
Dillon tertawa pelan melihat ekspresi kesal Arsenio, sepertinya Dia telah membuat mafia itu emosi. "Arsenio, ternyata kau tidak pernah berubah ya. sikapmu selalu saja sama seperti dulu." ucapnya.
"Pergilah, jangan ganggu milikku!" ucapnya menegaskan bahwa Daviena adalah miliknya.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa Daviena. semoga kita kembali di pertemukan." ucapnya lembut. Arsenio menatap tajam Dillon.
"Kau tidak akan pernah bertemu dengan milikku lagi, camkan itu!"
Dillon hanya menggerakkan bahunya acuh, Dia tidak peduli dengan ucapan Arsenio. Pria itu kemudian pergi meninggalkan Daviena bersama Arsenio.
"Daviena, bagaimana kau bisa mengenal pria itu." ucapnya dingin.
"K-kami tidak sengaja bertemu, tuan Arsen." ucapnya pelan, saat ini Dia Benar-benar takut pada mafia itu.
"Orang itu adalah musuhku, jadi kau tidak boleh sampai bertemu dengan nya lagi. jika kalian berdua tidak sengaja bertemu, lebih baik kau langsung menjauh atau menghindarinya. apa kau mengerti?"
"I-iya, tuan."
...****************...
Malam mulai larut, Daviena sepertinya sudah mulai mengantuk. dijam segini biasanya Dia sudah tidur. namun karena acara malam ini, Dia harus melewatkan sedikit jam tidurnya. "Kau mengantuk?" tanya Arsenio yang melihat Daviena menguap.
"Sedikit." jawabnya.
Arsenio mendorong kursi roda Daviena menuju lift, mereka menaiki lift lalu turun ke lantai dasar hotel itu. "Tuan Arsen, kenapa kita pergi meninggalkan acaranya?" tanya Daviena.
"Bukankah kau mengantuk? lagi pula ini sudah malam, kau harus tidur." mereka menaiki limousine dan pergi meninggalkan hotel tersebut. di tengah perjalanan, Daviena tertidur. kepala nya tidak sengaja bersandar di bahu Arsenio. pria itu menatap wajah Daviena saat tidur, tanpa sadar dirinya malah menyentuh bibir tipis gadis itu.
"Kau selalu sempurna dalam kondisi apapun, terutama saat tidur." ucapnya.
Sesampainya di mansion, Arsenio segera menggendong tubuh mungil Daviena, masuk ke dalam mansion. "Selamat datang, tuan Arsen." ucap Reyana menyambut kepulangan sang tuan rumah.
Reyana cukup terkejut melihat putrinya berada di dalam gendongan Arsenio, sebelum Reyana sempat menanyakan sesuatu. Arsenio sudah lebih dulu membawa tubuh Daviena masuk ke dalam kamar gadis itu. wanita itupun lantas mengikutinya.
__ADS_1
"Tuan Arsen, maafkan Daviena yang sudah merepotkan anda malam ini." ucapnya sedikit membungkuk.
"Dia tidak merepotkan ku, lebih baik anda juga tidur Bu Reyana." ucapnya. Arsenio keluar dari kamar Daviena setelah meletakan tubuh gadis itu di atas tempat tidurnya. Reyana menatap putri kecilnya yang tengah tertidur pulas.
"Ibu sangat penasaran, kenapa tuan Arsen bersikap sangat baik padamu. Dia bahkan mau menggendong mu ke sini." ucapnya.
Andaikan saja wanita itu tahu, bahwa Arsenio adalah sesosok iblis yang suka menghabisi wanita yang sudah digagahi nya. mungkin, Reyana akan menarik Kata-katanya kembali.
...****************...
Daviena menatap bosan televisi yang menampilkan banyak acara, gadis itu Berkali-kali mengganti acara televisi tersebut. menurutnya tidak ada acara yang menyenangkan di televisi. Arsenio sudah pergi bekerja, Dia meninggalkan gadis itu di mansion-nya.
"Hahh, Benar-benar sangat membosankan." ucapnya lesu. Dia mendorong kursi roda nya ke luar mansion. di halaman depan mansion banyak para anak buahnya Arsenio yang berjaga di sekitar mansion. "Di sini, juga tidak ada yang menyenangkan." gadis manis itu melihat para penjaga dengan ekspresi bosannya.
Beberapa penjaga yang melihatnya merasa gemas dengan ekspresi Daviena saat ini, menurut mereka ekspresi gadis itu terlihat sangat lucu. tubuh Daviena yang mungil membuatnya seperti remaja berusia empat belas tahun, padahal usia gadis itu tujuh belas tahun.
