
Dua hari berlalu, saat ini Daviena dan Arsenio tengah berada di mansion utama keluarga Vincent. rencananya mereka berdua akan mencoba beberapa pakaian pengantin milik Emira dan suaminya, sepasang suami-istri itu ingin Arsenio dan Daviena mengenakan pakaian pengantin mereka di hari pernikahan.
Beruntung, pakaian pengantin nya itu cocok dengan Daviena, dan Arsenio. gadis itu terlihat begitu anggun dengan busana gaun pengantin berwarna putih, sedangkan Arsenio mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar indah di lehernya.
"Kalian terlihat begitu sempurna." ucap Emira tersenyum.
Javier mengambil beberapa potret foto untuk dijadikan sebagai Kenang-kenangan. mereka masih tak menyangka, putra mereka yang sangat Anti wanita itu akan segera menikah.
"Kami harap hubungan kalian akan terus berlanjut, sampai maut memisahkan kalian." ucapnya.
Arsenio tak berkedip sedikit pun saat melihat Daviena, Dia tak mengira gadis itu akan terlihat secantik ini. walaupun tanpa riasan wajah sedikit pun. tanpa sadar tangan kanan pria itu mengenggam tangan kiri Daviena, si gadis menoleh ke arah nya. kedua pipinya sedikit memerah saat melihat wajah tampan Arsenio yang cukup dekat dengan wajahnya.
"Kau Benar-benar terlihat sangat cantik, Daviena." ucapnya memuji. Daviena memalingkan wajahnya, malu. kenapa pria itu harus menggodanya di Saat-saat seperti ini.
Setelah mencoba beberapa pakaian pengantin, sepasang kekasih itu memutuskan untuk pulang. selama perjalanan tak ada pembicaraan apapun, sampai akhirnya Arsenio lah yang membuka pembicaraan lebih dulu.
"Belum terlambat untuk menolak pernikahan ini, Daviena." ucapnya.
"Apa kau sudah tak waras, kedua orang tuamu dan kakek mu tengah mempersiapkan semuanya untuk hari pernikahan itu, jika aku menolaknya secara Tiba-tiba. mereka pasti akan menganggap ku sebagai gadis yang buruk." ucapnya.
Sekarang Daviena hanya bisa pasrah, biarlah kehidupannya mengalir seperti Air. Namun satu hal yang harus Dia pertahankan selain ibunya, yaitu sikap liarnya. jangan sampai Arsenio terlalu mendominasi nya, jika sampai itu terjadi, maka pria itu akan semakin menjatuhkan nya.
Selama dirinya bersikap sedikit melawan, itu akan membuat Arsenio merasa sedikit kesulitan untuk menjinakkan nya.
"Jadi kau sudah pasrah dengan keadaan mu?" tanya Arsenio, Dia menunjukkan seringaian nya.
"Selama kau tidak menyakiti ibuku, aku akan pasrah menjadi istrimu." jawabnya.
__ADS_1
Arsenio Tiba-tiba memberhentikan mobilnya di sebuah restoran mewah bintang lima yang cukup terkenal, Daviena mengerutkan alisnya. kenapa pria itu malah berhenti di sini dan bukannya meneruskan perjalanan.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Daviena.
"Kita akan makan siang di sini. kau tenang saja, aku sudah memberitahu ibumu kalau kita berdua akan makan siang di luar." jawabnya.
Arsenio dan Daviena kemudian memasuki restoran tersebut. di dalam restoran, mereka memesan beberapa hidangan makan siang. "Daviena, bukankah kita berdua seperti sedang berkencan." ucapnya menggoda gadis itu.
Kedua pipi Daviena memerah, perlahan rasa Canggung mulai menyerang nya. Dia memalingkan wajahnya agar tidak berhadapan langsung dengan tatapan pria itu. "Kenapa Dia harus berkata seperti itu, kita ini hanya sedang makan siang bersama dan bukannya sedang berkencan." batinnya.
Arsenio terkekeh melihat Daviena yang sepertinya merasa sedikit malu, menggoda gadis itu terasa cukup menyenangkan. sudah lama Dia tak merasa sesenang ini saat bersama seorang wanita.
Biasanya Dia perlu menyewa seorang wanita hanya untuk menemaninya saja, kebanyakan dari wanita itu menginginkan uang dan kekuasaannya. berbeda dengan Daviena yang tak pernah sedikit pun menginginkan apa yang dimilikinya, yang diinginkan gadis itu hanyalah kebebasan.
