
Daviena terbangun dari tidurnya sekitar pukul 11 : 00 siang, saat ini dirinya tengah menatap luar dari balkon kamarnya. entah kenapa memikirkan tentang pernikahannya dan Arsenio membuat kepalanya sedikit pusing.
Dia pikir setelah memberitahukan kebenarannya, Dia dan ibunya akan terbebas dari mansion ini. tetapi ternyata malah memperburuk keadaan. sekarang Dia sudah pasrah bila pernikahan itu Benar-benar terjadi.
Pintu kamarnya terbuka, memperlihatkan Reyana yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Daviena." panggil nya.
Gadis itu menoleh saat namanya di panggil, Daviena menghampiri ibunya. dirinya dapat melihat bagaimana ekspresi ibunya yang berbeda dari biasanya. "Ada apa, ibu?" tanya gadis itu.
"Semalam, apa yang kau lakukan bersama tuan Arsen?" tanya Reyana.
"Kami... kami tak melakukan apapun, ibu." ucapnya sedikit gugup.
"Kalian pergi ke mana semalam? kenapa kalian baru kembali di pagi hari?" Reyana kembali bertanya.
Daviena terdiam sambil menundukkan kepalanya, jika Dia berkata bahwa dirinya dan Arsenio pergi ke hotel semalam. wanita itu pasti akan semakin mencurigai nya.
"Daviena, Jawab pertanyaan ibu!" ucapnya sedikit meninggikan nada bicaranya.
Lagi-lagi Daviena hanya bisa diam, Reyana kembali mengulangi pertanyaan nya, tetapi kali ini dengan nada suara yang membentak. tubuh gadis itu bergetar saat ibunya membentak dirinya, tanpa sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya. gadis itu menangis dalam diam.
Tak ada satupun suara isak tangis Daviena, namun Reyana tahu kalau putrinya tengah menangis. Arsenio yang melewati kamar Daviena, tanpa sengaja menyaksikan apa yang tengah terjadi. Dia lantas segera menghampiri Daviena, dan Reyana.
Pria itu mendekap tubuh Daviena untuk menenangkan nya, tatapan nya mengarah pada Reyana meminta penjelasan, apa yang telah terjadi.
"Kenapa kau membentak putri mu?!" ucapnya marah.
"Tuan Arsen, saya hanya meminta penjelasan nya." jawabnya.
"Penjelasan apa maksud mu?" ucap Arsenio tak mengerti.
"Semalam, anda dan Daviena pergi ke mana?... kenapa kalian baru kembali di pagi hari?" tanya Reyana. Arsenio yang paham pun segera menjawab nya.
"Semalam, Dia dan aku berada di hotel. tapi kau tak perlu khawatir, aku dan Daviena berada di dalam kamar yang berbeda. aku sengaja membawanya ke hotel untuk menghindari pembicaraan keluarga ku yang sedikit mengganggu." jawabnya.
__ADS_1
Daviena mendongak dan menatap Arsenio, Dia tak pernah terpikirkan jawaban seperti itu. Reyana menghela nafasnya, sepertinya Dia telah salah paham pada putri nya.
"Daviena, maafkan ibu karena sudah membentak mu. ibu pikir kau melakukan sesuatu yang buruk dengan tuan Arsen." ucapnya merasa bersalah.
"Tidak Apa-apa, seharusnya aku memberitahu ibu. tetapi mendengar ibu membentak ku itu membuatku sedikit takut, aku bahkan tak sempat menjelaskannya." ucap Daviena.
"Sekali lagi maafkan ibu, kalau begitu ibu keluar dulu ya, masih banyak pekerjaan yang harus ibu selesaikan." ucap Reyana.
Daviena hanya menganggukkan kepalanya, Reyana lalu keluar dari kamar putrinya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Daviena berterimakasih pada Arsenio karena sudah membantunya. walaupun bantuan itu adalah sebuah kebohongan.
"Kau begitu takut, ibumu mengetahui kebenarannya?" tanya pria itu.
"Iya, aku sungguh takut. ibu mungkin akan kecewa jika tahu yang sebenarnya." ucapnya lirih.
"Sepertinya kita memang harus segera menikah, agar ibumu tak perlu mencurigai kita lagi." menyeringai.
Wajah Daviena bersemu merah, Arsenio yang melihat nya pun terkekeh. calon istrinya itu Benar-benar terlihat sangat manis.
