
Pagi harinya Daviena merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di bagian intimnya. gadis itu meringis kesakitan saat mencoba untuk bangun dari tempat tidur. Dia bahkan sampai terjatuh karena tak kuat menyeimbangkan anggota tubuhnya.
"Seluruh tubuhku mati rasa, sepertinya Dia masih menggagahi ku saat aku dalam keadaan pingsan. Huhh, Dia Benar-benar kejam." ucapnya kesal.
Tubuhnya penuh dengan bercak merah dan kebiruan, bahkan di atas tempat tidurnya ada bercak darah bercampur dengan cairan putih milik Arsenio. gadis itu mengumpat kesal saat melihat Arsenio yang masih tertidur pulas.
Daviena melangkahkan kedua kaki nya perlahan menuju kamar mandi, gadis itu ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu. karena tubuhnya terasa begitu lengket akibat kegiatan panas mereka tadi malam.
Arsenio meraba tempat tidurnya dan tidak menemukan Daviena di sampingnya, Dia langsung terbangun dari tidurnya dan menatap sekeliling kamar itu.
"Di mana Dia?" ucapnya.
Tatapan Arsenio langsung mengarah ke kamar mandi saat mendengar suara Air dari sana. Dia langsung bangun dari tempat tidur, dan berjalan ke arah kamar mandi.
Ketika memasuki kamar mandi, Dia melihat Daviena tengah membersihkan tubuhnya. Arsenio mendekatinya dan langsung memeluk nya, Daviena yang mendapatkan pelukan secara Tiba-tiba pun menjadi terkejut.
"T-tuan Arsen." ucap Daviena.
"Seharusnya kau membangunkan ku, agar kita bisa mandi bersama." ucap Arsenio menggoda Daviena.
"Lepaskan aku, biarkan aku mandi sendiri. anda bisa mandi setelah aku." ucap Daviena yang mencoba melepaskan pelukan Arsenio.
"Aku tidak akan melepaskan mu, kita harus mandi bersama. dan tidak ada penolakan, sayang ku." ucapnya kembali menggoda gadis itu.
Daviena ingin sekali memukul wajah tampan Arsenio, agar pria itu tidak melakukan apapun seenaknya. tapi sialnya, saat ini Arsenio adalah pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Baiklah, kita bisa mandi bersama. tetapi, jangan melakukan sesuatu yang di luar batas. kita hanya mandi, apa kau mengerti." ucapnya ketus.
"Memangnya kenapa? bukankah kau sangat suka saat aku memanjakan anggota tubuhmu." ucap Arsenio.
__ADS_1
"Memanjakan katamu!, kau hanya membuat seluruh tubuhku sakit. terutama dibagian intim ku." Daviena menatap tajam Arsenio.
Arsenio terkekeh melihat istrinya yang mulai merajuk, Daviena selalu bisa membuatnya tersenyum. mungkin ini salah satu alasan, Dia sulit untuk melepaskan gadis itu.
"Istriku ini rupanya sedang merajuk, apakah suami mu ini terlalu kasar tadi malam?"
Daviena menggembungkan pipinya kesal, melihat hal itu membuat Arsenio tidak tahan untuk menciumi wajahnya. pria itu memberikan banyak kecupan di wajah Daviena.
"Tuan Arsen, hentikan!" ucapnya kesal.
"Hahaha, kau sangat menggemaskan sayang." ucap Arsenio.
...****************...
Emira, dan Reyana tengah mempersiapkan sarapan untuk anggota keluarga yang lainnya, terutama untuk sepasang pengantin baru. semalam, Emira dengan sengaja mengintip kegiatan panas putranya bersama menantunya di balik pintu kamar. tetapi itu tidak berlangsung lama, karena Javier Tiba-tiba saja datang dan membawanya pergi secara paksa dari kamar itu.
"Semalam mereka Benar-benar melakukannya, tapi sayang sekali. aku tak bisa menonton nya sampai selesai, Javier Tiba-tiba saja datang dan langsung menarik ku pergi meninggalkan kamar itu." ucap Emira pada Reyana.
"Emira, jangan menceritakan hal itu pada siapapun lagi. karena itu adalah privasinya Arsen dan Daviena, jika Arsen tahu kau mengintip nya tadi malam. maka Dia pasti akan Benar-benar sangat marah." ucap Javier.
