Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 14


__ADS_3

Hari sudah malam, namun Daviena sama sekali belum memejamkan matanya. gadis manis itu sama sekali tidak bisa tidur, Dia memandangi langit malam dari balkon kamarnya. pemandangan kota Benar-benar sangat indah, tetapi itu semua tidak dapat menghiburnya dari rasa khawatir nya "Ibu, aku merindukan mu." ucapnya pelan.


Pintu kamarnya terbuka, Daviena terlihat tidak peduli, Dia tahu siapa yang masuk ke dalam kamarnya tanpa melihatnya sekalipun. "Kenapa kau belum tidur?" tanya orang itu, Daviena hanya diam tidak merespon pertanyaannya.


"Kau berani mengabaikan ku,"


"Tuan Arsen, seharusnya anda sendiri juga harus tidur kan." jawabnya tanpa melihat ke arah Arsenio.


"Kau kesal karena aku tidak mau membantumu, itu sebabnya kau mengabaikan ku?" tanya Arsenio


"Aku sudah tahu kau tidak akan mungkin mau membantuku, namun seharusnya aku tidak berharap terlalu besar padamu. aku memang gadis yang lugu, mengharapkan sesuatu yang sudah jelas akan Sia-sia saja," ucapnya.


Arsenio mendekati Daviena, Dia berdiri di depan gadis itu. Daviena sedikit mendongak melihat pria di depannya. "Kenapa kau selalu menunjukkan ekspresi seperti itu, ekspresi yang penuh kesedihan?"


"Bukankah kau menyukai diriku yang seperti ini, melihatku menangis adalah tontonan yang paling menyenangkan di matamu kan." jawabnya.


"Ya, dan aku suka melihatmu menangis. namun bukan karena masalah keluarga mu, tetapi menangis karena perbuatanku padamu." Arsenio menyentuh pipi kiri Daviena, "Kau tidak boleh menangis tanpa seizin ku, karena tubuh, jiwa, dan ragamu adalah milikku." ucapnya menatap dalam Daviena.


"Aku Benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu tuan Arsen, kau Benar-benar sangat sulit untuk ditebak."ucapnya.


...****************...

__ADS_1


Akhirnya Daviena tertidur setelah dipaksa Arsenio, pria itu menghidupkan puntung rokoknya lalu menyesapnya. pikirannya saat ini mengarah pada sesuatu yang lain, namun yang jelas itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Pria berparas tampan itu meminta sekretaris nya, Joseph. untuk mengantarkannya ke rumah bordil yang sering didatangi nya. setibanya di sana, Arsenio segera mencari wanita itu, ibu Daviena.


Di dalam rumah bordil itu terdengar suara seruan kenikmatan dan jerit tangis dari sebuah kamar yang berada diujung ruangan, Arsenio dan Joseph mendekati kamar itu, di balik jeruji besi mereka melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik kini tengah digagahi oleh beberapa pria bertubuh besar, wanita itu menangis. sedangkan para pria itu begitu menikmati tubuh si wanita.


" Apa kalian begitu menikmatinya," Arsenio menatap mereka dengan tatapan datarnya. mereka yang baru menyadari ada kehadiran orang lain pun lantas segera menoleh ke arah orang tersebut, yang saat ini berada di luar jeruji besi.


"K-kau... Arsenio untuk apa kau datang kesini?" ucapnya yang tampak sangat terkejut.


"Apa kau datang ke sini untuk mencicipi tubuh wanita ini? maaf, tapi wanita ini sedang kami gunakan. kau bisa memilih wanita lain atau menunggu kami menyelesaikannya." ucap pria lainnya.


"Baik, tuan Arsen." Joseph segera pergi mencari Alice. sedangkan para pria itu kembali melanjutkan kegiatan panas mereka.


"T-tolong... tolong aku... hiks... " wanita itu berbicara pelan, meminta pertolongan Arsenio. mafia itu mengambil sesuatu dari saku celananya, itu sebuah Pistol Glock 17, Arsenio mengarahkan pistol itu ke arah para pria itu. salah satu dari mereka menyadari jika saat ini psikopat berdarah dingin itu sedang mengarahkan senjatanya ke arah mereka.


