Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 9


__ADS_3

Setelah beberapa menit mencoba, akhirnya Dia dapat membuka kunci gembok itu. Daviena bangun dan berjalan tertatih-tatih, luka di telapak kakinya terasa sedikit sakit. namun gadis itu mencoba menahan rasa sakitnya Dia harus bisa keluar dari mansion itu sebelum pria Casanova itu pulang.


"Pasti akan ada banyak penjaga di luar sana, aku harus Berhati-hati. mereka semua bisa saja menangkapku jika tahu aku sedang mencoba untuk kabur," Daviena menelisik sekitar area dalam mansion, gadis itu selalu bersembunyi jika ada orang yang melintas. tubuh mungilnya mempermudahkan nya mencari tempat persembunyian. gadis itu memastikan situasi di luar mansion dari balik jendela yang tertutup oleh tirai.


"Lebih baik aku menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari mansion ini," gadis itu menunggu para penjaga lengah, dengan sabar Dia memantau situasi. jam sudah menunjukkan pukul 00 : 11 malam, beberapa dari penjaga luar mansion kini mulai lengah, mereka mengantuk. bahkan ada yang meninggalkan tempat penjagaan nya dan pergi ke tempat yang lebih sepi untuk tidur.


"Aku masih punya sedikit waktu, sebaiknya aku bergegas sebelum pria itu pulang." ucapnya.


Daviena membuka pelan salah satu jendela, Dia keluar dari mansion itu dan berjalan pelan ke arah depan mansion. sesekali gadis itu bersembunyi di sekitar Semak-semak dan pepohonan, penjaga yang berada di sekitar mansion saat ini tengah berusaha untuk tetap terjaga walau rasa kantuk menyerangnya.


"Haishh, aku mengantuk sekali. sudah dua hari ini aku tidak tidur, Tuan Arsen seharusnya menyuruh orang lain untuk menggantikanku," menggerutu. Arsenio sepertinya mempekerjakan para bawahannya terlalu keras, sebagian besar dari mereka tidak tidur selama beberapa hari karena terus dipaksa berjaga di sekitar mansion. pada akhirnya penjaga gerbang mansion itu tertidur, Daviena mengambil kunci yang tersangkut di dinding pos penjagaan. gadis itu membuka gerbang mansion tanpa sepengetahuan para bawahannya Arsenio.


"Akhirnya aku bisa keluar dari tempat ini," Dia berjalan meninggalkan mansion Arsenio, melirik jalan raya berusaha mencari Taksi yang lewat. sementara itu di tempat lain, seorang pria menggenggam kuat ponselnya yang menampilkan rekaman CCTV tempat tinggalnya. peliharaan manisnya ternyata telah kabur "Ternyata aku belum benar-benar menjinakkan mu ya, Daviena." ucapnya, Arsenio menyeringai.


Sepertinya Dia memang tidak perlu lagi Bersusah-payah bersikap baik pada gadis itu, seharusnya Dia menunjukkan sisi iblisnya agar Daviena tahu bahwa gadis itu tidak boleh Bermain-main dengannya. "Kali ini kubiarkan kau pergi, namun bukan berarti aku tidak akan mencarimu dan menemukanmu." batinnya.


...****************...


Daviena sudah berjalan cukup lama, tetapi tidak ada satupun Taksi yang lewat. gadis itu beristirahat di sebuah halte bus "Hahh, aku tidak tahu daerah sekitar sini. bagaimana caranya aku pulang," ucapnya sedih. sebuah mobil mewah klasik melintas di dekat halte itu, cahaya lampu depan mobil tersebut menyinari Daviena.


Gadis itu menutupi matanya yang silau akibat cahaya lampu depan mobil itu, seorang pria tinggi berkumis tipis keluar dari mobil klasik itu dan menghampiri Daviena "Nona, apa yang sedang ada lakukan disini, berbahaya bagi seorang wanita sendirian di jalan raya yang sepi di Jam-jam seperti ini. lagi pula ini masih dini hari," ucapnya.


"I-itu... " Daviena gugup, Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada pria itu. haruskah dia mengatakan yang sebenarnya bahwa ada seorang mafia kejam telah membawanya dan mengurungnya di mansion besarnya.

__ADS_1


"Aku salah menaiki bus, dan aku baru sadar jika aku berada di tempat yang tidak ku kenali." ucap Daviena berbohong, pada akhirnya gadis itu memilih untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia takut pria itu akan menganggapnya sebagai wanita murahan yang biasa disewakan pada Pria-pria konglomerat.


