
Di tempat lain, Gretha tengah memikirkan sebuah rencana untuk menghancurkan gadis itu. berani sekali Dia telah merebut Arsenio darinya, Gretha tak akan membiarkan Daviena sampai memiliki Arsenio seutuhnya. wanita itu akan memberikan pelajaran pada siapapun yang berani mendekati miliknya.
"Gretha, sejak kau kembali ke sini. ibu lihat kau selalu tampak kesal, apa ada sesuatu yang membuatmu merasa kesal?" tanya seorang wanita paruh baya, yang diketahui adalah ibu Gretha.
"Aku kesal pada seorang gadis yang berani mendekati Arsen ku!" ucapnya.
"Mungkin saja gadis itu hanyalah mainannya, sejak kau memutuskan hubungan dengan nya. Dia sering sekali menyewa para Lac*r untuk menemaninya, mungkin saja Dia melakukan hal itu karena membutuhkan sosok wanita di hidupnya.
Tapi tak ada satupun wanita yang pantas bersamanya, itu sebabnya Dia hanya menyewa wanita untuk satu malam saja." ucap ayahnya Gretha.
"Tapi Dia mengatakan bahwa gadis itu adalah kekasihnya, ayah." ucap Gretha.
"Dia pasti hanya berbohong, mana mungkin Dia bisa melupakan dirimu begitu saja, bukankah Arsen dulu sangatbmenyukai mu?" ucap sang ayah.
Gretha berpikir sejenak, yang dikatakan ayahnya itu ada benarnya juga. mungkin saja Arsenio sengaja menyewa gadis itu untuk dijadikan sebagai kekasih Pura-purannya, agar Gretha merasa sangat cemburu.
Daviena terlihat sedih, dirinya selalu saja mendapatkan kesialan. menjadi seorang budak mafia saja sudah cukup menyakitkan, apalagi sekarang Arsenio akan menikah nya. itu pasti akan membuat Hari-harinya terasa seperti berada di dalam Api Neraka.
Gadis itu merutuki dirinya sendiri yang terlalu lemah karena tak bisa melawan pria itu, Daviena ingin sekali terbebas dari jeratan nya. untuk keluar dari mansion saja Dia memerlukan izin dari Arsenio.
Saat Daviena tengah menatap dirinya sendiri di pantulan cermin kamarnya, dirinya melihat bahwa ada kesedihan di sana. kenapa Dia harus terlihat sangat menyedihkan di depan Arsenio. Dia dan Arsenio Sama-sama manusia biasa, harusnya Dia berani melawan pria itu.
Membayangkan bagaimana Arsenio menyakitinya, membuatnya sangat marah, kesal, dan membenci pria itu. "Aku harus belajar melawan pria itu, aku tidak mau Terus-menerus dipermainkan olehnya." ucapnya, mengepalkan kedua tangannya.
Arsenio tampak tak fokus mengerjakan pekerjaan nya, yang di pikirannya saat ini adalah Daviena. saat sarapan tadi gadis itu terlihat sedih, apakah Dia melakukan sesuatu yang salah? hingga membuatnya sedih.
"Arrrggghhh!... ini membuatku frustasi." ucapnya.
__ADS_1
Joseph yang melihat nya hanya menggelengkan kepalanya, tanpa diberitahu pun Dia sudah tahu bahwa Bos nya itu frustasi karena gadis itu.
Joseph sudah menebak, hal seperti ini pasti akan segera terjadi. sebab Akhir-akhir ini tingkah temannya itu sedikit berbeda dari biasanya, Arsenio jadi lebih sering memperlihatkan senyumannya, walaupun itu saat dirinya tengah berkomunikasi dengan Daviena melalui ponsel.
Mafia itu bahkan sudah jarang sekali terlihat di rumah bordil, sepertinya Arsenio begitu menyukai sosok Daviena.
...****************...
Saat jam istirahat kerja, Arsenio pulang ke mansion nya untuk melihat gadis itu. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Daviena, namun saat membuka pintu kamar gadis itu. Daviena terlihat sedang tidur, padahal ini sudah waktunya jam makan siang, tetapi gadis itu malah tertidur.
Melihat Daviena tertidur membuat Arsenio melupakan pertanyaan yang ingin Dia ajukan pada gadis itu. Arsenio begitu menikmati wajah tenang Daviena saat tidur, gadis itu Benar-benar terlihat tenang dan damai.
