
Malam sudah sangat larut, kini waktunya Arsenio dan Daviena pulang. Emira sama sekali tak mau melepaskan Daviena, wanita itu ingin gadis itu menginap di mansion-nya "Menginap lah malam ini, ku mohon." ucapnya memohon. Daviena yang melihatnya hanya bisa menunjukkan senyumannya tanpa tahu harus berkata apa.
"Hahh, ibu lepaskan Daviena. Dia dan aku harus pulang sekarang, karena ini sudah larut malam." ucap Arsenio.
"Kau bisa pergi, tetapi tidak untuk Daviena. malam ini Dia harus menginap di sini." ucapnya ketus.
Arsenio Mengacak-acak surainya frustasi, kenapa ibunya cepat sekali akrab dengan gadis itu. padahal mereka baru saja bertemu. "Arsen, kau bisa kembali ke sini besok untuk menjemputnya." ucap Javier.
"Tidak, Daviena harus ikut pulang bersama ku sekarang." ucapnya yang tak mau mengalah.
Arsenio menarik tangan Daviena menjauh dari ibunya, tetapi wanita itu sepertinya juga tidak mau mengalah. Dia memeluk Daviena dan menepis tangan putranya dengan kasar.
"Pergilah sendiri, biarkan menantuku di sini." ucapnya kesal.
"Ibu, aku dan Daviena belum menikah. jadi jangan memanggilnya menantu!" ucapnya.
"Aku tidak peduli, lagi pula cepat atau lambat kalian pasti akan segera menikah." ucap Emira.
"Daviena, katakan pada ibuku bahwa kau ingin pulang bersamaku," ucapnya pada Daviena.
"M-maaf, tapi aku harus pulang bersama tuan Arsen." ucapnya.
"Kenapa kau memanggil Arsen dengan sebutan tuan? Dia itu kan kekasihmu." tanya Javier.
"I-itu... " gugup.
"Ibu Daviena bekerja di mansion ku, Dia sering membantu ibunya. itu sebabnya Dia memanggilku dengan sebutan tuan, itu menjadi kebiasaan nya saat membantu ibunya." jawab Arsenio.
"Daviena, Arsen adalah kekasihmu kau tidak perlu memanggilnya dengan sebutan tuan. kenapa kau tidak memanggilnya saja dengan sebutan sayang atau honey."
Wajah Daviena kembali memerah, sedangkan Arsenio sedikit merona. Dia memalingkan wajahnya agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa mafia itu tengah merona karena mendengar ucapan sang ibu.
"Apa kalian berdua tinggal bersama?" tanya sang ayah.
__ADS_1
"Ayah jangan menanyakan tentang privasi kami!" ucapnya kesal.
Javier Tiba-tiba menunjukkan senyuman anehnya, sepertinya yang Dia katakan itu benar. bahwa Arsenio tinggal satu atap bersama Daviena "Kenapa kau kesal, apa Jangan-jangan yang ayah katakan padamu itu benar? bahwa kalian tinggal bersama."
Sang anak berdecih, kenapa ayahnya ingin sekali mengetahui tentang kehidupan pribadinya bersama Daviena. "Kalian tinggal bersama?" kini sang ibu lah yang menanyakan pertanyaan yang sama.
"Kalian tidak perlu tahu... ayo Daviena, kita pulang." Arsenio menggenggam tangan gadis itu lalu membawanya pergi setelah Emira melonggarkan pelukannya pada Daviena.
"Aku masih tidak percaya, bahwa putra kita ternyata sudah memiliki kekasih." ucap Emira.
"Mereka harus secepatnya menikah, agar kita bisa mendapatkan cucu lebih cepat." ucap Javier.
"Semoga saja Daviena tidak seperti wanita itu, mantan kekasihnya Arsen. ck, aku Benar-benar masih tidak bisa melupakan kejadian beberapa tahun yang lalu, saat Arsen dikhianati oleh wanita itu." ucapnya.
"Daviena sepertinya gadis yang baik, Dia terlihat masih lugu dan polos." ucap Emira.
Di tengah perjalanan, Arsenio menepikan mobilnya. Dia menghela nafasnya lalu menatap Daviena. "Jangan dengarkan apa yang mereka katakan padamu, ayah dan ibuku terlalu berlebihan. kau jangan menganggapnya terlalu serius, karena kita hanya Berpura-pura saja." ucapnya.
"Orang tua anda, ternyata sangat baik ya, tuan Arsen." ucap Daviena.
