
Beberapa kali ponsel Arsenio berdering, di layar ponsel nya tertera nama sang sekretaris di sana. Joseph menghubungi nya karena merasa heran, kenapa Arsenio sama sekali belum datang ke perusahaan. apalagi saat ini banyak pekerjaan yang harus dikerjakan.
"Halo... tuan Arsen, kenapa ada belum datang juga. sudah banyak berkas yang menumpuk di meja kerja anda." ucap Joseph.
"Joseph, hari ini aku tidak bisa datang ke perusahaan. Daviena sedang sakit, jadi aku harus menjaganya. bisakah kau mengerjakan semua itu untuk ku." ucap Arsenio.
"Tapi tuan... "
"Aku akan memberikan bonus untuk mu, jadi kerjakan semua itu untuk ku." ucapnya.
Arsenio langsung mematikan ponsel nya, di tempat lain Joseph mengumpat kesal. kenapa Arsenio malah menyuruhnya untuk mengerjakan semua pekerjaannya. walaupun mafia itu memberikan gaji tambahan untuk nya, tetap saja. mengerjakan semua Berkas-berkas penting itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Tsk, aku benci lembur kerja." ucapnya kesal.
Arsenio memperhatikan Daviena yang tengah tertidur pulas, Tiba-tiba Dia jadi memikirkan kenapa Dia begitu peduli pada Daviena. sebelumnya Arsenio tidak peduli apalagi khawatir pada gadis itu. tetapi melihat Daviena saat ini membuatnya menjadi khawatir dan gelisah, padahal Daviena hanya mengalami kelelahan dan demam biasa.
"Cepatlah sembuh, agar aku tak perlu khawatir lagi." batin Arsenio.
...****************...
Raut wajah Louis terlihat murung, hari ini Daviena tidak masuk sekolah. jadi Dia tak bisa mengobrol ataupun menjahili gadis itu, padahal hari ini Dia ingin mengajak gadis itu ke perpustakaan. Louis sering kali melihat Daviena membaca buku di dalam kelas saat jam istirahat, Dia berpikir. mungkinkah Daviena suka membaca.
Bianca merasa heran dengan kekasihnya, kenapa wajah Louis terlihat murung. apa ada sesuatu yang tengah dipikirkan kekasihnya itu.
"Louis, kenapa kau murung?" tanya Bianca.
"Hari ini Daviena tidak masuk sekolah," jawabnya.
Mendengar nama Daviena disebutkan, membuat Bianca mengerutkan alisnya "Memangnya kenapa jika Dia tak masuk sekolah? apa kau merasa kesepian tanpa gadis itu?" ucapnya ketus.
Louis menyadari jika sang kekasih tengah menahan rasa cemburunya "B-bukan begitu, hanya saja... aku tidak bisa mengganggunya hari ini. padahal aku ingin sekali menjahilinya." ucap Louis.
"Hmm, benarkah?" ucap Bianca ragu.
"Apa kau tidak percaya pada kekasihmu sendiri?" ucap Louis Berpura-pura sedih.
__ADS_1
"Sulit untuk ku percaya padamu, karena ku lihat kau seperti tertarik padanya." ucapnya datar.
"Mana mungkin aku tertarik padanya, Dia tidak secantik dirimu." ucap Louis.
Ucapan Louis berbanding terbalik dengan hatinya, hatinya mengatakan bahwa Daviena adalah gadis yang sangat cantik, bahkan kecantikannya melebihi kekasihnya sendiri. namun sayangnya Dia tidak bisa berkata jujur pada Bianca. jika Dia berkata dengan jujur, Bianca mungkin akan marah, dan yang lebih buruk nya gadis itu mungkin akan memberitahu kedua orang tuanya.
Louis tidak mau kekasihnya sampai mengaduh pada kedua orang tuanya, jika itu sampai terjadi. maka hubungan dekat antara keluarga Xavier dan keluarga Marlowe pasti akan hancur. apalagi kedua keluarga tersebut sudah sepakat akan menjodohkan Putra putri mereka.
Louis tidak mau membuat masalah, orang tuanya pasti akan menghapus namanya dari daftar keluarga Xavier jika hubungan nya dan Bianca berakhir.
Daviena terbangun karena merasa lapar, ini sudah waktunya jam makan siang. Dia menemukan Arsenio yang tertidur disampingnya, masih mengenakan setelan formalnya. sepertinya mafia itu ketiduran saat menjaga gadis itu.
