Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 24


__ADS_3

Arsenio mengusap pipi kanan Daviena, Dia memperhatikan sekitar mata gadis itu yang terlihat cukup sembab "Kau banyak menangis, ini membuat kedua matamu sembab." ucapnya.


"Tuan Arsen, jangan lakukan sesuatu yang buruk pada ibuku. kumohon." ucapnya, kedua mata Daviena memancarkan kesedihan.


"Baiklah, aku tidak akan menyakiti ibumu. kau perlu makan sekarang." pria itu menggendong tubuh Daviena keluar dari kamar, dan membawanya ke ruang makan. di meja makan sudah tersaji beberapa hidangan makan malam.


"Makanlah, sejak tadi siang kau tidak mengisi perutmu kan?"


Gadis itu perlahan menyantap makan malamnya, Daviena masih tidak memiliki selera makan. jadi dia hanya menyantap sedikit makan malamnya. "Kenapa hanya makan sedikit? apa makanan nya tidak enak?" tanya Arsenio.


"I-ini enak, hanya saja aku... sedikit tidak berselera." ucapnya pelan.


"Hahh, makanlah lebih banyak lagi. aku tidak mau kau terlihat terlalu kurus."


Setelah makan malam, Arsenio menyuruh gadis itu menemaninya di ruang kerjanya. Arsenio berkutat dengan laptopnya. sedangkan si gadis mungil menatap sekeliling ruangan kerja mafia itu. ada banyak Buku-buku yang tersusun rapih di rak penyimpanan buku. "Apa Dia sangat suka membaca?" batinnya.


"Kenapa kau terus menatap Buku-buku itu?" ucap Arsenio.


"Ada banyak buku di sini, apa kau sangat suka membaca?" tanya Daviena.


"Ya, mafia seperti ku harus memiliki pengetahuan yang luas." jawabnya.


"Kenapa kau menjadi seorang mafia?" Daviena begitu penasaran, kenapa pria itu mau menjadi seorang mafia.


"Karena aku menyukai sesuatu yang berkaitan dengan dunia kriminal, menjadi seorang mafia itu artinya kau harus mempersiapkan mental maupun kemampuan mu untuk menjadi yang terbaik. dunia ini, begitu liar. yang kuat akan menjadi yang teratas, sedangkan yang lemah akan berada di bawah." ucapnya menjelaskan.


"Kau benar, manusia... bahkan lebih buruk dari seekor hewan, mereka menggunakan kekerasan dan kekuasaan untuk menindas yang lemah... tetapi, apakah manusia yang berada di tingkat paling bawah bisa berada di tingkat yang teratas?"


"Ya, tentu bisa. jika manusia itu lebih berusaha lagi, namun terkadang manusia menggunakan cara instant untuk mencapai keinginan mereka dengan cepat."


...****************...


Arsenio telah selesai mengerjakan pekerjaannya, Dia menghampiri Daviena yang tengah membaca buku. sebelumnya, Arsenio meminjamkannya beberapa buku agar gadis itu tidak merasa kebosanan. "Daviena," panggil nya. gadis itupun menoleh.


"Apakah kau, mau sekolah?" tanya Arsenio.

__ADS_1


"Sekolah?" ucap si gadis.


"Ya, bukankah kau sebenarnya masih seorang pelajar? dari informasi yang ku dapatkan. kau adalah seorang pelajar SMA kan?"


Daviena mengangguk, gadis itu memang masih bersekolah. tetapi, karena perbuatan ayahnya yang tega menjualnya ke sebuah rumah bordil. gadis itu terpaksa tidak melanjutkan sekolahnya, apalagi saat ini Dia adalah seorang budak seorang mafia. "Jika kau mau, aku bisa menyekolahkan mu."


"Tuan, mau menyekolahkan ku?" kedua mata gadis itu berbinar.


"Ya, tapi dengan satu syarat." ucapnya.


"Apa, syarat nya?" tanya Daviena.


"Setelah sekolah, kau harus pulang ke mansion ku. selain itu kau tidak boleh berdekatan dengan Laki-laki manapun, dan jangan ceritakan pada siapapun bahwa aku adalah seorang mafia, jika kau menceritakan nya pada orang lain. maka aku akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap ibumu. apa kau mengerti?"


"Baiklah, aku mengerti." ucap Daviena.