Di tempat lain, lebih tepatnya di mansion keluarga Xavier. saat ini Louis tengah memikirkan Daviena, hari ini gadis itu tak masuk sekolah, itu membuat Louis Bertanya-tanya. apa yang terjadi pada Daviena hingga membuatnya tak bisa masuk sekolah.
Dia bahkan mengabaikan kekasihnya di sekolah. di pikirannya hanya ada Daviena, entah kenapa seharian tak melihat gadis itu membuat nya sedikit khawatir dan gelisah.
"Ku harap tidak terjadi sesuatu padamu, Daviena." gumamnya.
Di jam makan siang, Daviena dan ibunya memasak untuk anggota keluarga Vincent. Leofric mendekati Daviena untuk melihat bagaimana gadis itu memasak. "Apa kau yang selalu membuatkan makanan untuk Arsen?" tanya Leofric.
"I-iya, tuan Leofric." jawabnya.
"Panggil aku, kakek saja. karena sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga Vincent." ucapnya.
Gadis itu mengangguk, Leofric kembali ke meja makan dan hendak mencicipi beberapa menu hidangan makan siang yang tersaji di atas meja makan, sebelum mengambil salah satu hidangan tersebut. Arsenio sudah lebih dulu menepis tangan kanan kakek nya, bahkan Dia memberikan tatapan tajam.
"Kenapa kau menepis tangan kakek, Arsen?" tanya Leofric.
__ADS_1
"Jangan seenaknya mencicipi, sebelum Daviena dan ibunya selesai memasak." ucapnya kesal.
"Kakek hanya ingin mencicipi nya sedikit." ucapnya.
"Pokoknya tidak boleh." ucap Arsenio.
"Kau ini pelit sekali, biasanya kau tidak peduli siapa yang memasak untuk mu... Ah, apa karena calon istri mu yang memasak, jadi kau tak suka bila kakek, dan kedua orang tuamu ikut merasakan makanan buatan calon istri mu." ucapnya menyeringai.
Arsenio mengerutkan alisnya, kesal. Leofric terkekeh, sepertinya Dia berhasil membuat cucu kesayangan nya itu merasa kesal. melihat sikap Arsenio yang sekarang membuatnya yakin, bahwa cucu nya itu memiliki ketertarikan pada Daviena.
Kini semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan, satu persatu mereka mengambil hidangan tersebut. Arsenio menatap tajam kakek nya, saat pria berusia lanjut itu hendak mengambil makanan favorit nya.
"Kakek, ini adalah milikku. Daviena membuatkan ini khusus untuk ku." ucapnya.
"Ah, benarkah... Daviena?" menatap Daviena. yang ditatap hanya bisa diam.
"Daviena, kau membuatkan ini untuk ku kan?" tanya Arsenio.
"I-iya, aku memang sengaja membuatkan makanan itu untuk tuan Arsen." jawabnya.
"Kakek dengar sendiri kan. jadi makanan ini adalah milikku." ucapnya, mengambil paksa hidangan tersebut.
"Baiklah, itu milik mu. kakek tak akan mengambilnya." tersenyum.
"Daviena, bukankah kami sudah memberitahu mu. untuk tidak memanggil Arsen dengan sebutan, Tuan. kenapa kau tak memanggilnya dengan sebutan, Kekasih ku. dan bila perlu kau juga bisa memanggilnya dengan sebutan Suamiku, itu pasti akan terdengar sangat romantis." ucap Emira.
Kedua pipi Daviena, dan Arsenio bersemu merah. Javier yang melihat nya hanya bisa tertawa, putranya dan calon menantunya Benar-benar terlihat sangat lucu. ini adalah salah momen yang paling langka terjadi pada Arsenio.
"Arsen, pipimu memerah. apa kau merasa malu karena ucapan ibu mu?" ucap Javier.
"Kau tak perlu merasa malu Arsen. lihatlah, kau dan Daviena Benar-benar terlihat sangat lucu, rona merah di pipi kalian terlihat sangat jelas." ucapnya.
Arsenio memalingkan wajahnya, sedangkan Daviena menundukkan kepalanya. hal tersebut berhasil membuat Leofric tertawa. "Kenapa kau tidak berterus-terang saja, bahwa kau itu tertarik padanya, Arsen. kau tak perlu menyembunyikan perasaan mu lagi... karena semua orang, bebas menyukai orang lain." ucap Leofric.
__ADS_1