Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 55


__ADS_3

Sebuah tamparan cukup keras melayang di pipi kanan Arsenio, pria itu terdiam sambil menatap sang pelaku yang berani menampar nya. Dia memegangi pipi kanannya yang terasa panas akibat tamparan tersebut. Arsenio Benar-benar tak percaya, gadis itu berani menampar wajah tampannya.


"Kenapa kau menampar ku!" ucapnya kesal.


"Tamparan itu memang pantas kau dapatkan, karena kau tak pernah memahami perasaan seorang wanita. yang kau pikirkan hanya kesenangan saat menikmati tubuh mereka, dan tak pernah sekalipun kau peduli pada wanita yang bersama mu." ucap Daviena.


Arsenio menyunggingkan seringaian, dari mana Daviena mendapatkan keberanian untuk melawan nya. sepertinya Arsenio bersikap terlalu baik padanya, hingga membuatnya berani melawan. "Sekarang kau berani melawan ku? apa kau sudah lupa dengan posisi mu saat ini?" ucapnya dingin.


Walaupun tubuhnya sedikit gemetar, Daviena tetap menatapnya tajam. Dia tidak mau sampai ditindas dan dipermainkan oleh pria itu lagi, sudah cukup Arsenio membuat hidupnya menderita, sekarang sudah waktunya untuk melawan balik agar Arsenio tidak berani mempermainkan nya lagi.


Pria bermarga Vincent itu tertawa Terbahak-bahak melihat gadis mungilnya yang sepertinya mulai menjadi tidak patuh padanya, ini membuatnya serasa seperti menjinakkan seekor hewan liar. Namun perlu diketahui, Arsenio sangat ahli menangani wanita seperti Daviena.


"Ah, ini Benar-benar sangat menarik... Daviena, sepertinya aku perlu menjinakkan mu lagi. agar kau kembali patuh padaku." menyeringai.


"Aku tidak takut padamu!" ucapnya.


Tatapan tajam Daviena membuat Arsenio ingin segera menerkam nya, menurutnya tatapannya itu terlihat begitu sexy. Dia menjilati sudut bibirnya seperti seekor serigala yang baru menemukan mangsanya.


Perlahan Dia mendekati Daviena, tidak seperti biasanya. kali ini gadis itu tak mundur saat Arsenio mendekatinya, walaupun tubuhnya gemetar, pikiran nya menolak untuk mundur.


Arsenio mencengkram kedua pipi Daviena, lalu Tiba-tiba menciumnya. pria itu berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulut Daviena, tetapi si gadis menggigit kuat lidah sang Casanova hingga membuatnya berdarah. Arsenio lantas segera mengakhiri ciuman tersebut.


"Sialan!, kau berani menggigit lidahku!" ucapnya marah.


"Salahmu sendiri, yang Tiba-tiba menciumku." ucap Daviena.


"Aku Benar-benar akan menghukum mu karena sudah berani memberontak."

__ADS_1


Arsenio menarik kasar pergelangan tangan kanan Daviena, dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, Dia akan memberikan hukuman untuk gadis itu karena sudah berani melawan nya.


Di dalam kamar, Dia mendorong tubuh Daviena hingga terjatuh ke lantai. pria itu kemudian mengunci pintu kamarnya agar tak ada seorang pun yang masuk. Arsenio mengambil sesuatu di dalam laci meja nakas nya, itu sebuah cambuk.


"Belum terlambat untuk mu meminta maaf padaku, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi." ucapnya, berjalan mendekati Daviena.


"Aku tidak sudi meminta maaf pada orang seperti mu, kau adalah iblis!" ucap Daviena.


"Aku, iblis?... Hahahaha, ya. aku adalah seorang iblis, iblis yang sangat suka mendengar jeritan seorang wanita seperti mu." Arsenio berjongkok di depan Daviena.


Pria itu Menepuk-nepuk pipi kiri Daviena dengan ujung pegangan cambuk nya, agar membuat gadis itu merasa ketakutan. caranya itu berhasil membuat tubuh gadis itu berkeringat dingin.


Kini Arsenio bersiap untuk mencambuk nya "Kau masih tidak mau meminta maaf padaku?" ucapnya dengan suara Baritone nya.


Daviena hanya Diam, Dia sudah bertekad tak akan meminta maaf pada pria itu. Arsenio mengayunkan cambuk nya, cambuk tersebut lalu mengenai punggung Daviena. gadis itu meringis kesakitan saat Cambuk itu mengenai punggungnya Berkali-kali.