"Kenapa mereka melihat ku seperti itu? apa ada yang salah denganku?" batinnya saat menyadari beberapa penjaga melihat ke arahnya.
"Apa, nona menginginkan mawar merah itu? saya bisa mengambilkan nya untuk nona." ucap seorang pria bertatto yang memiliki wajah cukup sangar.
"Tidak perlu, aku tidak menginginkannya. lagi pula tangkai bunga itu berduri, paman bisa terluka jika memegang bunga itu." Daviena tersenyum ke arah pria itu.
Si pria bertatto sedikit tersentuh, walaupun dirinya memiliki wajah yang cukup garang. tetapi hati pria itu cukup baik, hanya saja Dia menjalani pekerjaan kotor yang membuatnya terlihat seperti orang yang jahat.
"Selain manis, ternyata nona adalah gadis yang baik. kalau begitu, saya permisi. jika nona butuh sesuatu, nona bisa memanggil para bawahan di sini untuk membantu nona. kami semua memang ditugaskan mengawasi, dan membantu nona." ucapnya.
"Baiklah, terimakasih paman."
Penjaga itu kembali mengerjakan tugasnya, Daviena kembali masuk ke dalam mansion. sudah waktunya jam makan siang, Dia tidak boleh sampai terlambat makan siang. jika terlambat, Arsenio pasti akan memarahi dan menghukumnya. Daviena sudah tahu, bahwa selama ini Arsenio selalu mengawasinya dari kamera CCTV tersembunyi di mansion ini. semua pergerakan gadis itu tentu saja dipantau oleh pria itu.
"Sayang, ayo makan. ibu sudah membuatkan makanan kesukaan mu." tersenyum.
"Terimakasih, ibu." Daviena dan ibunya menyantap makan siang bersama, saat Arsenio tidak berada di mansion. Reyana lah, yang menemani putrinya. Daviena tampak sangat senang menyantap makanan kesukaannya. Dia begitu menyukai masakan ibunya.
__ADS_1
...****************...
Malam harinya, Arsenio kembali ke mansion-nya. Dia mencari sosok peliharaan kecilnya, Daviena. kedua matanya menelisik sekitar nya, mencari sosok gadis bertubuh mungil itu. "Selamat datang, tuan Arsen." seperti biasa, Reyana dan para maid menyambut kepulangan sang tuan rumah.
"Di mana Daviena?" tanya Arsenio.
"Dia, berada di kamarnya, tuan." ucap Reyana.
Arsenio segera berjalan ke arah kamar gadis itu, saat membuka pintu kamar Daviena. Dia di perlihatkan dengan sosok gadis itu yang tengah menatap langit malam dari arah balkon kamarnya. mafia itu lantas menghampiri gadis itu.
"Kau belum tidur?, ini sudah malam." ucapnya.
"Aku belum mengantuk," jawab Daviena.
"Seharusnya kau memakai pakaian yang lebih tertutup lagi, di sini cukup dingin."
"Bukankah, kau hanya memberikan ku pakaian seperti ini... aku tidak memiliki pakaian yang lebih tertutup lagi." ucapnya.
"Ah, kau benar. aku hanya memberikan mu pakaian yang cukup terbuka. kalau begitu besok aku akan menyuruh Joseph membelikan mu pakaian yang lebih tertutup lagi."
Selama ini Arsenio hanya memberikan Daviena pakaian seperti seorang Lac*r, Dia bahkan hanya menyediakan gaun malam yang berbahan tipis untuk gadis itu.
"Ayo tidur, aku akan menghangatkan tubuhmu." ucapnya. mendengar hal itu membuat Daviena tersentak.
"Apa kau akan menggagahi ku lagi?" tanya gadis itu.
"Tidak, aku hanya ingin tidur bersamamu malam ini. memangnya tidak boleh?... tenanglah, aku tidak akan menggagahi mu." ucapnya.
"B-benarkah?"
"Ya, kau tidak perlu khawatir. malam ini aku tidak akan menggagahi mu."
Daviena dan Arsenio tidur bersama dalam satu ranjang, pria itu terus menatap Daviena. gadis itu hanya Diam, Dia berpura-pura tidur. saat ini dirinya Benar-benar merasa sangat malu, karena mafia itu terus menatapnya. Daviena masih belum terbiasa tidur bersama Arsenio.
__ADS_1