
Reyana ikut sarapan bersama putrinya, wanita itu duduk di samping Daviena. Arsenio memperhatikan interaksi keduanya, tampak Daviena terlihat lebih ceria "Tuan Arsen, terimakasih karena anda sudah menjaga putri saya dengan baik. saya sempat khawatir jika Daviena Benar-benar menjadi Lac*r di tempat itu." ucapnya.
Daviena yang mendengarnya merasa sedih, jika ibunya tahu kalau ternyata Arsenio tidak beda jauh dengan pria di luar sana, wanita itu pasti akan Benar-benar sangat kecewa padanya maupun Arsenio. apalagi, saat ini dirinya sudah tidak suci lagi.
"Ibu, saat kau berada di rumah bordil. apa mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu?" tanya Daviena. Reyana menatap sendu putrinya.
"Daviena, maafkan ibu ya... ibu, Benar-benar sudah kotor. saat berada di sana, ibu di jadikan alat pemuas nafsu, hiks... maafkan ibu, Daviena."
Gadis manis itu memeluk ibunya dan berusaha menenangkan nya, "Itu bukan salah ibu, sudah jangan menangis. sekarang tidak ada yang akan menyakiti ibu lagi, Aku akan melindungi ibu."
...****************...
"Tuan Arsen, apa anda tidak bekerja hari ini?" tanya Daviena. saat ini Dia dan Arsenio sedang berada di taman belakang mansion, mafia itu menyeruput secangkir kopi dengan ditemani sebuah koran.
Bukannya menjawab pertanyaan Daviena, mafia itu malah membicarakan hal lain "Daviena, aku sudah membawa kembali ibumu. jadi, mulai sekarang kau harus menuruti semua Kata-kataku. kau tidak melupakan hal itu kan?" menyeringai. Daviena tersentak, sesaat kemudian Dia menunjukkan raut wajah yang terlihat kesal.
"Ck, baiklah, aku akan menuruti semua Kata-katamu. namun jangan pernah mengatakan apapun pada ibuku mengenai hubungan ini."
"Maksudmu hubungan antara tuan dan peliharaan nya," tersenyum mengejek. Daviena Benar-benar ingin sekali menghancurkan wajah itu, namun sayangnya Dia tak dapat melakukan apapun untuk saat ini.
"Tuan Arsen, bisakah anda melepaskan kalung ini dari leherku. ibuku selalu memperhatikan kalung ini, cepat atau lambat Dia pasti akan menanyakan nya padaku."
"Jika Dia bertanya, kau bisa mengatakan itu adalah hadiah dariku, mudah kan." jawabnya santai.
"Jika aku menjawabnya seperti itu, Dia pasti akan kembali bertanya kenapa pria seperti mu memberikan gadis seperti ku sebuah kalung hewan... ibuku akan mulai menyadari jika aku dan kau memiliki suatu hubungan yang tidak seharusnya. lalu Dia akan tahu jika putrinya ini adalah sebuah alat pemuas nafsu," ucapnya sedih.
Arsenio tampak tidak peduli, mafia itu kembali membaca korannya dan mengabaikan Daviena. "Tuan Arsen, apa kau Benar-benar tidak mau melepaskan kalung ini dariku?"
"Ya, lagi pula itu terlihat cantik di leher mu." jawabnya.
Daviena menghela nafasnya, percuma saja Dia membicarakan hal ini dengan Arsenio, pria itu sama sekali tidak mau melepaskan kalung hewan yang melingkar di lehernya.
__ADS_1
...****************...
Reyana menatap bingung dua insan di depannya, saat ini Arsenio duduk berdekatan dengan Daviena. sedangkan gadis itu tampak sedikit risih "Tuan, bisakah anda duduk berjauhan denganku. sofa nya masih luas," bisiknya ke arah telinga Arsenio, Dia tidak mau ibunya sampai mendengarnya.
"Ini mansion ku, apa hak mu mengatur ku di tempat tinggal ku sendiri." ucapnya santai.
"Apa yang sebenarnya tengah kalian bicarakan?... tuan Arsen, apa yang Daviena katakan padamu?" tanya Reyana penasaran.
"Ibu, itu bukan sesuatu yang penting, jadi abaikan saja ya." ucapnya.
"Daviena, apa yang kau katakan pada tuan Arsen?" ibunya kembali bertanya.
