Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 45


__ADS_3

Salah satu pria itu berhasil mendapatkan buku Daviena, Dia memberikan buku itu pada pemiliknya. kemudian menatap tajam Louis, berani sekali putra bungsu keluarga Xavier menjahili nona mereka.


Louis hanya memutar bola matanya malas, mereka tidak bisa diajak bercanda. padahal Dia hanya ingin bercanda ria dengan Daviena. "Dua pria itu sangat tidak mengasikkan." ucapnya berbisik di telinga Daviena.


"Mereka hanya sedang menjalankan tugas, jadi berhentilah untuk menggangguku." ucapnya ketus.


"Kau Benar-benar orang yang membosankan, pantas saja tidak ada yang mau berteman dengan mu di sini." ucap Louis.


Mendengar hal itu membuat Daviena menundukkan kepalanya, selama di sekolah Dia tak pernah memiliki teman ataupun sahabat yang bisa diajak mengobrol. tidak ada yang mau mendekatinya, karena dua pria itu membuat Orang-orang yang ingin mendekatinya merasa ketakutan.


"Kau benar, aku tidak memiliki teman. semua orang yang ingin mendekati ku memilih untuk menjauh dan menjaga jarak dariku, sepertinya aku memang tidak ditakdirkan memiliki seorang teman." ucapnya lesu.


Louis terdiam, apakah perkataan nya barusan menyinggung perasaan gadis itu? tetapi Dia sama sekali tidak bermaksud begitu.


"Maaf, jika perkataan ku menyinggung mu. aku tidak bermaksud begitu." ucapnya.


"Apa yang kau katakan itu tidak salah, itu semua benar. terkadang aku merasa kesepian Karena tidak memiliki teman. tetapi, Setelah ku Pikir-pikir lagi tidak ada salahnya aku sendirian. karena kesendirian itu dapat menenangkan hati, dan pikiran ku. kesendirian tak seburuk apa yang orang lain pikirkan." ucap Daviena.


"Apa kau sudah terbiasa sendirian?" tanya Louis penasaran.


"Begitu lah." ucapnya singkat, Daviena tak mau pembicaraan itu semakin lanjut. jika itu terjadi, kemungkinan Louis akan mengetahui tentang identitasnya.


...****************...


Di jam istirahat Louis membawa Daviena pergi ke kantin sekolah, Dia bahkan lupa jika dirinya sudah memiliki seorang kekasih. Bianca menunggu Louis di kelas dengan perasaan kesal, kekasihnya itu sama sekali belum datang ke kelasnya. biasanya Louis datang ke kelas Bianca untuk mengajak gadis itu pergi ke kantin bersama.


"Tsk, kenapa Dia lama sekali." ucapnya kesal. Tiba-tiba salah satu temannya datang menghampirinya.


"Bianca, ini gawat. Louis, kekasihmu pergi ke kantin bersama Daviena." ucapnya Tergesa-gesa, sepertinya Dia habis berlari.

__ADS_1


"Apa!... kurang ajar, berani sekali Dia mendekati kekasihku lagi!" ucapnya kesal.


Tanpa pikir panjang, Bianca segera keluar dari kelasnya bersama Teman-teman nya. gadis itu Benar-benar akan memberikan Daviena pelajaran karena sudah berani mendekati kekasihnya lagi. Dia tidak peduli bila Daviena adalah salah satu anggota keluarga Vincent.


BRAKK!, suara gebrakan meja mengagetkan para murid yang saat ini berada di kantin. semua mata mengarah pada seorang gadis cantik berambut pirang yang kini tengah menatap tajam Daviena. Dia memergoki kekasihnya bersama gadis itu.


"Louis, aku menunggu mu begitu lama di dalam kelas. tetapi kau dengan teganya pergi ke kantin bersama gadis itu!" menunjuk Daviena.


"Bianca, aku bisa menjelaskan semuanya. ini tidak seperti apa yang kau pikirkan." ucap Louis yang terlihat mulai panik. wajah Bianca memerah karena marah, dan sepertinya sebentar lagi gadis itu akan menangis. sebab kedua matanya sudah Berkaca-kaca.


"Hiks... aku akan memberitahukan hal ini pada orang tuaku!" ucapnya, kemudian pergi meninggalkan Louis yang tidak sempat menjelaskan.


Kedua teman Bianca menatap sinis Daviena, gadis itu telah membuat gadis dari keluarga Marlowe menangis.


"Cih, gadis sialan berani sekali kau merebut Louis dari Bianca." ucapnya kesal.


