Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 36


__ADS_3

Hati dan perasaan sang mafia sudah sangat tertutup rapat, Dia bersumpah tak akan membuka hatinya untuk wanita manapun. karena menurutnya, wanita adalah makhluk rendahan yang hanya dijadikan sebagai alat pemuas nafsu pria.


Ponselnya Tiba-tiba berdering, ketika melihat layar ponselnya tidak ada nama siapapun yang tertera di sana "Ck, Lagi-lagi hanya orang iseng," ucapnya kesal. ini sudah yang kedua kalinya Arsenio mendapatkan panggilan dari orang asing. Dia segera memblokir nomor tersebut.


Di tempat lain, seorang wanita menggerutu kesal, karena sedari tadi orang yang Dia hubungi tidak mengangkat panggilannya, "Dia memblokir nomor ponselku lagi, Arsen... kau membuatku kembali Tergila-gila padamu." wanita itu tersenyum.


Wanita itu adalah Gretha, ini sudah yang kedua kalinya Dia mencoba menghubungi mantan kekasihnya, tetapi Lagi-lagi Arsenio memblokir nomor ponselnya. Gretha masih menginginkan Arsenio kembali kepelukan nya, wanita itu kembali ke tempat kelahirannya hanya untuk Arsenio.


Dia akan membuat mafia itu jatuh hati padanya, lalu setelahnya Gretha pasti bisa memiliki nya kembali. walaupun itu mungkin akan sangat sulit, karena Arsenio yang sekarang bukanlah Arsenio yang dulu.


Dulu, Arsenio memang seperti anak anjing yang patuh pada pemiliknya. tetapi sekarang, Dia seperti seekor serigala liar yang siap memangsa Hewan-hewan di sekitarnya.


...****************...


Matahari pagi masuk melalui jendela kamar Daviena, gadis itu perlahan membuka kedua matanya. Dia kemudian meregangkan anggota tubuhnya "Segar sekali, bangun di pagi hari." ucapnya. ketika dirinya menoleh ke arah sisi kirinya, Dia menemukan sang mafia sedang menatapnya dengan senyuman.


"T-tuan Arsen, sejak kapan Anda ada di sini?" ucapnya.


"Hmm, sudah cukup lama. sekitar pukul 05 : 00 pagi," jawabnya.


"Eeh, kenapa tuan datang ke sini di pagi hari?"


"Aku hanya ingin melihat wajahmu saat tidur, Benar-benar sangat manis." ucapnya. kedua pipi Daviena memerah.


"Hahaha, lihatlah kedua pipimu. itu memerah seperti buah tomat," ejek nya.


"T-tuan, jangan mengejekku." ucap Daviena.


"Apa kau merasa malu? Daviena." ucapnya.


Daviena tak menjawab pertanyaan Arsenio, Dia bangkit dari tempat tidurnya dan pergi ke kamar mandi. gadis itu langsung menutup pintu kamar mandi nya. Arsenio terkekeh melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Cepatlah mandi, aku akan menunggumu di ruang makan." ucapnya, kemudian pergi dari kamar Daviena.


Sementara itu di dalam kamar mandi "Astaga, itu membuatku sangat malu. kenapa Dia harus melihat kedua pipiku yang memerah." ucapnya.


Di ruang tamu, Reyana dan para maid sudah menyiapkan sarapan untuk Arsenio dan Daviena. sang mafia menyeruput kopi hitamnya dengan ditemani sebuah koran. pagi ini banyak sekali artikel mengenai tentang pembunuhan, kebanyakan dari para korban itu adalah Orang-orang yang berasal dari golongan atas yang pernah menjalin kerjasama dengan Arsenio.


"Ini pasti perbuatan Dillon, cih... Dia selalu saja menghabisi Orang-orang yang bekerjasama denganku," batinnya.


Tak lama kemudian Daviena datang menghampiri nya, Dia duduk bersebrangan dengan Arsenio. "Daviena, sebenarnya tadi pagi Ibuku menghubungi ku. Dia memintaku untuk membawamu ke sana, Dia ingin menemuimu." ucapnya.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan?" tanya Daviena.


"Aku akan membawamu ke sana, kau harus Berpura-pura lagi menjadi kekasihku."


"Tapi... "


"Daviena, ibukku sepertinya sangat menyukaimu. Dia bahkan sampai mengancamku, jika aku tidak membawamu ke sana hari ini. Dia pasti akan mencoret namaku dari keluarga Vincent." ucap Arsenio.