"Kau tenang saja, aku tidak akan memberitahu nya pada siapapun. sekarang aku bisa tenang, karena sebentar lagi Arsen dan Daviena pasti akan segera memiliki seo6 anak." ucap Emira.
Leofric menghela nafasnya, menantunya itu dari dulu sangat menginginkan seorang cucu. bahkan ketika Arsenio masih remaja, Dia dipaksa menikah oleh Emira karena menginginkan seorang cucu, kebetulan saat itu salah satu teman Emira ada yang memiliki seorang cucu. jadi wanita itu juga ikut menginginkan nya.
Arsenio dan Daviena datang ke ruang makan untuk ikut sarapan bersama. "Ah, lihatlah. ada sepasang pengantin baru yang datang untuk sarapan bersama kita." ucap Leofric menggoda Arsenio dan Daviena.
Wajah Daviena memerah, gadis itu memalingkan wajahnya. sedangkan Arsenio hanya menatap datar sangat kakek. kenapa kakek nya itu suka sekali menggoda nya dan istrinya.
"Ibu pikir kalian tak akan sarapan bersama kami, karena pastinya kegiatan panas kalian tadi malam akan sangat melelahkan untuk kalian. jadi kemungkinan kalian akan terbangun di siang hari, tapi ternyata perkiraan ibu salah." ucap Emira tersenyum.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Daviena terbelalak, bagaimana ibu mertuanya itu tahu tentang kegiatan panas mereka tadi malam. hal tersebut membuat wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus.
"Ibu, bagaimana kau tahu. kalau semalam kami melakukan hal itu?" tanya Arsenio, Dia menatap tajam ibunya seakan menginterogasi wanita itu.
"Tentu saja ibu tahu, karena semalam kami mendengar suara aneh dari kamar yang kalian tempati. dan tentunya kami tahu apa yang tengah kalian lakukan setelah acara pernikahan." ucapnya menyeringai.
Mana mungkin Emira mengatakan yang sebenarnya, bahwa dirinya semalam mengintip kegiatan panas pengantin baru itu. Arsenio pasti akan marah jika mengetahui sebenarnya.
Mereka mengambil hidangan yang tersaji di atas meja makan. Emira mengambil banyak makanan untuk menantunya, karena Daviena pasti membutuhkan lebih banyak energi untuk memulai aktivitas hari ini.
"Ibu, kau akan membuat Daviena menjadi gendut jika kau terus menyodorkan nya berbagai macam makanan." ucap Arsenio.
"Menantuku membutuhkan lebih banyak asupan bergizi, karena kegiatan semalam pasti membuat energinya terkuras habis... Nah, Daviena. kau habiskan semua ini ya." ucapnya tersenyum hangat.
Daviena menatap berbagai macam hidangan di depannya, ada makanan kesukaan nya juga di sana. Dia berpikir, pasti ibunya yang membuatkan nya makanan itu. Namun, bagaimana caranya gadis itu menghabiskan semua hidangan itu.
Perutnya tak akan cukup menampung semua makanan itu, Daviena menatap Arsenio seakan meminta pertolongannya untuk menghabiskan hidangan itu.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tahu apa yang ingin kau katakan... aku tidak akan membantumu, jadi kau harus menghabiskan semua makanan itu sendirian." ucapnya tersenyum tanpa dosa.
Raut wajah Daviena seketika berubah menjadi datar, Arsenio tersenyum sinis padanya. Dia jadi memiliki sebuah ide, yang pastinya ide itu akan berhubungan dengan Daviena.
"Daviena, aku akan membantumu menghabiskan semua makanan itu, tetapi ada syaratnya." ucap Arsenio.
"Syarat apa?" tanya gadis itu penasaran.
"Syaratnya adalah... kau harus mengenakan pakaian yang ku pilihkan untuk mu hari ini, bagaimana?" ucapnya.
"Apa hanya itu syaratnya?"
__ADS_1
Arsenio mengangguk, Daviena berpikir sejenak. mungkin ini tidak akan merugikan nya, karena Arsenio hanya memilihkan nya pakaian, bukan menyentuhnya seperti tadi malam. gadis itu lantas segera menyetujuinya, Dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncakan pria itu saat ini.