"Dia sangat tidak tahu malu." ucap teman Bianca yang lainnya. kedua gadis itu pergi menyusul Bianca.


"Ini semua salahmu." menatap tajam Louis.


"Kenapa kau malah menyalahkan ku?" ucapnya.


"Bukankah gadis yang bernama Bianca itu adalah kekasihmu? kenapa kau tidak menyusul nya dan menjelaskan semua ini padanya." ucapnya.


"Ah, kau benar. aku harus menjelaskan semua ini padanya." Louis bangkit, lalu pergi meninggalkan Daviena bersama dua bawahan Arsenio


"Dia Benar-benar sangat mengesalkan." ucap Daviena.


...****************...

__ADS_1


Sepulang sekolah Daviena menunggu Arsenio di depan gerbang sekolah, mafia itu sepertinya akan sedikit terlambat menjemput gadis itu. banyak pasang mata yang memperhatikan nya, kebanyakan dari mereka adalah para murid sekolah itu. tidak sedikit dari mereka yang Berbisik-bisik mengenai Daviena.


Bahkan beberapa orang tua murid cukup terkejut mendengar fakta dari Anak-anak mereka bahwa keluarga Vincent memiliki keturunan lain, selain Arsenio. padahal Jelas-jelas yang mereka tahu mafia itu adalah anak tunggal.


Seorang wanita datang menghampiri Daviena, dan bertanya mengenai hubungan nya dengan keluarga Vincent. gadis itu hanya diam sembari menundukkan kepalanya.


"Ternyata keluarga Vincent memiliki keturunan lain, selain tuan Arsenio. tetapi mengapa wajahmu sama sekali tak mirip dengan anggota keluarga Vincent?" tanya wanita itu.


Semua mata kini mengarah pada Daviena, gadis itu Benar-benar merasa sangat takut. Dia pikir tak akan ada lagi yang menanyakan tentang hubungan nya dengan keluarga Vincent. tetapi ternyata masih ada banyak orang yang merasa sangat penasaran padanya.


Dua pria yang menjaganya berdiri di depannya, lalu menyuruh wanita itu untuk pergi. karena mereka tahu jika Daviena tengah dilanda ketakutan, dan kegelisahan. wanita itu mendengus kesal, tatapannya menjadi tajam ketika menatap Daviena.


"Nyonya, mohon anda jangan mengganggu nona Daviena. kami bisa melaporkan hal ini pada tuan Arsen, jika anda masih saja memberikan nya pertanyaan." ucap salah satu pria itu.


"Aku hanya memberikan nya satu pertanyaan, memang nya apa sulitnya menjawab satu pertanyaan dariku." ucapnya ketus.


Suara klakson mobil mengalihkan perhatian mereka, seorang pria bersetelan formal keluar dari mobil mewah tersebut. pria itu tak lain adalah Arsenio. Daviena yang melihat kedatangan Arsenio segera menghampiri pria itu, lalu bersembunyi di belakang nya.


Arsenio menaikan sebelah alisnya, merasa heran dengan tingkah Daviena. gadis itu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi "Wanita itu memberiku pertanyaan, tentang hubungan ku dengan keluarga Vincent." ucapnya pelan.


Arsenio mengusap kepala Daviena untuk menenangkan nya, Dia sangat tahu jika gadis itu tengah merasa ketakutan.


"Masuklah ke dalam mobil, biar aku yang menyelesaikan hal ini." ucap Arsenio.


Daviena mengangguk, Dia masuk ke dalam mobil. sedangkan Arsenio menghampiri wanita yang sempat bertanya pada gadis mungilnya.


"T-tuan Arsenio."


Wanita itu merasa gugup saat Arsenio menghampiri nya, mafia itu menatap dingin wanita itu. "Kenapa kau menanyakan hubungan adikku dengan keluarga Vincent?... apa kau tak percaya, kalau gadis itu adalah salah satu anggota keluarga Vincent." ucapnya dingin.

__ADS_1


"M-maafkan saya tuan Arsen, saya tidak bermaksud begitu... saya hanya merasa penasaran, karena saya tak pernah sekalipun melihat gadis itu bersama anggota keluarga Vincent yang lainnya." ucapnya gugup. atmosfir disekitar Arsenio begitu kuat.


"Untuk semua yang ada di sini dengarkan ucapan ku dengan baik,... gadis yang bersamaku tadi adalah adik perempuan ku, jika sekali lagi aku melihat ada yang mencoba untuk mengganggu nya ataupun bertanya hal seperti ini lagi padanya, maka aku tidak akan segan menghabisi orang itu." ucap Arsenio.


__ADS_2