"T-tuan Arsen, apa yang sedang anda lakukan. kenapa anda mengarahkan pistol itu ke arah kami?" ucapnya yang mulai terlihat panik, kedua teman dari pria itupun sama paniknya. kegiatan panas mereka jadi terhenti karena perbuatan mafia itu.


"Saat ini aku ingin sekali melubangi kepala orang lain dengan peluru di dalam pistol ini, akan lebih baik kalian diam agar ini semua cepat berakhir." menyeringai.


"T-tuan Arsen, kenapa ada tidak mencari target lain. kami tidak pernah mencari masalah dengan anda." ucapnya ketakutan.

__ADS_1


"Tapi, aku ingin kalianlah yang menjadi targetku."


Para wanita yang melihat kejadian tersebut hanya bisa diam di dalam jeruji besi mereka, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mau ikut campur. ruangan itu bahkan Tiba-tiba terasa hening "T-tuan Arsen, tolong jangan bunuh kami. kami masih ingin tetap hidup," mohon salah satu dari mereka.


"Aku tidak menerima permohonan ampun dari hama kotor seperti kalian, dan hama sudah sepatutnya dimusnahkan." ucapnya, lalu menekan pelatuk pistolnya DOR!..., DOR!..., DOR!..., tiga peluru ditembakkan dan berhasil mengenai tubuh mereka. di antaranya ada yang mengenai kepala, lalu ada yang mengenai jantung dan satu lagi ada yang mengenai mata.


Darah berwarna merah pekat membasahi kamar itu, si wanita yang sebelumnya digagahi oleh para pria itu kini beringsut mundur saat melihat cairan merah pekat yang merembes keluar dari jasad ketiga pria itu, tubuhnya mulai bergetar dan rasa takut mulai menyerangnya.


Joseph kembali ke tempat Arsenio berada bersama Alice, wanita pemilik rumah bordil itu. "Apa yang sudah terjadi di sini?" ucapnya terkejut saat melihat ada tiga jasad pria yang sudah tidak bernyawa di dalam kamar itu. "Alice, aku akan membeli wanita itu dan membayar semua kekacauan ini," ucapnya.


Alice mengangguk, Dia sama sekali tidak keberatan jika Arsenio menghabisi para pelanggannya. asalkan mafia itu membayar semua kekacauan yang sudah diperbuatnya. Arsen Ialu memberikan sebuah kertas cek uang pada wanita itu " Senang berbisnis dengan anda tuan Arsen," Alice menatap kertas cek itu dengan perasaan senang, seperti biasa. Arsenio selalu memberikannya dalam jumlah yang besar.


"Joseph, bawa wanita itu, aku akan menunggu di mobil." ucapnya, Arsenio pergi meninggalkan tempat kotor itu.


Para wanita yang berada di dalam jeruji besi sesekali menggodanya, mereka sudah tahu apa yang sering dilakukannya. itulah mengapa mereka tidak terkejut saat Arsenio menembakkan beberapa peluru. menurut mereka, Arsenio itu begitu gagah, kuat, liar, dan juga ahli memuaskan wanita. sudah banyak wanita di luar sana yang bersedia menjadi Lac*r nya. para wanita itu tidak akan Segan-segan menyerahkan tubuh polos mereka pada mafia berhati es itu.


Joseph memasuki kamar wanita itu, si wanita terlihat begitu panik dan takut di saat yang bersamaan. tetapi Joseph mencoba untuk menenangkan nya, si wanita tetap saja terlihat panik ketika Joseph mulai mendekatinya "MENJAUH DARIKU!" ucapnya sedikit berteriak.


"Nyonya, ikutlah bersamaku. kau tidak perlu takut, aku bukanlah orang jahat. bukankah kau ingin keluar dari tempat ini? aku bisa mengeluarkan mu jika kau mau."


"Benarkah," wanita itu terlihat begitu senang saat mengetahui bahwa dirinya bisa keluar dari tempat menjijikkan itu. "Apa, aku Benar-benar harus mempercayai nya. aku ingin cepat keluar dari tempat ini, sepertinya aku tidak memiliki cara lain selain ikut bersamanya agar aku bisa keluar dari tempat ini." batinnya.

__ADS_1


__ADS_2