Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 40


__ADS_3

Arsenio menggeram marah setibanya mereka di mansion, alasannya tak lain adalah kehadiran wanita itu, Gretha. wanita itu saat ini berada di mansion nya, entah apa yang Dia lakukan di sana. itu membuat Arsenio merasa tidak nyaman, dan risih.


Daviena yang tak tahu Apa-apa hanya bisa diam, namun melihat Arsenio yang sepertinya merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita itu membuatnya berpikir, apa hubungan Arsenio dengan wanita itu.


"Gretha! untuk apa kau datang ke mansion ku!?" ucapnya sedikit meninggikan nada suaranya.


"Aku datang ke sini karena merindukan mu, Arsen." ucap Gretha, wanita itu mendekati Arsenio dan hendak memeluknya.


Tetapi dengan kasar Arsenio menampar pipi kiri Gretha hingga membuatnya terjatuh, Gretha memegangi pipi kirinya yang terasa panas. tamparan mafia itu ternyata tidak Main-main, bekas tamparan itu bahkan terlihat jelas di pipi tirus nya.


"Arsen, kau berani menamparku." ucapnya sedih.


"Cepat tinggalkan mansion ini, sebelum aku memanggil bawahan ku untuk mengusir mu." ucapnya datar.


"Tapi aku adalah calon istrimu, kenapa kau tega mengusirku." ucap Gretha.


Arsenio tertawa, apa Gretha sedang bermimpi di siang hari "Mimpimu terlalu jauh Gretha, mana mungkin kau menjadi calon istriku. ibu, dan ayahku saja sudah muak melihat wajahmu." ucapnya menyeringai.


"Kenapa kau tidak mau memaafkan kesalahan ku, Arsen. berikan aku kesempatan kedua, untuk memperbaiki semuanya." ucap Gretha.


"Anggota keluarga Vincent tak pernah memberikan siapapun kesempatan kedua." ucapnya dingin.


Gretha mengepalkan kedua tangannya, matanya tak sengaja menangkap sosok seorang gadis yang berdiri di belakang Arsenio. gadis itu tak lain adalah Daviena, sedari tadi Dia hanya diam menyaksikan kejadian tersebut. Gretha menatapnya tajam, pikirannya mengatakan bahwa Daviena sepertinya memiliki suatu hubungan dengan Arsenio.


"Siapa gadis itu? Arsen." tanya Gretha.


"Ah, kau ingin tahu siapa gadis ini? akan ku beritahu, Dia ini adalah pengganti mu Gretha." ucapnya menyeringai.


Gretha membulatkan matanya tak percaya, bagaimana Arsenio bisa terpikat dengan wanita lain, selain dirinya. itu bisa dikatakan hal yang sedikit mustahil, karena Arsenio sulit sekali tertarik apalagi jatuh cinta pada orang lain.


"Tidak mungkin!... selama ini kau hanya mencintai ku, tapi kenapa sekarang kau menggantikan ku." ucapnya.

__ADS_1


"Bukankah sudah pernah ku katakan bahwa aku tidak lagi mencintai mu,... gadis ini sekarang adalah kekasihku, kami bahkan tinggal bersama." ucap Arsenio.


Mafia itu melingkarkan tangan kanan nya di pinggang Daviena, hal tersebut mengundang kecemburuan Bianca. wanita itu hendak menyerang Daviena, tetapi Arsenio sudah lebih dulu melindungi gadis itu.


"Aku tidak akan membiarkan mu menyakiti kekasih kecilku." ucapnya.


Kebencian mulai terpancar di mata Gretha, gadis itu telah merebut Arsenio darinya "Memangnya apa yang istimewa darinya, aku bahkan lebih cantik dan sempurna, hanya aku yang pantas menjadi kekasih mu."


"Penampilan tak selalu dapat menarik perhatian seseorang, seharusnya kau bercermin. wajahmu bahkan tak semanis Daviena, dan sifatmu bahkan tak selembut malaikat kecilku ini." Arsenio menatap Daviena. wajah gadis itu memerah malu, Dia tidak menyangka Arsenio dapat berbicara seperti itu tentangnya.


Gretha sepertinya menanamkan kebencian pada Daviena, Dia Benar-benar tidak rela Arsenio menjadi kekasih gadis itu. Arsenio adalah miliknya, dan hanya Dia saja yang boleh memiliki pria itu.


"Aku Benar-benar akan menghancurkan gadis itu, awas saja!" ucapnya marah, wanita itu kemudian pergi meninggalkan mansion Arsenio. Dia harus memikirkan rencana agar Arsenio kembali jatuh kepelukan nya.


