Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 6


__ADS_3

Mafia itu mendekati Daviena, gadis mungil itu semakin takut pada pria di depannya. tatapan Arsenio penuh dengan kemarahan "bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tak lagi melawan ku, tapi sepertinya kau memang sulit untuk diatur. haruskah aku benar-benar menggunakan cara kekerasan agar kau tidak bersikap seperti ini lagi," ucapnya dingin.


"Aku hanya ingin pulang," lirih nya.


"Sekali lagi kau mengatakan hal itu... aku akan membuatmu benar-benar menyesalinya," ucapnya.


"Apa dia sudah makan?" tanya Arsenio pada para maid.


"Belum tuan, Dia menolak untuk makan. sejak tadi siang nona sama sekali tidak mau makan," ucap salah satu maid.


Sepertinya Arsenio harus memiliki kesabaran yang besar dalam menghadapi peliharaan nya. sebab, Dia memiliki peliharaan yang suka memberontak. "Joseph, berikan semua pakaian itu pada para maid setelah itu kau bisa pergi,"


Joseph memberikan semua pakaian yang dibeli Arsenio pada para maid, pria berkulit putih itu lalu pergi. ini kesempatannya untuk pulang lebih awal, karena biasanya Arsenio akan menyuruhnya untuk lembur. "Ini hari keberuntunganku, sepertinya malam ini aku bisa tidur nyenyak tanpa harus mengikutinya kemanapun," batinnya merasa senang.


Arsenio memang sering dan bahkan sudah biasa mengajak Joseph bersamanya mencari mangsa atau melakukan pekerjaan di dunia bawah, dunia kejam yang penuh dengan dosa. namun, Joseph tidak terlalu menyukai pembunuhan yang dilakukan oleh Bos nya itu. sebab, Dia benci terkena cipratan darah dari orang-orang yang penuh banyak dosa.


Pria itu menyukai kebersihan, tak seperti Arsenio yang membiarkan tubuhnya terkena cipratan darah dari korbannya, Joseph lebih memilih membunuh secara halus. namun bukan berarti pembunuhan yang dilakukannya tidaklah keji, pria berkulit putih itu sering menggunakan pisau bedah untuk menghabisi mangsanya.


"Kalian, rapih kan semua pakaian itu dan masukan ke dalam lemari yang berada di kamar kosong bersebelahan dengan kamarku, kamar itu mulai sekarang akan menjadi kamar gadis itu." ucapnya pada para maid.

__ADS_1


"Baik, tuan," para maid segera menjalankan tugas yang di berikan oleh atasan mereka.


"Dan kau, apa yang harus kulakukan padamu agar kau merasa jera dan tidak akan mengulangi perbuatan mu lagi. apa kau tahu? barang-barang yang kau hancurkan itu bernilai fantastis dan sulit untuk didapatkan, bahkan sebagian dari barang yang kau hancurkan itu terbilang cukup langka," ucapnya.


Gadis itu hanya menunduk, nyalinya seketika ciut saat berhadapan dengan mafia itu. "Kau harus mengganti semua kerusakan yang telah kau perbuat, " ucapnya.


"A-aku tidak memiliki uang untuk membayar semua kerusakannya, maaf." ucap Daviena.


"Kau tetap harus membayar kerusakannya. ah, bukankah kau bisa menggunakan tubuhmu untuk menggantikan semua barang yang telah kau rusak, anggap saja kau membayarku dengan tubuhmu." menyeringai.


"AKU TIDAK MAU DISENTUH OLEHMU LAGI BAJINGAN!" ucapnya marah, Dia tidak akan mungkin mau menyerahkan tubuhnya begitu saja. walaupun tubuhnya merespon sentuhan pria itu, namun hati dan pikirannya tetap saja menolak.


Wajah Daviena memerah, namun bukan karena malu. tetapi, gadis itu terlihat benar-benar sangat marah. Dia merasa di rendahkan, pria itu seperti menganggap semuanya hanyalah permainan.


"Aku bukan mainanmu, kau benar-benar pria terburuk yang telah pernah kutemui." ucapnya, Daviena menatap tajam mafia itu.


Bukannya takut Arsenio malah tersenyum manis ke arah Daviena, tatapan tajam gadis itu terlihat sangat lucu di matanya " kau bertambah semakin cantik saat marah," ucapnya menggoda gadis itu. Daviena mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk memukul pria di depannya, sebuah pukulan Dia layangkan ke arah wajah tampan Arsenio. namun, Arsenio yang menyadarinya segera menahan tangan gadis itu.