Saat ini wajah Arsenio terlihat sangat dekat dengan wajah Daviena, gadis itu memperhatikan wajah tampan sang mafia. tatapan Daviena turun ke arah bibir Arsenio yang tertutup rapat, tanpa sadar gadis itu menyentuh bibir sang mafia. cukup lama Daviena memandangi kedua bibir Arsenio.
"Puas memandangi ku secara Diam-diam."
Daviena terkejut, ternyata Arsenio sudah bangun. kini pria itu tengah melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu. wajah Daviena seketika memerah, Arsenio telah menangkap basah dirinya yang tengah memandangi mafia itu secara Diam-diam. gadis itu langsung berbalik membelakangi pria itu.
Daviena menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya, Dia Benar-benar merasa sangat malu karena Arsenio telah memergokinya.
Gadis itu hanya diam tak menjawab, Arsenio menarik selimut tersebut hingga memperlihatkan Daviena yang wajahnya Benar-benar memerah padam.
"Lihatlah, wajahmu Benar-benar sangat merah." ucapnya.
Daviena menutupi wajahnya dengan menggunakan telapak tangannya, Dia tak berani menatap Arsenio saat ini. mafia itu membisikkan sesuatu hingga membuat gadis itu merasa sedikit merinding.
"Kau tidak perlu malu, tataplah wajahku ini sepuas hatimu. hingga membuatmu tak akan pernah bisa melupakan wajah tampan ku ini." ucapnya dengan suara baritone nya.
"M-menjauhlah dariku." ucapnya gugup.
Jantung Daviena berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, Arsenio terkekeh, tingkah Daviena Benar-benar sangat manis. entah kenapa semua yang dilakukan gadis itu dapat membuat nya tersenyum. padahal Arsenio jarang sekali tersenyum.
"Demam mu sudah turun." ucapnya, Arsenio menyentuh Dahi Daviena dengan punggung tangan nya.
"Sudah ku katakan padamu, bahwa ini hanya demam biasa." ucapnya pelan.
__ADS_1
Mafia itu mendekatkan tubuhnya ke arah Daviena, Arsenio memeluk gadis mungil itu dari belakang. Daviena merasa sedikit tidak nyaman dengan perlakuan Arsenio yang secara Tiba-tiba.
"Daviena, aroma mu Benar-benar membuatku merasa tenang." ucapnya, mafia itu mengendus di sekitar tenguk Daviena.
"T-tuan Arsen, hentikan itu geli... selain itu aku sedang demam, anda bisa tertular jika terlalu dekat dengan ku." ucapnya tak nyaman.
"Aku tidak peduli, lagi pula demam mu itu sudah turun." ucapnya yang mulai menyesap pundak kiri Daviena.
Daviena berusaha menghentikan aksi sang mafia, tetapi kekuatan Arsenio jauh lebih besar darinya. "Tuan Arsen, ku mohon hentikan." ucapnya memohon.
Mau tidak mau Arsenio harus menghentikan aksinya, Dia tidak mau Daviena merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang Dia berikan pada gadis itu.
"Apa kau lapar? aku bisa mengambilkan makan siang untuk mu." ucapnya.
"Sejujurnya aku sedikit lapar," ucapnya pelan.
"Kalau begitu tetaplah di sini, aku akan membawakan makan siang untuk mu." ucap Arsenio.
"Terimakasih, maaf karena aku merepotkan dirimu lagi." ucap Daviena.
"Kau sama sekali tidak merepotkan ku." ucapnya pergi meninggalkan Daviena, Dia akan mengambilkan makan siang untuk gadis itu.
Daviena bersyukur karena Arsenio mau merawatnya, walaupun mafia itu memiliki banyak keburukan. tetapi Dia ternyata masih memiliki hati nurani.
Arsenio kembali ke kamar dengan membawa nampan berisi makan siangnya Daviena. "Ayo makan, setelah itu kau harus meminum obat." ucapnya.
"Bagaimana dengan mu? apa tuan Arsen sudah makan siang?" tanya Daviena.
"Apa kau mengkhawatirkan ku?"
"Tentu saja aku khawatir, lagi pula saat ini tuan Arsen sedang merawat ku. aku tidak mau tuan mengabaikan kondisi tuan sendiri." ucapnya.
"Kalau begitu suapi aku, kebetulan aku belum makan siang." ucapnya menggoda Daviena.
"M-menyuapi anda? tapi..." ucapnya gugup.
__ADS_1
"Tidak ada penolakan." ucap Arsenio.