Arsenio menarik rambut gadis itu hingga membuatnya mendongak menatapnya, "Aku cukup terkesan pada mu, karena bersikap berani padaku. tetapi, bukankah rasanya sangat menyakitkan saat kau mendapatkan hukuman seperti ini... lebih baik kau menyerah saja dan tunduk kembali pada ku." ucapnya yang tak henti memberikan seringaian.


Sang mafia berusaha menundukkan kembali peliharaan nya, Namun sekali lagi Daviena menolaknya. Dia bahkan meludah tepat di wajah tampan pria itu.


"Tsk, Benar-benar merepotkan. kau suka sekali memancing kemarahan ku ya." ucap Arsenio, Dia menghapus ludah yang menempel di pipi kirinya.


Sebenarnya sikap Daviena yang memberontak padanya, membuatnya kembali tertantang untuk menjinakkan gadis mungilnya itu, Dia bahkan juga harus menahan gairahnya. Arsenio sangat menyukai wanita yang memberontak, karena menurutnya itu lebih menggairahkan dari pada memiliki wanita yang patuh dan pendiam.


Tubuh Daviena digendong dan dijatuhkan di atas tempat tidur pria itu, Arsenio kemudian melepas dasinya dan mengikatnya pada kedua tangan Daviena.


"Lepaskan aku!, kau Laki-laki bajingan!" ucapnya marah.

__ADS_1


"Diamlah, atau tangan mu bisa terluka nanti." ujarnya.


Setelah mengikat kedua datang Daviena, Arsenio kemudian mengukung gadis itu "Gadis liar ku harus diam, karena jika tidak. aku akan kembali bermain dengan tubuhmu." ucapnya berbisik di telinga Daviena.


Gadis itu langsung terdiam, ancaman pria itu membuat nyalinya menciut. Arsenio memandangi wajah cantik Daviena, entah bagaimana gadis itu bisa membuatnya tertarik padanya. perlahan ibu jarinya mengusap bibir bawah Daviena.


"Daviena, kenapa baru sekarang kau berani memberontak padaku. sebelumnya kau sangat mudah ku jinakan, kau bahkan hanya sedikit melawan. tetapi mengapa sekarang..."


"Aku tidak mau lagi diperlakukan seperti sebuah barang, yang Sewaktu-waktu akan dibuang setelah tidak dibutuhkan lagi. selain itu aku tidak mau menjadi budak mu lagi." ucapnya, sorot matanya memancarkan kebencian.


"Sebegitu bencinya kau padaku... tetapi, kau tidak boleh membenciku. karena aku adalah Master mu." ucap Arsenio, Dia menekankan kata terakhir nya.


"Berhentilah memperlakukan ku sebagai mainan mu!, aku juga manusia yang memiliki perasaan, dan aku bukan sebuah benda mati yang tidak memiliki perasaan." ucapnya dengan nada yang sedih.


Arsenio mencengkram kedua pipi Daviena, Lalu menatap tajam gadis itu. "Kau adalah budak ku!, dan selamanya akan menjadi budak ku!" ucapnya marah.


Gadis itu perlahan meneteskan Air matanya, kenapa pria itu tak sekalipun bisa mengerti. apa hatinya itu terbuat dari batu sehingga Dia tak memiliki belas kasih. Arsenio menghela nafasnya, berusaha mengontrol amarahnya.


Sekali lagi, melihat gadis itu menangis entah kenapa membuatnya merasa sedih. padahal sebelumnya Dia sangat menyukai tangisan Daviena, Namun kini saat melihat gadis itu meneteskan Air matanya, rasanya hatinya seperti tertusuk oleh ribuan jarum.


"Berhentilah menangis." ucapnya seraya menghapus Air mata Daviena dengan ibu jarinya.


...****************...


Joseph Berkali-kali menghubungi Bos nya, karena sejak jam makan siang tadi. Arsenio belum kunjung kembali ke perusahaan nya. "Ck, Dia pasti sedang menghabiskan waktunya bersama gadis itu... Arrrggghhh, ini membuat kepala ku pusing." ucapnya frustasi.


Padahal hari ini pekerjaan mereka begitu banyak, Namun Arsenio seenaknya pergi meninggalkan pekerjaannya begitu saja. jika saja keluarga Joseph tak memiliki janji setia pada keluarga Vincent, pasti sudah lama Joseph keluar dan meninggalkan perusahaan itu.

__ADS_1


__ADS_2