Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 44


__ADS_3

Gadis mungil itu menggembungkan pipi nya kesal, candaan Arsenio Benar-benar terdengar tidak lucu. candaan pria itu membuatnya merasa sedikit takut, Dia takut Arsenio Benar-benar akan menyentuh tubuhnya, dan memainkan nya lagi. membayangkan nya saja sudah membuat gadis itu bergidik takut.


"Tuan Arsen, bisakah kau tidak menjahili ku. kau membuatku merasa tidak nyaman tidur bersama mu." ucapnya.


"Ekspresi ketakutan mu itu benar-benar terlihat sangat lucu." ucap Arsenio.


Pria itu tersenyum mengejek ke arah Daviena, gadis manis itu memalingkan wajahnya, Dia merasa kesal karena telah dipermainkan oleh Arsenio.


"Hey, apa kau marah karena aku menjahili mu?" tanya Arsenio.


Bukannya menjawab, gadis manis itu hanya diam. Arsenio menghela nafasnya, sepertinya Dia telah membuat gadis itu merajuk.


"Kemarilah, ini sudah larut malam. kau maupun aku harus tidur. karena besok kita memiliki kesibukan Masing-masing." ucapnya.


"Aku akan tidur di kamarku," ucapnya pelan.


"Aku tidak mengizinkan mu keluar dari kamarku, malam ini kau harus tidur bersamaku." ucapnya memaksa.


Arsenio mendekati Daviena, lalu menarik tangan kanan gadis itu. Dia menjatuhkan tubuhnya bersama Daviena di atas tempat tidur, posisi Daviena saat ini berada di atas tubuh Arsenio. gadis itu berontak, Dia berusaha melepaskan dirinya dari Arsenio. tetapi kedua tangan pria itu menahannya sehingga Daviena tak bisa melepaskan dirinya.


"Diamlah, atau kali ini aku Benar-benar akan menyentuh tubuhmu." ucapnya dengan suara baritone nya.


Mau tidak mau gadis itu harus diam, Arsenio mengusap kepala Daviena dan menyuruh gadis itu untuk tidur. usapan lembut di kepala nya membuatnya mengantuk, perlahan gadis itu memejamkan kedua matanya. Daviena Benar-benar tertidur di atas tubuh pria itu.


"Semoga kau bermimpi indah, Daviena." ucapnya, kemudian mengecup dahi gadis itu.


Entah perasaan apa yang tengah di alami oleh Arsenio, terkadang Dia merasa senang saat Daviena tersenyum ataupun memikirkan nya. dan Dia begitu marah saat gadis itu Benar-benar ingin pergi darinya.


Apa yang kurang darinya? Arsenio mengurus, dan memperlakukan Daviena dengan sangat baik. mafia itu bahkan sudah jarang menghukum ataupun memperlakukan gadis itu dengan sangat buruk.


Tetapi Daviena masih ingin terbebas darinya. gadis itu belum tentu bisa bertahan dari kerasanya dunia di luar sana. bertahan hidup saja akan terasa sangat sulit.


"Aku tidak mengerti dirimu, padahal aku memperlakukan mu seperti berlian yang berharga. tetapi kau masih ingin pergi dariku, memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk bertahan hidup dari kerasnya dunia ini." gumamnya.

__ADS_1


Arsenio perlahan menurunkan Daviena dari atas tubuhnya, gadis itu sedikit menggeliat. tak lama kemudian Daviena secara Tiba-tiba memeluk Arsenio dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu. Dia sepertinya mencari kehangatan, karena suhu di kamar Arsenio terasa cukup dingin.


Pria itu terdiam sesaat, sampai akhirnya Dia membalas pelukan gadis itu. "Rasanya Benar-benar sangat nyaman." batinnya.


...****************...


Daviena terbangun di pagi hari, gadis itu meregangkan anggota tubuhnya berusaha mengumpulkan nyawanya. bangun di pagi hari memang Benar-benar terasa menyegarkan.


Dia tersadar, bahwa saat ini dirinya berada di kamar Arsenio. gadis itu menoleh ke arah sampingnya dan menemukan Arsenio yang masih tertidur lelap, wajahnya terlihat begitu tampan saat tertidur. tanpa sadar kedua pipi Daviena memerah.


Gadis itu cukup lama memperhatikan wajah tampan sang mafia bahkan kini Dia tak sadar, bahwa tangan kanannya menyentuh pipi kiri Arsenio.