Arsenio dan Daviena memasuki mansion, mafia itu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. melihat Gretha membuatnya sedikit stress, kenapa wanita itu harus mendatangi mansion nya.


"Tuan Arsen, apa anda Baik-baik saja?" tanya Daviena khawatir.


"Sebenarnya siapa wanita itu, mengapa Dia mengaku sebagai calon istri anda?" tanya Daviena penasaran.


"Wanita itu, adalah orang yang pernah menghancurkan ku di masa lalu. Dia adalah mantan kekasih ku, Gretha." jawabnya.


Daviena sekarang mengerti, pantas saja Arsenio sangat tidak menyukai kehadiran wanita itu.


Malam harinya, setelah makan malam. Arsenio dan Daviena menonton televisi bersama, mafia itu terlihat seperti tidak fokus menonton. mungkin saja Dia masih memikirkan kejadian tadi sore, Daviena memegang tangan kiri Arsenio, membuat pria itu menoleh padanya.


"Tuan Arsen, anda masih memikirkan tentang wanita itu? sudah, lupakan saja. itu hanya akan menambah beban pikiran anda." ucapnya lembut. Arsenio tersenyum, kenapa tingkah Daviena bisa menjadi semanis ini.


"Apa kau mengkhawatirkan ku?" tanya Arsenio.


"T-tidak, untuk apa aku mengkhawatirkan mu. aku hanya takut jika kau marah itu akan berimbas padaku." Daviena memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Arsenio terkekeh, Dia tahu bahwa gadis itu sedang mengkhawatirkan nya. mafia itu mendekap Daviena dalam pelukan nya. "Jika kau terus bersikap semanis ini padaku, aku jadi tidak tahan ingin memakan mu." ucapnya menyeringai.


Daviena berontak, Dia tak mau lagi menjadi alat pemuas nafsu Arsenio. gadis itu bahkan menggigit tangan Arsenio agar pria itu mau melepaskan nya "Aakkhh!!!... kenapa kau menggigit tanganku?"


"Lepaskan aku!, aku tidak mau menjadi alat pemuas nafsumu." ucapnya gelisah.


"Tenanglah, aku hanya bercanda. lagi pula aku sedang tidak menginginkan hal itu." ucap Arsenio.


Karena tak mau diam akhirnya Arsenio terpaksa mendorong tubuh gadis itu hingga membuatnya jatuh terlentang di sofa, pria itu lalu mengukung tubuh mungil Daviena.


"Jika kau tak diam, aku Benar-benar akan memakan mu sekarang juga." menyeringai.


"J-jangan lakukan hal itu padaku," ucapnya takut.


Gadis itu menutup kedua matanya karena takut Arsenio akan kembali menjamah tubuhnya, Arsenio mengusap pipi kiri Daviena dengan lembut. Akhir-akhir ini Dia jarang sekali menyentuh tubuh Daviena, hasrat menggagahi wanita seakan lenyap dari pikiran nya. dan itu semua tergantikan dengan wajah manis Daviena, Dia ingin terus melihat wajah manis gadis itu. perlakuan manis Daviena membuatnya merasa nyaman.


"Buka matamu, biarkan aku melihatnya." ucap Arsenio.


Perlahan kedua mata gadis itu terbuka, mata mereka saling bertemu satu sama lain. " Seharusnya aku lebih teliti lagi saat melihat mu, ternyata matamu sangat indah." ucap Arsenio sedikit terpesona dengan mata Daviena.


Daviena menatap ke arah lain, wajahnya memerah karena pujian dari Arsenio. Arsenio terkekeh, gadis itu sepertinya tengah merasa malu. pria itu menyentuh bibir Daviena, Dia ingin sekali menciumnya. tetapi itu akan membuat gadis itu merasa terkejut jika Dia menciumnya secara Tiba-tiba.


"Aku ingin mencium bibirmu." ucapnya.


Daviena yang mendengarnya langsung membulatkan kedua matanya, Dia kembali menatap Arsenio. tatapan pria itu terus mengarah pada bibir nya, sepertinya Arsenio Benar-benar ingin menciumnya.


"Jika aku melarangnya untuk menciumku, Dia pasti Benar-benar akan sangat marah." batin Daviena.


"K-kau boleh menciumku, tapi tidak lebih dari sekedar ciuman." ucapnya pelan.


Arsenio langsung meraup bibir Daviena, gadis itu terkejut mendapatkan serangan mendadak dari pria di atasnya. mafia itu menciumnya sedikit kasar, itu membuat nya sedikit kewalahan.

__ADS_1


__ADS_2