Tetapi, Arsenio sama sekali tak bisa memberikan kebebasan itu. karena dirinya sudah terlalu terikat dengan Daviena, terkadang Dia Bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai perasaannya pada gadis itu. hatinya seakan berkata untuk mencintai Daviena, namun pikirannya masih menolak hal tersebut.
Mungkin karena dirinya masih terjebak dengan masa lalunya, sulit baginya untuk terlepas dari masa lalunya.
Daviena menoleh saat seseorang memanggil namanya, gadis itu terbelalak dengan apa yang dilihatnya saat ini. "K-kau..."
Ternyata yang baru saja memanggil nama nya adalah ayah kandung nya. orang yang telah menjual dirinya dan ibunya. "Aku Benar-benar tak menyangka akan bertemu dengan mu di sini, putri kecilku." ucap pria paruh baya itu.
Di sebelah pria itu ada seorang wanita yang menjadi selingkuhan nya, Daviena kembali mengingat dengan jelas. saat ayahnya, dan wanita itu melakukan hubungan intim di depan matanya sendiri. mengingat kenangan buruk itu membuat darahnya mendidih, Dia Benar-benar merasa kecewa, dan marah pada pria itu.
"Ah, ternyata kau bersama tuan Arsenio. apa kalian berdua sedang berkencan?" tanya pria itu.
"Mana mungkin gadis itu berkencan dengan tuan Arsenio, Dia pasti hanya disewa oleh tuan Arsenio untuk menemaninya saja." ucap wanita itu menatap sinis Daviena.
__ADS_1
Arsenio hanya menatapnya datar, tatapannya kemudian mengarah pada Daviena. gadis itu terlihat menundukkan kepalanya, sepertinya Dia Benar-benar sudah merasa sangat muak pada ayahnya, dan wanita itu.
"Tuan, dan nyonya. bisakah kalian pergi?, sepertinya kekasih ku Benar-benar tidak ingin diganggu." ucapnya.
"Gadis itu Benar-benar kekasih anda?" ucapnya tak percaya.
"Ya, Dia adalah kekasih ku. kenapa? apa kau merasa keberatan nyonya?" menatap sinis.
"Saya Benar-benar tak menyangka selera anda ternyata begitu rendah, tuan Arsenio. padahal banyak wanita di luar sana yang jauh lebih cantik dari gadis itu." ucapnya.
"Nyonya, jika sekali lagi anda mengatakan sesuatu yang buruk pada kekasih ku. maka aku tidak akan tinggal diam, ada konsekuensi nya jika kau terus mengganggu kekasihku." ucapnya dingin.
Mendengar ancaman itu membuat wanita itu mendengus kesal, sedangkan pria paruh baya itu merasa sedikit heran. bagaimana Daviena bisa bersama dengan orang terkenal seperti Arsenio. padahal Jelas-jelas gadis itu sudah Dia jual ke pelelangan, mungkinkah Arsenio yang telah membelinya.
...****************...
Daviena terlihat sedih sejak mereka pulang dari restoran tadi. gadis itu bahkan melamun saat menyantap makan malamnya. sikap anehnya mengundang pertanyaan di pikiran sang ibu. "Sayang, kau kenapa? apa kau memiliki masalah lagi dengan tuan Arsen?" tanya Reyana.
"Tidak ibu, kau tidak perlu khawatir. aku dan Arsen sudah tak memiliki masalah." jawabnya, gadis berusaha tersenyum agar ibunya tak merasa khawatir.
"Lalu mengapa kau terlihat sedih?" Reyana kembali bertanya.
Daviena terdiam, haruskah Dia mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan ayahnya tadi siang. ibunya pasti akan terkejut, lebih baik Dia tak memberitahu ibunya.
"Aku tidak terlihat sedih." tersenyum manis.
"Jika kau memiliki masalah, tidak perlu sungkan menceritakan nya pada ibu. ibu tidak mau kau memendam masalah mu sendirian." ucapnya.
__ADS_1
"Iya, ibu." ucapnya berbohong.
Batinnya Berkali-kali mengatakan maaf, kali ini Dia terpaksa membohongi ibunya, karena Daviena tidak mau ibunya kembali merasa sedih.