"Kalau begitu, bagaimana jika aku mengantarkan mu pulang. sudah tidak ada bus yang lewat di jam segini," ucapnya.


"Aku tidak mau merepotkan anda tuan," ucap Daviena merasa tak enak jika dirinya harus menumpang di mobil pria asing itu. lagi pula gadis itu tidak boleh sembarangan masuk ke dalam mobil orang yang tidak dikenali nya. "Nona, sebaiknya anda ikut bersama saya. saya bukanlah orang jahat, jadi nona tak perlu khawatir," ucap pria itu tersenyum.


Daviena diam, haruskah Dia ikut bersama pria asing itu. "Nona, kau bisa lihat tanda pengenal ku jika kau memang tidak percaya aku adalah pria yang baik," pria itu memberikan tanda pengenal nya pada Daviena. gadis manis itu membaca nama yang tertera di tanda pengenal itu.


"Nama anda adalah tuan Harrison Edward Dillon, pemilik perusahaan Harrison Corporation. bukankah itu salah satu perusahaan terbesar se-Asia Tenggara?" ucapnya, gadis itu cukup terkejut karena ternyata pria di depannya ini adalah seorang CEO terkenal.


"Sekarang kau sudah percaya kan, bahwa saya bukanlah pria jahat." ucapnya tersenyum.


"M-maafkan saya tuan... " Daviena menggantungkan Kata-katanya.


"Maafkan saya tuan Dillon," Daviena berbicara formal pada pria yang dipanggil Dillon.


"Masuklah ke dalam mobil, saya akan mengantarmu pulang," ucapnya kembali menawari Daviena tumpangan. gadis itu masuk ke dalam mobil bersama pria itu, Dillon menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


"Tuan Dillon, terimakasih sudah mau mengantarkan saya pulang," ucapnya.


"Tidak perlu berterimakasih, oh iya, jangan berbicara terlalu formal padaku, itu sedikit kaku. lebih baik kau bicara seperti biasa saja." ucapnya.


"Tapi, bukankah itu tidak sopan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, santai saja. anggap saja aku ini adalah temanmu, mengobrol dengan santai tanpa bahasa formal itu jauh lebih baik." ucap Dillon.


"Baiklah, jika anda berkata begitu."


"Oh iya, siapa nama-Mu?" tanya Dillon.


"Namaku Daviena," ucapnya.


"Nama yang cantik, sesuai dengan wajah pemiliknya." Dillon tersenyum.


"Wajahku ini tidak cantik, jadi kau tidak perlu memujinya." ucap gadis itu, pipinya sedikit merona.


"Apa kau tidak memiliki cermin di rumah, sebaiknya kau bercerminlah. wajahmu itu cantik dan manis, pasti banyak pria yang menyukaimu."


...****************...


Akhirnya mereka tiba di rumah Daviena, gadis itu keluar dari mobil Dillon. Dia melambaikan tangannya saat mobil itu mulai pergi meninggalkan area sekitar rumahnya. pria itu sebelumnya memberikan nomor ponselnya pada Daviena, Dia mengatakan untuk langsung menghubunginya saja jika Daviena sedang membutuhkan bantuan atau sekedar ingin bertemu lagi dengannya. Saat di dalam mobil tadi, Dillon sempat menanyakan apa yanga terjadi pada kaki Daviena, si gadis hanya berkata bahwa kakinya mengalami luka Akibat tertusuk kaca beling.


"Hahh, untung saja Dia tidak tahu bahwa Luka-luka ini disebabkan oleh seorang mafia kejam bernama Arsenio." ucapnya.


Daviena berjalan ke arah rumahnya, Dia mengetuk pintu beberapa kali. namun, tidak sahutan dari dalam rumah "Apa ayah, dan ibu sedang tidak ada di rumah ya," bergumam. ketika gadis itu membuka kenop pintu, ternyata pintunya tidak dikunci.


Daviena memasuki rumahnya, Samar-samar Dia mendengar suara gairah yang begitu Erotis dari ruang tamu. perlahan Dia berjalan ke arah ruang tamu, ketika sampai di ruang tamu. gadis itu Dikejutkan dengan pemandangan yang Benar-benar sangat menjijikkan dan membuatnya mual.

__ADS_1


"AYAAHHH!!!..." berteriak.


__ADS_2