"Besok aku akan menyuruh Joseph mempersiapkan semua kebutuhan mu, sebaiknya kau tidur. ini sudah larut malam."


Arsenio kembali menggendong Daviena dan membawanya ke kamar gadis itu. setelahnya Dia kembali ke kamar nya.


...****************...


"Tuan, ingin membicarakan apa?" tanya wanita itu.


"Ini mengenai Daviena..., aku ingin menyekolahkan nya."


Reyana cukup terkejut mendengar apa yang dikatakan pria itu, "T-tuan, ingin menyekolahkan Daviena?" tanya Reyana memastikan.


"Iya, jika kau mengizinkannya." ucapnya.


"Biar Daviena sendiri yang memutuskan, saya hanya akan mendukung kemauannya saja."


"Ibu, aku ingin kembali bersekolah." Daviena menatap sang ibu.


"Jika kau memang ingin kembali bersekolah, ibu akan menyetujuinya." tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih, ibu." ucapnya.


"Tapi, kita perlu membeli peralatan sekolahmu." ucap Reyana.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, sekretaris saya yang akan mengurusi semua kebutuhan Daviena." ucapnya.


Reyana Benar-benar berterimakasih pada Arsenio yang mau menyekolahkan putrinya.


Mafia itu pergi bekerja seperti biasanya. namun kali ini Dia tidak pergi ke perusahaan nya, melainkan ke sebuah tempat kumuh yang berada di ujung kota. mafia itu akan bertransaksi secara ilegal dengan beberapa kliennya. kalian mungkin akan berpikir bahwa mafia itu hanya menjalankan pekerjaan kotornya di malam hari. namun nyatanya Arsenio tidak mengenal waktu, Dia akan menjalankan pekerjaan kotornya kapanpun itu. tidak peduli siang, sore, malam, ataupun dini hari.


Joseph senantiasa menemani pria itu, tugasnya memang mengatur semua Jadwal pekerjaannya Arsenio, selain menjadi seorang sekretaris. Joseph juga bekerja sebagai tangan kanan sang mafia.


"Akhirnya anda datang juga, tuan Arsen. kami pikir anda tidak akan datang." ucap salah satu dari mereka.


"Jadi, apa yang kalian miliki?" tanya Arsenio.


"Mungkin anda harus melihat beberapa barang yang baru saja kami selundupkan," ucap seorang pria berkumis tebal. Dia membuka sebuah koper hitam berisi senjata ilegal berupa pistol berjenis Smith & Wessong 500 Magnum. pistol itu Benar-benar sangat berbahaya, beberapa orang yang membelinya belum tentu memiliki izin.


"Tuan Arsen, bagaimana menurut mu? apa kau tertarik dengan senjata ini?" tanya seorang pria bertatto naga di tangan, yang diketahui adalah ketua mereka.


"Joseph berikan Dia cek nya, tulis berapapun nominalnya." ucapnya, Arsenio mengambil pistol tersebut bersama kopernya.


"Senang berbisnis dengan anda, tuan Arsen."


Setelah melakukan transaksi, Arsenio dan Joseph pergi meninggalkan tempat kumuh tersebut. Tiba-tiba saja ponsel mafia itu berdering, saat melihat nama di layar ponselnya. ekspresi Arsenio berubah menjadi datar. Joseph yang melihat perubahan mafia itu dari kaca spion mobilnya segera bertanya apa yang terjadi. "Tuan Arsen, ada apa? anda terlihat tidak bersemangat."


"Ibuku menghubungi ku," ucapnya.


"Pasti, nyonya ingin membahas tentang perjodohan lagi." ucap Joseph.


"Ck, padahal Dia tahu kalau putranya ini sangat anti menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita." ucapnya kesal.


"Lalu, apakah anda akan datang ke mansion utama?" tanya Joseph.


"Tidak, jika aku pergi ke sana. Dia pasti akan menyeret ku, dan mempertemukan ku dengan wanita pilihannya." Arsenio sangat malas membahas tentang perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ini Benar-benar sangat merepotkan." batinnya. ponselnya terus saja berbunyi, tetapi Dia sama sekali tidak memiliki niat untuk mengangkat panggilan tersebut. Arsenio tidak mau sampai mendengarkan ocehan sang ibu. karena itu bisa membuat telinganya rusak.


__ADS_2