Aura membunuh tiba-tiba saja dirasakan Daviena, saat melihat Arsenio tubuhnya seketika langsung merosot ke bawah. tatapan begitu mematikan mengarah padanya "Kau berani ingin memukulku?" jiwa psikopat Arsenio sepertinya mulai keluar, melihat Daviena melayangkan pukulan itu membuat Arsenio menjadi geram.

__ADS_1


Secara kasar pria itu menarik tangan Daviena kearah sebuah dapur, Daviena yang tak siap mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa mengikutinya. sebab, tangannya dipegang sangat kuat oleh Arsenio.


Arsenio mengambil sebuah pisau dapur dan mengarahkannya ke arah Daviena "kau pasti tahu apa yang akan terjadi jika pisau tajam ini menyentuh kulit mulus mu itu." menyeringai, Arsenio mendorong tubuh Daviena ke arah sebuah meja makan. gadis itu meringis kesakitan merasakan sakit di perut nya akibat mengenai ujung sisi meja terlalu kuat, Arsenio mendekatinya dan mengangkat tubuh Daviena ke atas meja tersebut.


Gadis manis itu menggeleng kuat dan meminta Arsenio untuk berhenti, Dia benar-benar merasa sangat takut. tubuhnya bahkan mulai berkeringat karena terkena serangan panik "K-kumohon jangan lakukan hal itu," Dia merutuki dirinya sendiri yang telah membangkitkan jiwa iblis di dalam tubuh Arsenio.


"Ah, aku ingin sekali mencicipi darah segarmu," menjilati sudut bibirnya sendiri.


Arsenio suka meminum darah dari para korbannya, Dia biasanya mencampur darah korbannya dengan minuman Beralkohol. Daviena tersentak kaget saat pisau itu menyentuh telapak kaki kirinya, perlahan Arsenio menyayat telapak kaki kiri gadis itu. darah segarpun mengalir keluar, Daviena meringis merasakan perih di telapak kakinya.


Aroma darah segar menguar di penciuman Arsenio, Mafia itu mendekatkan bibirnya ke arah telapak kaki Daviena yang berdarah. perlahan jilatan halus dari lidahnya Dia berikan pada telapak kaki yang tersayat itu. Arsenio menjilati darah segar dari telapak kaki Daviena "Sshhh... t-tuan, apa yang anda lakukan," ucapnya.


Arsenio tak menjawab pertanyaan gadis itu, darah di telapak kaki Daviena terlalu menggoda untuk nya. "Darahmu benar-benar sangat manis," ucapnya menyeringai. wajah Daviena memerah malu, Dia memalingkan wajahnya dari pria itu. Arsenio kembali menjilati darah tersebut. "T-tuan tolong hentikan," ucapnya, Daviena merasa sedikit geli saat lidah hangat Arsenio menyentuh telapak kakinya.


"Ini baru permulaan," tersenyum sinis, pria psikopat itu kembali menyayat telapak kaki Daviena, tetapi kali ini luka sayatan nya lebih dalam. itu dapat dilihat dari banyaknya darah segar yang mengalir keluar. "Hiks... tuan kumohon hentikan, rasanya sangat perih," Daviena menangis, Arsenio mengabaikan tangisan gadis mungil itu dan mulai memberikan luka baru lagi di bagian kaki Daviena, kini Arsenio menggores kaki Daviena hingga mencapai paha bagian dalamnya, posisi Arsenio saat ini berada di tengah-tengah kedua kaki Daviena.


Dia menjilati darah yang berada di paha bagian dalam gadis itu. "Hngghh..." Lenguhan pun keluar dari bibir tipis Daviena, Dia mencoba untuk menjauhkan kepala Arsenio dari selangkangannya. namun, kedua tangan Arsenio mencengkram kedua sisi paha nya. itu membuat Daviena kesulitan menjauhkan nya .


"Akan ku buat kau merasa takut padaku, hingga kau tak akan berani lagi melawan ku, " ucapnya. selain jilatan halus, Arsenio juga memberikan gigitan kecil di area sekitar paha gadis itu hingga membuatnya berteriak kesakitan. pria itu menggigitnya terlalu kuat "AAKKHHH!!!..." teriak Daviena. gadis itu hanya bisa menangis meluapkan kesedihan nya.

__ADS_1


__ADS_2