
Mau tidak mau Daviena harus menyuapi Arsenio, suapan demi suapan Daviena berikan pada mafia itu. Arsenio tentu menerima suapan tersebut. apalagi saat ini wajah gadis itu sudah sangat merah seperti kepiting rebus.
"Berikan sendoknya, kali ini biarkan aku yang menyuapi mu." ucapnya.
"T-tidak perlu, aku bisa makan sendiri." ucapnya malu.
Arsenio tak mendengarkan ucapan Daviena, Dia mengambil alih sendok makan itu lalu menyuapi gadis itu. "Ayo buka mulutmu."
"T-tapi... "
"Jika kau tidak mau ku suapi, maka aku akan menghukum mu." ucapnya datar.
Daviena segera membuka mulutnya dan menerima suapan dari mafia itu, Dia tidak mau mendapatkan hukuman dari Arsenio. pria itu tersenyum, karena Daviena mau menerima suapan nya.
"Hahh, sepertinya aku memang harus mengancammu dulu agar kau mau mendengarkan perkataan ku." ucapnya.
Gadis itu menggembungkan pipinya kesal, kenapa Arsenio suka sekali mengancamnya. setelah makan, Daviena kembali meminum obat, dan vitaminnya.
"Tuan Arsen, bolehkah aku keluar? aku sedikit merasa bosan di sini." ucap Daviena.
"Aku akan mengizinkan mu keluar, tetapi kau hanya boleh berada di sekitar mansion saja." jawabnya.
"Baiklah."
Arsenio membantu gadis itu keluar dari kamarnya, mereka pergi ke halaman depan mansion. di sisi Kanan-kiri mansion terdapat taman bunga, dan kolam air mancur kecil yang terlihat begitu indah. Daviena menghirup aroma bunga yang terasa sangat menyegarkan, ada berbagai macam jenis bunga yang tertanam di sekitar area mansion.
Arsenio memetik salah satu bunga mawar, lalu menyelipkan nya di bagian atas telinga kanan Daviena. "Bunga mawar itu sangat cocok untuk mu." ucapnya memuji.
Daviena memalingkan wajahnya, Arsenio suka sekali membuat wajah gadis itu memerah padam. entah kenapa Akhir-akhir ini Arsenio menunjukkan sikap yang terbilang cukup manis pada gadis itu. padahal biasanya mafia itu lebih suka menyiksa Daviena hingga membuat gadis malang itu menangis.
Mereka berdua duduk di sebuah kursi taman, Daviena duduk bersebrangan dengan Arsenio. tak lama kemudian Arsenio menyuruh salah satu bawahan nya yang berjaga di sekitar mansion untuk membawakan nya beberapa camilan manis, dan kopi hitam untuk nya, dan Daviena.
Beberapa menit kemudian bawahannya Arsenio kembali bersama dua orang maid, kedua maid itu membawakan beberapa camilan manis, dan kopi hitam yang diminta mafia itu.
Arsenio menyeruput kopi hitamnya, sedangkan Daviena menyantap beberapa camilan manis yang tersaji di atas meja.
__ADS_1
"Tuan Arsen, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" ucap Daviena.
"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" ucap Arsenio.
"Bisakah anda, melepaskan ku. aku ingin bebas." ucapnya pelan.
"Maksudmu, kau ingin pergi dariku? begitu."
Ekspresi Arsenio seketika berubah, kini ekspresi nya terlihat datar. Daviena langsung menundukkan kepalanya, sepertinya Dia telah mengatakan sesuatu yang membuat suasa hati Arsenio berubah.
"Padahal aku sudah memperlakukan mu dengan sangat baik, tetapi kau ingin pergi dariku. Daviena apa kau sudah lupa bahwa status mu saat ini adalah seorang budak, kau hanya alat pemuas nafsuku. tetapi kau masih berani berkata seperti itu padaku." menatap tajam Daviena.
"A-aku hanya ingin bebas, dan tidak bermaksud pergi meninggalkan anda." ucapnya takut.
Arsenio tiba-tiba menarik rambut gadis itu hingga membuatnya mengaduh kesakitan, tarikan mafia itu cukup kuat "Aakkhh!... T-tuan, ku mohon tolong lepaskan rambut ku, ini sakit." ucapnya.
"Seharusnya kau bersyukur karena aku memperlakukan mu dengan sangat baik, jika aku melepaskan mu kau mungkin tidak akan bisa bertahan, apa kau pikir dunia luar begitu menyenangkan. di sana kau mungkin akan menjadi wanita murahan untuk sekedar bertahan hidup." ucapnya marah.