"Sudah ku katakan jangan tertipu dengan sikap manisnya, Dia adalah wanita yang cukup berbahaya. ayahku pun merasa takut padanya."


"Hahh, baiklah aku akan ke sana bersamamu." ucapnya pasrah.


Setelah sarapan, Arsenio membawa gadis itu ke mansion utama keluarga Vincent. sepanjang perjalanan Daviena hanya diam sambil menatap luar jendela mobil. Arsenio sesekali melirik nya.


Setibanya di tempat tujuan, mereka disambut oleh kedua orang tuanya Arsenio di halaman depan mansion. Emira segera menghampiri Daviena yang baru saja keluar dari mobil "Menantuku akhirnya kau datang juga." wanita itu memeluk tubuh mungil si gadis manis.


Arsenio yang melihatnya hanya bisa menghela nafasnya, kenapa ibunya bertingkah sangat berlebihan. "Daviena, ayo masuk. ibu sudah menyiapkan sesuatu yang enak untuk mu." ucapnya tersenyum.


"Ibu, kau tidak melupakan putramu ini kan." ucap Arsenio yang mulai merasa jengah.


"Sejak kapan aku memiliki seorang putra?" ucap Emira.

__ADS_1


"Apa sekarang kau sudah tidak menganggapku lagi sebagai putramu? kalau begitu aku akan membawa Daviena pulang, untuk apa kami datang ke sini. Membuang-buang waktu kami saja... ayo Daviena." Arsenio hendak membawa Daviena pergi.


"Hey, ibu hanya bercanda. kenapa kau terlihat sangat kesal." ucap Emira.


"Candaan mu Benar-benar tidak lucu ibu, jika memang ibu Benar-benar tidak menginginkan ku lagi. ibu bisa mencoret namaku dari daftar anggota keluarga Vincent." ucapnya kesal.


"Arsen, ibumu tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu, jangan menganggapnya terlalu serius. Dia hanya bercanda." ucap Javier.


Arsenio terlihat begitu kesal, Dia mengabaikan semua ucapan ayahnya "Aku akan menunggu di mobil, Bersenang-senang lah dengan wanita tua itu."


Daviena segera memeluk tubuh Arsenio dari belakang, gadis itu tidak mau masuk ke dalam mansion tanpa sang mafia "Aku tidak mau di tinggal sendirian," ucapnya memelas. raut wajahnya terlihat sedih.


"Wanita itu menginginkan mu masuk." ucap Arsenio.


"Aku tidak mau masuk tanpamu."


Daviena mencoba bersikap layaknya seperti seorang kekasih, agar Emira dan Javier tidak mencurigainya. "Aku tidak mau masuk ke dalam mansion orang tuamu tanpa kehadiran mu." ucapnya.


"Hahh, Arsen ayo masuk dan ajak Daviena, sepertinya Dia Benar-benar tidak mau jauh darimu." ucap Emira.


"Aku hanyalah orang asing dikeluarga Vincent, jadi untuk apa aku masuk." ucapnya.


"Arsen, kau kesal dengan ucapan ibu? ibu Benar-benar tidak bermaksud begitu, walau bagaimana pun kau tetaplah putra kami. maafkan ibu sudah membuatmu merasa kesal." Emira mendekati putranya, lalu kedua kanannya menangkup wajah tampan Arsenio.


"Ibu hanya terlalu senang karena setelah sekian lama akhirnya ibu bisa memiliki seorang menantu. dan sebentar lagi kalian akan segera menikah, ibu hanya ingin Daviena terbiasa dengan ibu. itu sebabnya ibu terus memperhatikan nya." ucapnya.


"Ku pikir ibu Benar-benar sudah tidak menginginkan ku lagi, karena aku selalu membuat ibu, dan ayah merasa sangat kesal." ucap Arsenio.


"Arsen kau adalah putra Kami dan Satu-satunya kebanggaan kami. mana mungkin kami memperlakukan mu seperti itu, kau adalah anak kesayangan kami." ucap Emira.


"Walaupun sikapmu sangat menyebalkan, kau adalah Satu-satunya penerus keluarga Vincent. selain itu, kakekmu akan menghukum ayah jika sampai Dia tahu, bahwa kami tidak memperlakukan mu dengan baik... ayah maupun ibumu bisa mendapatkan masalah dari kakek mu."

__ADS_1


__ADS_2