"I-itu... " sebelum Daviena dapat menyelesaikan semua Kata-katanya , Arsenio sudah lebih dulu memotongnya. "Kami hanya membicarakan tentang pekerjaan untuk mu," bohongnya.
"Pekerjaan?"
"Bagaimana, jika anda bekerja di mansion ini, Bu Reyana?" Arsenio menawari wanita itu pekerjaan.
"Anda bisa tinggal di sini jika bekerja menjadi salah satu maid di mansion ini, anda pasti juga membutuhkan uang kan?"
...****************...
Reyana memulai pekerjaannya hari ini juga, Dia berpakaian seperti seorang maid. wanita itu begitu telaten membersihkan lantai dan kaca. "Tuan Arsen, bolehkah aku membantu ibuku bekerja?" tanya Daviena.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan dengan kakimu yang terluka," tersenyum mengejek. gadis manis itu menggembungkan pipinya kesal.
"Ibumu akan menolak bantuanmu jika kau bersikeras ingin membantunya, Dia juga akan khawatir pada kedua kakimu itu."
Daviena terus memperhatikan ibunya, gadis itu tersenyum karena akhirnya ibunya bisa bersamanya, mulai sekarang Dia akan menjaga dan melindungi ibunya. Arsenio terpesona melihat senyuman Daviena, Dia tidak pernah melihat senyuman semanis itu. bahkan jika diPikir-pikir lagi, Daviena tidak pernah sekalipun tersenyum padanya. "Daviena," panggilnya. gadis itupun menoleh.
"Ada apa?" tanya Daviena.
__ADS_1
"Senyuman mu begitu manis, ini pertama kalinya aku melihat senyuman mu. kenapa dari awal kau tidak menunjukkan senyumanmu ini padaku?"
"Bukankah kau hanya menyukai tangisanku, kau sendiri yang mengatakan nya. bahwa kau suka melihatku tersiksa." jawabnya.
"Itu memang benar, tapi sesekali kau harus memberikanku senyumanmu." ucapnya.
"Tidak mau, untuk apa aku tersenyum padamu. kau hanya bisa membuatku menangis," ujarnya kesal.
"Kau tidak mau menuruti Kata-kataku, Daviena ingatlah siapa yang membawa ibumu keluar dari rumah bordil itu. aku bisa saja menunjukkan sifat asli ku pada ibumu, agar ibumu tahu. bahwa putri kecilnya adalah seorang alat pemuas nafsu." menyeringai.
Daviena tersentak, Arsenio hendak pergi dari tempat itu. namun kedua tangan gadis itu menahannya. "Tuan Arsen, maafkan aku. tolong jangan beritahu ibuku. aku akan menuruti semua Kata-katamu," ucapnya, kedua mata gadis itu mulai Berkaca-kaca.
Arsenio tersenyum penuh kemenangan, Daviena saat ini Benar-benar terlihat sangat manis. "Baiklah, aku tidak akan memberitahu ibumu, dengan satu syarat. kau harus melayani ku menggunakan pakaian maid malam ini." ucapnya.
"A-apa, melayanimu dengan pakaian maid? tapi, itu memalukan." ucapnya pelan.
"Tuan Arsen, bagian bawah ku masih terasa sakit. bisakah anda memberikan syarat lain?"
"Tidak, jika kau tidak mau yasudah. jangan salahkan aku kalau sampai ibumu tahu yang sebenarnya alasan kau tinggal di sini." Arsenio begitu suka mempermainkan Daviena. hal itu dilakukannya agar membuat gadis manis itu tahu siapa yang berkuasa di mansion itu.
"Hahh, baiklah aku akan melakukan apa yang anda katakan." Daviena terlihat pasrah.
"Ah, aku sangat menantikan nya."
...****************...
Reyana menghampiri putrinya ketika Dia selesai menyapu halaman depan mansion itu "Apa ibu lelah? maaf ya, karena aku tidak bisa membantu ibu." ucapnya.
"Tidak Apa-apa sayang. oh iya, dari tadi ibu memperhatikan mu mengenakan kalung yang aneh, kalung itu mirip sekali dengan kalung hewan. dari mana kau mendapatkan kalung itu?" tanya sang ibu.
"Sudah kuduga ibu akan menanyakan tentang kalung ini, apa yang harus kukatakan padanya." batinnya yang mulai merasa gelisah.
__ADS_1
"Daviena, katakan pada ibu. dari mana kau mendapatkan kalung itu?" tanya Reyana sekali lagi.
"I-itu.... " gugup.