Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 38


__ADS_3

Sesampainya di mansion, Daviena segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam mansion. gadis itu berjalan ke arah kamarnya, baru saja akan membuka pintu kamarnya, suara Arsenio membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah pria itu "Daviena, apakah kau sangat ingin tahu tentang masa laluku?" ucapnya.


"Jika kau memang Benar-benar tidak mau menceritakan nya tidak Apa-apa, aku tidak mau memaksamu." ucap Daviena.


"Ayo bicarakan hal ini di dalam kamarmu," ujarnya.


Arsenio membuka pintu kamar Daviena dan masuk lebih dulu, Dia berjalan ke arah balkon kamar gadis itu "Apakah kau pernah berpikir, bahwa psikopat yang haus akan darah seperti ku bisa jatuh cinta pada seorang wanita? bahkan menjadi Tergila-gila dengan wanita itu." Arsenio menoleh ke arah daviena.


"Kau... pernah jatuh cinta?" ucapnya tak percaya.


"ya, dan bodohnya aku jatuh cinta pada seorang wanita yang sama sekali tidak bisa menjaga hatinya hanya untuk ku,"


"Maksud mu... wanita itu, Dia mengkhianati mu?" tanya Daviena menebak.


"Ya, Dia mengkhianati ku dan membuangku seperti sampah yang tidak berguna... dan yang lebih buruknya, pria itu juga terlibat dalam hubungan kami. Dillon yang kau temui saat itu adalah orang yang telah menghancurkan hubungan kami." ucap Arsenio.


"T-tuan Dillon ikut terlibat?!" Daviena Benar-benar terkejut, bagaimana pria sebaik, dan selembut Dillon bisa menghancurkan hubungan orang lain.


"Dia sengaja menghancurkan hubungan kami agar aku merasa frustasi, yang Dia lakukan berhasil membuatku berubah. aku menjadi jijik sekaligus muak dengan wanita, setiap kali mereka menggoda ku itu membuatku semakin membenci mereka." ucapnya.


"Tapi, tak semua wanita seperti apa yang kau pikiran saat ini." ucap Daviena.


"Perkataan mu tidak akan mengubah pandangan ku terhadap para wanita."


Arsenio kemudian keluar dari kamar Daviena, gadis itu sekarang mengerti kenapa Arsenio selalu bersikap kasar. pria itu hanya merasa bahwa dirinya tak pernah mendapatkan cinta dari seorang wanita dengan tulus, kemungkinan besar hatinya sudah tertutup rapat sehingga tak akan ada seorang pun wanita yang dapat mengisi hatinya.


...****************...


Saat ini Arsenio, dan Daviena tengah menyantap makan malam. suara dentingan sendok dan garpu ikut menemani mereka makan. sesaat Daviena menatap pria itu, kemudian Dia kembali menyantap makan malamnya. Arsenio tentu menyadari hal itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Arsenio.


"Tidak Apa-apa, aku hanya penasaran. wanita seperti apa yang dapat memikat hati mafia dingin seperti mu?" ucapnya.


"Kau tidak perlu tahu tentang hal itu, karena itu tidaklah penting. lagi pula, aku jatuh cinta padanya saat aku masih remaja, dan masih bersekolah... mungkin saat itu aku terlalu bodoh karena bisa terpikat olehnya." ucapnya.


"Aku rasa itu adalah hal yang wajar, biasanya masa remaja adalah masa dimana tumbuh kembang seorang anak berubah. cara berpikir nya juga akan berubah seiring pertumbuhan tersebut, dan itu adalah masa dimana seseorang memiliki ketertarikan pada lawan jenisnya." ucap Daviena.


Arsenio terkekeh, ternyata gadis mungilnya itu cukup pintar "Ya, dan itu juga berlaku untuk mu. bukankah kau menyukai putra bungsu keluarga Xavier." ucap Arsenio.


"Tuan Arsen, bisakah kau tidak membahas tentang Dia. karena aku sama sekali tidak menyukai Laki-laki itu, Dia sangat menyebalkan dan suka sekali mengganggu orang lain." ucap Daviena kesal.


