Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 22


__ADS_3

Daviena terbangun dari tidurnya saat matahari pagi menyorot masuk ke dalam kamarnya. kedua mata gadis itu menyesuaikan cahaya yang masuk, Dia meregangkan persendian nya yang terasa kaku. Benar-benar terasa sangat menyegarkan bangun di pagi hari. Daviena bahkan sampai lupa jika saat ini ada sosok lain yang berada di sampingnya.


"Sudah bangun?" ucap Arsenio yang sedari tadi terus memperhatikan gadis itu.


"T-tuan Arsen, anda masih di sini? bukankah anda harus bekerja?" ucapnya.


"Ini masih pukul 06 : 11, aku masih memiliki banyak waktu." tersenyum.


Kedua pipi Daviena merona saat melihat pria itu tersenyum, Arsenio yang menyadarinya pun segera mengambil kesempatan itu untuk mencium bibir gadis itu. "Eummhh..." Daviena begitu terkejut mendapatkan serangan Tiba-tiba dari mafia itu. Dia berusaha berontak dan memukul dada bidang Arsenio. bukannya terlepas, ciuman itu malah semakin dalam.


Tubuh Daviena mulai melemah, Arsenio menciumnya terlalu lama hingga membuatnya hampir kekurangan oksigen. Arsenio yang menyadarinya pun segera melepaskan ciumannya. "Hahh... hahh... kenapa kau Tiba-tiba menciumku." ucap Daviena yang terlihat kesal.


"Aku tidak tahan melihat bibirmu itu, Benar-benar membuatku candu, Daviena." menyeringai.


" Dasar mes*m." ucapnya ketus. gadis itu menggembungkan pipinya kesal, Arsenio yang melihatnya menjadi gemas. Dia mencubit pipi kanan Daviena hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Aww, lepaskan sakit." ucapnya.


"Peliharaan ku ini Benar-benar sangat manis." ucapnya.


Arsenio menggendong tubuh Daviena, masuk ke dalam kamar mandi. "Hari ini kita mandi bersama... aku ingin menyentuh tubuhmu." ucapnya.


"T-tuan Arsen, bisakah kita melakukannya nanti malam saja." ucapnya pelan.


"Tidak!, aku ingin melakukannya sekarang juga. tenang saja, aku tidak akan menggunakan bagian bawahmu kali ini. tetapi aku akan menggunakan mulutmu." menyeringai.


"A-apa!" Daviena terkejut.


Arsenio melepas pakaiannya di depan gadis itu, Daviena langsung memalingkan wajahnya. "Apa Dia sama sekali tidak memiliki rasa malu." batinnya.


"Kenapa kau memalingkan wajahmu, bukankah kita sudah pernah melihatnya satu sama lain." tersenyum mengejek.


"T-tuan Arsen, aku masih belum terbiasa." ucapnya pelan. Arsenio juga membuka pakaian Daviena, gadis itu kembali terkejut "T-tuan Arsen, biarkan aku sendiri yang melepasnya." ucapnya, Daviena menahan tangan Arsenio yang berusaha melepaskan pakaiannya.

__ADS_1


"Kau diam saja dan biarkan aku yang melepasnya," ucapnya dengan suara baritone nya. "Jika kau menolak, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kan, Daviena." sambungnya.


Daviena akhirnya membiarkan Arsenio melepaskan pakaiannya, Dia memejamkan matanya saat menyadari bagian intim pria itu yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Sekarang, gunakan mulutmu dengan baik. jangan sampai mengenai gigimu, mengerti?"


"B-baik," ucapnya pasrah.


...****************...


Arsenio menggerakan bagian bawahnya di dalam mulut mungil Daviena, gadis itu meringis saat benda tumpul itu menyentuh tenggorokannya. Dia Benar-benar tidak mampu melawan, Air mata gadis itu terus turun membasahi pipinya.


"Aaahhh..." akhirnya Arsenio mencapai kenikmatannya, "Telan!" ucapnya tegas saat Daviena hampir memuntahkan cairan kental berwarna putih itu.


"T-tapi, tuan... " ucapnya terbata


"Kubilang telan!" menatap tajam Daviena, mau tidak mau gadis itu harus menelannya. Arsenio menyeringai puas saat gadis itu menelannya.


Gadis itu menutupi bagian depan tubuhnya dengan telapak tangannya, setelah menyabuni Daviena. Arsenio menyabuni dirinya sendiri lalu membasuh nya dengan Air.


