
Gadis itu menatap luar balkon kamarnya, hanya ada beberapa bawahan Arsenio yang sedang berjaga. sejak mafia itu menyayat telapak kakinya, Daviena tak pernah lagi mengeluarkan suaranya. hanya disaat Arsenio menggagahi nya Dia mengeluarkan suaranya, itupun hanya suara gairahnya. mungkin, setelah Arsenio bosan bermain dengannya mafia itu akan melepaskannya atau menghabisinya.
Daviena tidak akan menyerah, Dia tetap akan mencari cara agar bisa keluar dari mansion itu, untuk sementara waktu Dia harus bersikap tenang. bersikap Seolah-olah Arsenio telah berhasil menjinakkan gadis liarnya itu.
Arsenio saat ini Disibukan dengan Berkas-berkas penting di atas meja kerjanya, banyak Berkas-berkas yang harus dikerjakannya. penjualan berlian nya semakin meninggi, banyak permintaan dari beberapa cabang usaha yang bekerjasama dengannya. suara ketukan pintu mengalihkan nya dari Berkas-berkas itu " Masuk." ucapnya singkat.
Orang tersebut masuk ke dalam ruangan kerjanya Arsenio "Tuan Arsen, hari ini anda memiliki rapat sekitar pukul 16 : 00 sore." ucap orang itu yang tak lain adalah Joseph, sekretaris nya.
"Ck, batalkan rapatnya. hari ini aku ingin pulang lebih awal." ucapnya terlihat kesal.
"Baiklah, tuan." Joseph keluar dari ruang kerjanya Arsenio, Dia harus memberitahu para kliennya Arsenio, bahwa rapat sore nanti akan dibatalkan.
"Tuan Arsen sepertinya ingin menghabiskan waktunya bersama gadis itu, tidak biasanya Dia tertarik pada seorang gadis." batinnya.
...****************...
Waktu terus berlalu, tak terasa hari mulai beranjak sore. Arsenio menyuruh Joseph merapihkan Berkas-berkas yang sudah Dia kerjakan, sedangkan dirinya bergegas untuk pulang. sepanjang perjalanan pria itu memikirkan tentang bagaimana Daviena memuaskan dirinya, membayangkan nya saja sudah membuatnya bergairah.
Arsenio selalu tidak tahan dengan tubuh mungil gadis itu, tubuh Daviena menjadi candu untuk nya bagaikan Obat-obatan terlarang yang sering dipakainya.
Setibanya di mansion, mafia itu segera keluar dari dalam mobilnya. Dia berjalan masuk ke dalam mansion dengan gairah yang memenuhi isi pikirannya, para maid dan Butler menyambut kepulangan sang tuan rumah. Arsenio melangkahkan kakinya ke arah kamar Daviena, pintu kamar itu di bukanya.
Terlihatlah Daviena yang tengah membaca sebuah buku, di kamar Daviena memang disediakan sebuah rak buku. karena sebelumnya Arsenio mencari tahu apa yang disukai oleh gadis itu. "Daviena," panggilnya dengan suara baritone nya. Daviena menoleh, gadis itu hanya diam melihat Arsenio.
"Kau masih tidak mau bicara denganku?" tanya mafia itu. Lagi-lagi gadis itu hanya Diam, setiap Arsenio mengulangi pertanyaan yang sama gadis itu selalu diam seperti orang bisu. terkadang Arsenio geram padanya karena terus Didiamkan, itu membuatnya merasa terabaikan.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan terus mendiamkan ku, aku berusaha bersikap baik padamu. tetapi, sepertinya kau bersikap tidak peduli ya. apa kau ingin aku menghukummu lagi," ucapnya menyeringai. Daviena menggeleng kuat, Dia tidak mau luka di kakinya bertambah semakin banyak.
"Maka bicaralah padaku, aku tidak suka di abaikan." ucapnya.
"Maaf," ujar Daviena.
"Aku bukan ingin mendengar permintaan maafmu, apa kau tidak mau mengatakan sesuatu selain maaf?" ucap Arsenio.
Daviena diam, memangnya apa yang harus Dia katakan pada mafia itu. gadis itu menatap kedua mata Arsenio, tatapan mafia itu hanya ada kekosongan dan kebencian. "Setelah kau bosan padaku... apa yang akan kau lakukan padaku selanjutnya," ucapnya pelan.