"Jangan tertipu dengan sikap manis mereka, perlu kau tahu. ayah dan ibuku adalah salah satu mafia yang licik dan kejam di dunia bawah. jika kau bertemu dengan mereka lagi, lebih baik menjaga jarak dengan mereka."
"Tapi, nyonya Emira, dan tuan Javier terlihat seperti orang yang baik menurutku."
"Hahh, ternyata benar. kau memang gadis yang lugu, kau mudah terpengaruh orang lain... jangan pernah menilai seseorang dari sikap maupun penampilan luarnya saja."
Sesampainya di mansion, Arsenio dan Daviena segera turun dari mobil. gadis manis itu sudah menguap, sepertinya Dia mengantuk. "Masuklah ke kamar dan tidur, ini sudah larut malam. bukankah besok kau harus sekolah." ucap Arsenio.
"Kalau begitu aku akan ke kamar, anda juga harus tidur tuan Arsen." Daviena berjalan menuju kamarnya.
Arsenio juga masuk ke dalam kamarnya, saat Dia tengah membuka pakaian formalnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering, saat melihat layar ponselnya tidak tertera nama siapapun di sana, seperti nya itu nomor orang asing.
"Cih, pasti hanya orang iseng saja yang menghubungi seseorang dilarut malam seperti ini." Arsenio memilih mengabaikan panggilan tersebut, karena ponselnya tak kunjung berhenti mengeluarkan suara nada dering. akhirnya mafia itu memutuskan untuk memblokir nomor asing tersebut.
__ADS_1
Dia merebahkan tubuhnya setelah melepas sepatu mahalnya, perlahan Dia memejamkan matanya dan tertidur.
Di tempat lain, seorang wanita tengah tersenyum melihat layar ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan yang ditolak oleh seseorang yang Dia hubungi.
"Ternyata kau sama sekali tidak mengganti nomor ponselmu ya." ucapnya, wanita itu kemudian tersenyum.
"Kita akan segera bertemu lagi... Arsenio," ucapnya.
...****************...
Daviena sudah Bersiap-siap pergi ke sekolah, Arsenio sudah menyiapkan dua bawahannya untuk mengawasi Daviena, agar gadis itu tidak mendapatkan masalah lagi. "Tuan Arsen, bukankah ini terlalu berlebihan." ucap nya.
"Aku tidak ingin kau mendapatkan masalah lagi, jadi biarkan para bawahanku mengawasimu." ucapnya mutlak.
Daviena menghela nafasnya, Arsenio terlalu berlebihan. gadis itu hanya bisa pasrah mengikuti kemauan pria itu, lagi pula ini cukup menguntungkan nya. tidak akan ada siapapun lagi yang akan mengganggunya selama di sekolah.
"Jika anak dari keluarga Xavier mendekatimu lagi, beritahu saja aku. dan sebisa mungkin kau harus menjaga jarak darinya, apa kau mengerti?"
Daviena mengangguk, sesampainya di sekolah. Arsenio segera menuruni gadis itu di depan pintu gerbang. lalu setelahnya Dia pergi meninggalkan Daviena bersama dua bawahannya, sebelumnya Arsenio berpesan pada mereka untuk menjaga gadis manis itu.
Daviena berjalan memasuki area sekolah, diikuti oleh dua bawahannya Arsenio. kedua bawahannya Arsenio terlihat sedikit menyeramkan, mereka memiliki wajah yang sangar dan tubuh yang sangat kekar.
Daviena menjaga jarak dari kedua pria Bertato tersebut, sebab mereka membuatnya sedikit takut. apalagi salah satu di antara mereka ada yang memiliki tatto bergambar ular dan tengkorak di lengan kirinya.
Gadis itu melangkahkan kakinya lebih cepat, Dia tidak mau diawasi oleh mereka selama berada di sekolah. Daviena berusaha menjauhi kedua bawahan nya Arsenio yang terus saja mengikutinya.
"Berhentilah mengikuti ku!" ucapnya kesal.
"Tuan Arsen memerintahkan kami untuk menjagamu nona Daviena, jadi kami tidak boleh meninggalkan mu sendirian."
"Hahh, aku bisa menjaga diriku sendiri." ucapnya frustasi.
"Nona Daviena, jika kami tidak mengerjakan tugas kami dengan baik. maka tuan Arsen akan menghukum kami dan memecat kami berdua." ucapnya.
__ADS_1