"Hiks... M-maafkan aku, tolong lepaskan hiks..." ucapnya terisak.
Dia melepaskan Daviena, lalu mengusap kepala gadis itu berusaha menenangkan nya agar berhenti menangis "Lain kali aku tidak mau mendengar kau berkata seperti itu lagi." ucapnya.
Ibu jarinya menghapus Air mata Daviena, sebenarnya Dia sangat suka melihat ekspresi gadis itu saat ini. menurutnya Daviena terlihat sangat imut saat sedang menangis.
...****************...
Hari menjelang malam, Daviena saat ini sedang memasak makan malam untuk dirinya, dan Arsenio. awalnya Arsenio tak mengizinkan nya memasak, mengingat kondisinya belum Benar-benar pulih. tetapi gadis itu bersikeras ingin memasak di dapur.
Arsenio mengawasi nya dari meja makan, tak jauh dari sana ada Reyana yang memperhatikan mereka berdua. wanita itu terkekeh melihat kedekatan putrinya dengan Arsenio, mereka terlihat seperti sepasang suami-istri.
Setelah semua masakan nya matang, Daviena menghidangkan nya di atas meja makan. aroma masakan tercium di penciuman Arsenio, aromanya Benar-benar terasa sangat menggoda.
"Silahkan dinikmati, tuan Arsen." ucapnya tersenyum.
Arsenio mengambil beberapa hidangan, lalu menyantap nya dengan lahap. masakan buatan Daviena selalu membuatnya tidak tahan ingin segera menyantap nya.
__ADS_1
"Tuan Arsen, bagaimana rasanya?" tanya Daviena.
"Seperti biasanya, makanan buatan mu terasa sangat enak." ucapnya memuji.
Daviena ikut menyantap makan malamnya, setelah makan malam gadis itu pergi ke kamar nya, namun baru saja akan masuk ke dalam kamarnya. Arsenio sudah lebih dulu menahan nya.
"Tuan Arsen, ada apa?" tanya Daviena.
"Malam ini, tidurlah bersama ku." ucapnya.
Daviena hendak menolak nya, tetapi Arsenio sudah lebih dulu menutup bibirnya dengan jari telunjuknya "Tidak ada penolakan." ucapnya, kemudian membawa gadis itu ke kamarnya.
Di dalam kamar Arsenio, Daviena merasa gelisah. Dia takut pria itu akan kembali menggagahi nya, sudah lama Arsenio tak menyentuh gadis itu.
"Ada apa dengan ekspresi mu itu? kau terlihat gelisah, apa kau takut aku akan menggagahi mu?" ucapnya menyeringai.
Gadis itu tersentak, bagaimana Arsenio mengetahui isi pikiran nya saat ini. Daviena menundukkan kepalanya, Dia Benar-benar takut Arsenio kembali menggagahi nya.
"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan mengagahimu... kemarilah, tidurlah di sebelah ku." ucapnya.
Daviena hanya diam, haruskah Dia tidur bersama pria itu. "Daviena, jika kau tidak kemari sekarang juga... maka aku tidak memiliki pilihan lain, selain menghukum mu, atau ibumu." ucapnya mengancam.
"J-jangan, baiklah aku akan tidur bersamamu." ucap Daviena.
Gadis itu langsung menghampiri Arsenio, Dia membaringkan tubuhnya di sebelah mafia itu. mata mereka saling bertemu, wajah Daviena memerah saat melihat Arsenio. saat ini wajah mafia itu terlihat begitu dekat dengan nya, nafas Arsenio bahkan dapat dirasakan nya.
"Kenapa kau terus melihat ku? apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" ucapnya.
"T-tidak ada." ucapnya malu.
Daviena langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Arsenio, mafia itu dengan jahilnya meniup bagian belakang telinga Daviena hingga membuat gadis itu bergidik.
Arsenio terkekeh, sepertinya tidak ada salahnya jika Dia sesekali menjahili gadis mungil itu "Daviena, ada sesuatu yang harus kau ketahui... sebenarnya, saat ini aku ingin menyentuh tubuhmu." ucapnya berbisik di telinga Daviena.
Daviena sontak langsung terbangun, dan menjauhi pria itu. Arsenio tertawa melihat nya, seperti nya Dia berhasil membuat gadis itu merasa panik.
__ADS_1
"Aku bercanda, kau tidak perlu sepanik itu." ucapnya sedikit tertawa.