"Mungkin aku akan menghabisimu." menyeringai, gadis mungil itu tersentak.
"Tuan, apa kau tidak bisa melepaskan ku. aku ingin bertemu ibuku," lirih.
Gadis manis itu menunduk lesu, perasaan sedih kembali dirasakannya, Dia begitu merindukan sosok wanita yang telah melahirkannya. Arsenio mendekati gadis mungil itu, Dia menyentuh dagu Daviena agar si gadis menatap dirinya. "Apa melihat lantai itu jauh lebih menarik dariku?" tanya mafia itu.
Daviena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Dia sungguh bingung dengan pria di depannya ini. kenapa pria itu menjadikannya sebagai mainan? gadis itu bahkan tidak memiliki daya tarik apapun untuk memikat mafia kejam seperti Arsenio, tidak ada yang istimewa darinya "Kenapa kau menahanku," ucapnya pelan.
"Alasannya hanya satu, karena aku suka dengan tubuhmu. tubuhmu begitu menggodaku, sepertinya kau memang Ditakdirkan menjadi seorang pelac*r." menyeringai.
"Aku bukan pelac*r, ini semua terjadi karena perbuatan ayahku yang tega menjual ku ke rumah bordil itu," ucapnya sedih.
"Aku tidak peduli dengan masalahmu, yang terpenting bagiku adalah bisa menikmati setiap inci anggota tubuhmu," Arsenio menjilati sensual telinga Daviena, gadis itu memejamkan matanya saat lidah panas itu menyentuh daun telinganya. "Hnghhh... T-tuan, hentikan." ucapnya melenguh.
Arsenio terkekeh, peliharaannya benar-benar sangat lucu dan manis. "Mulai sekarang, panggil aku Master Daviena," ucapnya, gadis itu mengangguk kecil. Arsenio merasa senang karena dirinya berhasil menjinakkan gadis liar itu.
__ADS_1
"Ah, sayang sekali. malam nanti kita tidak bisa bermain, karena aku memiliki beberapa urusan yang harus segera ku selesaikan. jadi, malam ini aku tidak akan menyentuhmu."
"Ini kesempatan ku untuk kabur, walau kakiku terluka aku harus tetap pergi dari tempat ini," batinnya.
"Kau, akan pulang jam berapa?" tanya Daviena dengan suara yang pelan.
"Sekitar pukul 01 : 23 dini hari, kenapa?"
"T-tidak apa-apa," ujarnya.
"Jangan berpikir kau bisa kabur dari mansion ini selama aku pergi Daviena, aku tahu apa yang sedang kau pikiran," ucapnya dengan nada yang datar.
"Mana mungkin aku bisa kabur, disaat kondisi kakiku seperti ini," ucap si gadis meyakinkan Arsenio.
"Baguslah, namun jika sampai aku tahu kau mencoba kabur lagi. maka aku akan kembali melukai kedua kakimu itu" ucapnya dingin. Daviena dapat merasakan hawa membunuh yang terpancar dari tubuh Arsenio, ucapan mafia itu benar-benar mutlak.
...****************...
Malam harinya, saat Arsenio tengah pergi. Daviena Diam-diam merangkak turun dari atas tempat tidurnya, dia mencari benda yang bisa Dia gunakan untuk melepaskan rantai besi itu "Ck, tidak ada pisau atapun benda-benda tajam disini, aku harus bagaimana sekarang. haruskah aku membatalkan pelarian ku saja," ucapnya.
"Tidak Daviena, kau tidak boleh menyerah." ucapnya pada dirinya sendiri, Daviena memandang kunci gembok itu. Tiba-tiba dirinya teringat dengan sebuah film aksi yang memperlihatkan bagaimana caranya membuka kunci gembok tanpa sebuah kunci.
"Mungkin aku bisa menggunakan benda itu seperti di Film-film aksi," gadis itu mengambil sebuah kawat penjepit rambut yang menjepit rambutnya. Dia ingat bahwa para maid memakaikan nya beberapa kawat penjepit rambut.
"Mari kucoba apakah ini akan berhasil atau tidak," gadis itu mulai memasukkan ujung kawat penjepit itu. Dia sedikit merasa kesulitan, karena ini pertama kalinya Daviena membuka kunci gembok dengan kawat penjepit rambut.
__ADS_1