Dia mengenakan handuk kimono pada tubuhnya dan Daviena, pria itu kemudian menggendong Daviena kembali kekamar. Arsenio menyiapkan pakaian untuk gadis itu. "T-tuan Arsen, aku bisa memakai nya sendiri." ucapnya.


"Tidak, aku akan membantumu memakai nya."


"Sebaiknya anda kembali ke kamar, bukankah anda juga harus memakai pakaian. aku bisa memakai nya sendiri." ucap Daviena.


"Kau yakin?"


Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban, Arsenio membiarkan Daviena mengenakan pakaian nya sendiri. sedangkan dirinya kembali ke kamar untuk memakai pakaiannya.


...****************...

__ADS_1


Saat ini mereka sedang sarapan, Daviena menyantap sarapannya dengan lahap. karena itu adalah sarapan buatan ibunya, Arsenio memperhatikan gadis itu. Daviena selalu tersenyum saat bersama ibunya, terkadang itu membuat Arsenio cemburu. kenapa Daviena tidak bisa tersenyum manis saat bersamanya? gadis itu hanya menangis saat bersama mafia itu.


Tanpa sadar, Arsenio mencengkam koran yang dipegangnya. tatapannya begitu menusuk, Daviena merasakan hawa di sekitarnya yang mulai berubah. ketika dirinya melihat Arsenio, gadis itu terkejut. melihat tatapan mafia itu yang Benar-benar sangat menusuk seperti seekor elang yang siap menerkam mangsanya. itu tatapan yang sama saat Arsenio menggagahi nya dengan kasar.


Daviena mengalihkan pandangannya ke arah lain, tubuhnya sedikit gemetar. Dia menyadari ada sesuatu yang aneh pada mafia itu. "Kenapa Dia menatapku seperti itu, apa aku melakukan kesalahan." batinnya,


"Bu Reyana, kau bisa pergi sekarang. bukankah kau masih memiliki banyak pekerjaan, biarkan Daviena menyantap sarapannya sendiri." ucapnya dengan nada bicara yang datar.


"Baik, tuan Arsen." Reyana pun pergi meninggalkan Daviena bersama mafia itu.


"Daviena, sepertinya kau sangat senang saat ibumu menyuapi mu. dan kau selalu tersenyum saat bersama ibumu."


"T-tuan Arsen, apa aku... melakukan suatu kesalahan." ucapnya pelan.


"Kau tidak melakukan kesalahan apapun. tetapi, kau membuat ku kesal." ucapnya dingin.


"Memangnya apa yang kulakukan hingga membuatmu kesal?" tanya Daviena.


"Kau selalu ceria saat bersama ibumu, apa kau lupa sedang berada di mana sekarang?... kau dan ibumu berada di mansion ku, neraka ku. seharusnya kau menderita, dan menangis. bukannya tersenyum saat aku tidak memintamu untuk tersenyum... kau tidak boleh tersenyum, saat aku tidak menyuruhmu. apa kau mengerti?"


"Tuan Arsen, Dia adalah ibuku. aku tidak mau Dia sampai mengkhawatirkan ku. ibuku akan khawatir jika aku tidak ceria seperti biasanya." ucapnya sedih.


"Aku tidak peduli, setiap kau tersenyum pada Orang-orang. maka aku akan menghabisi orang tersebut, itu berlaku untuk ibumu juga. setiap kematian yang kulakukan karena senyuman mu, itu semua akan menjadi kesalahanmu. kau tidak mau Orang-orang yang tidak bersalah mati hanya karena kau tersenyum pada mereka kan." menyeringai.


"Tuan Arsen, kenapa kau melakukan hal ini padaku!. apakah salah jika aku tersenyum pada Orang-orang termasuk ibuku?" ucapnya yang merasa tidak terima.


"Daviena, kau hanya boleh menunjukkan senyumanmu padaku. dan orang lain tak boleh sampai melihatnya." ucapnya dingin.


"Kau Benar-benar kejam, aku membencimu!" kedua mata gadis itu Berkaca-kaca.


"Menangislah Daviena, itu akan membuatku merasa sangat senang. aku sangat menyukai tangisan, jeritan kesakitan, bahkan senyuman mu. kau terlihat cantik dan menawan dalam ekspresi apapun." ucapnya tersenyum sinis.

__ADS_1


Daviena mulai terisak, Air matanya pun mulai berjatuhan. Arsenio tersenyum puas melihat pemandangan menyedihkan di depannya. menurutnya, Daviena terlihat begitu menyedihkan saat menangis. tidak ada rasa belas kasihan di dalam pria itu, melihat seorang wanita menangis Benar-benar menjadi hiburan untuk nya.


__ADS_2