyum manis, Dia sangat menyukai Momen-momen seperti ini. "Semakin kau menangis, semakin kau cantik dipandang. kenapa gadis seperti mu bisa secantik ini saat menangis." ucap Arsenio.
Pria itu memang Benar-benar sangat gila, Dia begitu menyukai tangisan keputusasaan seseorang terutama kaum wanita, mendengar tangisan wanita bagaikan melodi yang indah di pendengaran nya.
"Teruslah menangis sampai air matamu itu mengering dan kedua matamu keluar dari tempatnya," ucapnya.
Daviena mengepalkan kedua tangannya, setiap Kata yang keluar dari mulut Arsenio membuatnya tak tahan ingin segera menghabisinya, namun saat ini situasinya tak memungkinkan nya untuk menyentuh apalagi menghabisi mafia itu dengan mudah. gadis itu terlalu lemah jika dibandingkan dengan pria itu.
__ADS_1
"Hiks, apa yang harus ku lakukan sekarang. aku terlalu lemah sehingga tak bisa melawan nya." batin Daviena.