"Ku pikir kau menyukainya, karena ku perhatikan kalian berdua terlihat cukup akrab walaupun belum mengenal terlalu lama." ucap Arsenio sedikit menggoda Daviena.


"Dia adalah Laki-laki yang terburuk." Daviena menggembungkan pipinya kesal.


"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Arsenio.


Arsenio terkekeh, Daviena terlihat begitu manis saat sedang marah. gadis itu bahkan tidak sadar ada nasi yang menempel di sudut bibirnya. Arsenio lantas mengambil nasi tersebut, perlakuan nya itu membuat Daviena terdiam.


"Makanlah dengan benar, tadi ada nasi yang menempel di sudut bibirmu." ucapnya.


"T-terimakasih." menunduk malu.


"Malam ini tidurlah bersamaku, aku ingin ditemani." ucap Arsenio.


"T-tapi..." baru saja ingin menolaknya, Arsenio sudah lebih dulu memotong ucapannya.


"Aku tidak menerima penolakan, selain itu aku tak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. aku hanya ingin tidur bersama, itu saja." ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah jika anda berkata begitu,"


Setelah makan malam Daviena mengikuti Arsenio, masuk ke dalam kamar mafia itu. Arsenio memintanya untuk berbaring di sampingnya, gadis itu hanya menurut. Dia berbaring di samping pria itu. Arsenio menatap Daviena, itu membuat Daviena merasa sedikit tidak nyaman. gadis itu kemudian memilih untuk membelakangi pria itu.


Arsenio mendekatkan tubuhnya ke arah Daviena, Dia memeluk si gadis mungil dari belakang. Daviena hanya bisa diam menerima perlakuan tersebut, melawan pun tak akan ada gunanya. tangan kiri Arsenio kini berada di perut gadis itu, Dia menarik tubuh Daviena agar semakin dekat.


Lalu dengan beraninya dia mengendus pundak kiri Daviena, gadis itu dapat merasakan jika pria itu mulai menyesap lehernya dengan lembut. "T-tuan tolong hentikan, ku mohon." ucapnya.


"Baiklah aku tak akan melakukannya, tidur lah." ucapnya. perlahan Arsenio memejamkan kedua matanya, Daviena juga ikut memejamkan kedua matanya, dan perlahan mereka berdua tertidur.


...****************...


Paginya, Arsenio tak dapat menemukan keberadaan gadis itu di samping nya. Dia berpikir bahwa Daviena mungkin sudah bangun lebih dulu. gadis itu pasti sedang Bersiap-siap pergi ke sekolah.


Di dapur sudah ada para maid yang sedang menyiapkan sarapan untuk Arsenio, dan juga Daviena. tak lama kemudian Terlihat Daviena datang menghampiri mereka, gadis mungil itu ingin membantu para maid menyiapkan sarapan.


"Nona, kami bisa mengerjakannya sendiri. anda tidak perlu membantu kami," ucap salah satu maid.


"Tapi aku ingin membantu kalian, selain itu tuan Arsen sepertinya menyukai masakan ku." ucapnya.


Suara baritone seorang pria Tiba-tiba saja terdengar, dan itu berhasil membuat mereka tersentak kaget. "Biarkan Daviena membantu kalian, aku ingin makan masakan nya." ucapnya yang tak lain adalah Arsenio. para maid mengangguk patuh, mereka lalu membiarkan Daviena membantu mereka menyiapkan sarapan.


Sekitar tiga puluh menit akhirnya sarapan buatan gadis itu telah selesai, Daviena menyajikan masakan nya di depan Arsenio. pria itu lantas segera mengambilnya dan menyantap nya.


"Bagaimana, apa rasanya enak?" tanya Daviena.


"Masakan mu selalu enak, aku menyukainya." ucapnya sedikit memuji Daviena.


"Aku senang karena tuan Arsen menyukai masakanku," Daviena tersenyum. Dia ikut menyantap sarapannya.

__ADS_1


Setelah Sarapan Arsenio mengantar gadis itu ke sekolah, Lagi-lagi Daviena didampingi oleh dua bawahannya Arsenio. mafia itu hanya tidak ingin ada seorang pun yang mengganggu miliknya, tidak ada yang boleh menyentuh gadis mungilnya itu selain dirinya.


__ADS_2