Daviena membuka kedua matanya saat merasakan tangan seseorang menyentuh pipi kirinya, gadis itu tersentak kaget saat melihat wajah Arsenio yang begitu dekat dengannya. wajah Daviena sedikit merona, tapi setelahnya Dia memalingkan wajahnya dengan tatapan tidak suka.
"Apa aku membangunkan mu?" tanya Arsenio.
Daviena kemudian keluar dari kamarnya, Arsenio segera mengikuti gadis itu. "Daviena, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." ucapnya.
"Kenapa kau pulang ke mansion?, bukankah kau masih memiliki banyak pekerjaan di perusahaan mu." ucapnya sedikit ketus.
"Kenapa kau berbicara ketus kepadaku? apa aku melakukan sesuatu yang salah padamu?" tanya Arsenio.
Daviena hanya menatapnya datar, Dia berjalan ke arah meja makan. di sana sudah ada ibunya yang menyiapkan makan siang untuk nya, di sana juga ada kakeknya Arsenio yang tengah menyeruput kopi hitamnya.
"Arsen, cepat sekali kau pulang. apa kau sudah mengerjakan semua pekerjaan mu di perusahaan?" tanya Leofric.
"Aku datang ke sini di jam makan siang, jadi tak masalah." jawabnya.
__ADS_1
"Kau begitu merindukan Daviena? Sampai-sampai kau rela pulang di jam makan siang." ucapnya menggoda.
"Kakek! berhentilah untuk menggoda ku." ucapnya kesal.
Leofric terkekeh, cucu nya itu ternyata mudah sekali marah jika menyangkut pautkan dengan Daviena. gadis itu mulai menyantap makan siangnya, sedangkan Arsenio terus menatapnya. itu mengundang pertanyaan di pikiran Leofric.
"Daviena, ada apa dengan mu? kenapa kau terlihat kesal? apa ini karena Arsen?" tanya Leofric Bertubi-tubi.
Daviena mengabaikan ucapan Leofric, gadis itu lebih memilih mengisi perutnya. saat ini Dia terlalu malas membahas tentang Arsenio. "Sepertinya nya benar, kaulah yang telah membuatnya kesal, Arsen." ucapnya.
"Memangnya apa kesalahan ku? kenapa Dia kesal padaku?" tanya Arsenio.
"Coba kau Ingat-ingat lagi, apa yang telah kau lakukan padanya tadi pagi. mungkin saja kau melakukan sesuatu yang membuat suasana hatinya buruk." ujar Leofric menyarankan.
Arsenio Tiba-tiba terpikirkan dengan percakapan tadi pagi saat bangun tidur, mungkinkah itu yang membuat gadis manisnya itu kesal dan marah.
"Hey, apa perkataan ku tadi pagi membuatmu tak nyaman?" tanya Arsenio.
Daviena segera bangun dari kursi nya dan pergi meninggalkan meja makan, gadis itu kembali ke kamarnya, Dia tak mau membicarakan hal tadi pagi dengan Arsenio. sebab Ada ibunya di sini. baru saja akan membuka pintu kamarnya, tangan kanan Arsenio sudah mencegahnya lebih dulu. Dia menyudutkan tubuh gadis itu ke dinding.
Daviena yang mendapatkan serangan Tiba-tiba dari pria itu, tak sempat menghindarinya. "Lepaskan aku, di bawah sana ada ibuku." ucapnya pelan.
Entah di mana keberanian gadis itu, nyalinya kembali menciut saat Arsenio menyudutkan nya. "Aku tidak peduli,... sekarang jawab pertanyaan ku. apa kau marah karena perkataan ku tadi pagi?"
Hening sesaat, sampai Daviena mengatakan... " Ya, aku kesal padamu karena ucapan mu tadi pagi." ucapnya menatap tajam pria di depannya.
Bukannya takut dengan tatapan gadis itu, Arsenio justru tertawa. Daviena terlihat seperti seekor anak kucing yang tengah merajuk. "Memangnya salah jika aku mengatakan, kau harus bisa memuaskan suamimu setelah menikah?" ucap Arsenio.
__ADS_1
Daviena mengepalkan kedua tangannya, memang tak salah jika seorang istri memuaskan suaminya. tetapi bagaimana jika sang suami hanya akan menganggap istrinya sebagai budak pemuas nafsu? mungkin itu akan menjadi sebuah masalah, sebab ikatan pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat dimainkan begitu saja.