"Begitu tampan." ucapnya tanpa sadar.


Arsenio merasakan sebuah usapan lembut di pipi kirinya, perlahan Dia membuka kedua matanya. pria itu memandangi Daviena yang masih tidak sadar dengan apa yang tengah dilakukan gadis itu saat ini.


"Sangat nyaman." ucapnya.


Daviena tersentak, Dia langsung menjauhkan tangan kanannya dari pipi kiri sang mafia. gadis itu menundukkan kepalanya, wajahnya kian memerah.


"Kau memperhatikan wajahku hingga melamun seperti itu." ucap Arsenio terkekeh.


"M-maafkan aku." ucapnya pelan.


"Tidak perlu meminta maaf... kau boleh menyentuh wajahku lagi, usapan mu begitu lembut, dan sangat nyaman." ucapnya, Arsenio membawa tangan kanan Daviena menyentuh pipi kirinya lagi. Dia ingin merasakan usapan lembut itu sekali lagi.


Gadis itu hanya menurut, Dia kembali mengusap pipi kiri Arsenio. pria itu begitu menikmati usapan lembut tersebut, Dia merasa seperti menjadi anak kecil lagi. karena, dulu ibunya sering kali mengusap kedua pipinya saat Dia merasa sedih. usapan itu untuk menghapus Air mata Arsenio. namun seiring waktu Dia tidak pernah menangis lagi dan mendapatkan usapan lembut itu.


Daviena merasa seperti mengusap seekor anak kucing, Arsenio begitu tenang saat dirinya mengusap lembut pipi pria itu.


"Aku jadi mengantuk." ucapnya.


"Tuan Arsen, anda maupun aku harus segera bangun. hari ini kita memiliki kesibukan Masing-masing." ucapnya.

__ADS_1


Mendengar hal itu Arsenio segera menuju ke arah kamar mandi, sedangkan Daviena pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan Arsenio. mereka memulai aktivitas pagi seperti biasanya.


...****************...


Di sekolah, Daviena tidak sengaja berpapasan dengan Louis dan Bianca. Louis segera bertanya apa yang terjadi pada gadis itu kemarin hingga membuatnya tak bisa masuk sekolah.


"Kenapa kemarin kau tidak masuk sekolah?" tanya Louis.


"Kemarin aku hanya sedikit demam, itulah mengapa aku tidak bisa masuk sekolah." jawabnya.


Bianca yang berada di samping Louis menatap sinis Daviena, Dia Benar-benar tidak suka melihat ataupun bertemu dengan gadis itu. Daviena yang menyadarinya hanya bisa menghela nafasnya.


Dia lalu berjalan meninggalkan sepasang kekasih itu, gadis itu tidak mau semakin memperburuk suasana. tetapi baru saja akan pergi, tangan kanan Daviena sudah lebih dulu ditahan oleh Louis.


"bagaimana kalau kita ke kelas bersama." ucap Louis.


"Maaf, tapi aku hanya ingin ke kelas sendirian." ucapnya.


"Eeh, kenapa?"


Bukannya menjawab, gadis itu malah menatap tajam Louis seakan mengatakan "Ada kekasihmu di sini."Louis segera mengerti kenapa Daviena tak mau ke kelas bersamanya, pasti karena ada Bianca di sampingnya.


Daviena, dan dua pria yang menjaganya pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Dia memasuki kelasnya dan mendudukkan dirinya di kursinya, melihat Bianca tadi membuat nya sedikit kesal. ekspresi gadis itu sangat terlihat bahwa Dia tidak menyukai Daviena.


"Lebih baik aku mengindari Louis dan gadis itu, jangan sampai aku mendapatkan masalah Karena berurusan dengan mereka berdua." gumamnya.


Daviena mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas ranselnya, sebelum bel masuk sekolah berbunyi. akan lebih baik jika dirinya menghabiskan waktu untuk membaca.


Saat asik membaca buku, Tiba-tiba saja ada Louis yang datang menghampiri nya "Daviena, sepertinya kau sangat suka membaca buku ya." ucap Louis. Dia mengambil buku yang sedang dibaca oleh Daviena.


"Louis apa yang kau lakukan!, kembalikan buku ku!" ucapnya kesal.


"Ambil saja jika kau bisa." tersenyum mengejek.

__ADS_1


Tubuh yang kecil membuat Daviena kesulitan merebut buku itu. dua pria yang menjaga gadis itu lantas segera membantunya.


__ADS_2