Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 41


__ADS_3

Wajah Daviena terlihat memerah setelah Arsenio melepaskan ciumannya, nafas keduanya Terengah-engah. Arsenio menjilat sudut bibirnya, Dia begitu menikmati ciuman terebut. Daviena yang melihat nya hanya bisa memalingkan wajahnya, Dia Benar-benar merasa sangat malu.


"Seperti biasanya, bibirmu selalu terasa enak." ucapnya menyeringai.


"I-ini sudah malam, sebaiknya aku tidur. besok aku harus pergi ke sekolah, selain itu anda juga harus pergi bekerja." ucapnya.


Daviena kemudian pergi meninggalkan Arsenio di ruang tamu sendirian, pria itu menatap punggung gadis itu yang perlahan mulai menjauh, lalu hilang di balik pintu "Dia Benar-benar sangat manis," ucap Arsenio.


Di dalam kamar, Daviena bersandar pada pintu kamarnya. perlakuan Arsenio tadi membuatnya terus memikirkan nya, Dia menghela nafasnya. kenapa pikirannya terus memikirkan tentang perlakuan mafia itu terhadap dirinya, padahal Jelas-jelas itu adalah tindakan pelecehan.


"Hahh, sebaiknya aku tidak memikirkan nya. itu membuat kepalaku sedikit pusing." ucap Daviena.


Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur nya, perlahan Dia berusaha memejamkan kedua matanya. tetapi Bayang-bayang Arsenio membuatnya tidak bisa memejamkan kedua matanya.


"Ayolah Daviena, lupakan yang baru saja terjadi." ucapnya pada dirinya sendiri.


Daviena sepertinya kesulitan untuk tidur, Dia menatap Langit-langit kamarnya. pikiran nya masih memikirkan tentang mafia itu, kenapa Dia tidak bisa mengalihkan pikiran nya dari pria psikopat itu. semakin Dia berusaha mengalihkan pikiran nya dari Arsenio, pikiran tentang Arsenio semakin terasa. Gadis manis itu Mengacak-acak surai rambutnya, frustasi.


...****************...


Si gadis mungil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing, semalam Dia tidur sekitar pukul 02 : 11 dini hari. Daviena Benar-benar tidak bisa tidur karena terus memikirkan tentang Arsenio, padahal hari ini Dia harus sekolah.


"Seharusnya aku tidak Terus-terusan memikirkan nya. hahh, ini membuat ku tidak enak badan." ucapnya.


Suara pintu terbuka membuatnya mengalihkan pandangannya ke arah pintu tersebut, di sana terlihat Arsenio yang sudah mengenakan setelan formalnya. sepertinya pria itu sudah Bersiap-siap pergi bekerja.


"Kau baru bangun? ini sudah pukul 07 : 30, kau bisa terlambat jika tidak segera mandi." ucapnya.


"Tuan Arsen, bisakah hari ini aku tidak sekolah. kepalaku sedikit pusing." ucap Daviena.


Arsenio mendekati Daviena, punggung tangan kanannya menyentuh dahi gadis itu. "Sedikit panas, sepertinya kau demam. beristirahat lah, aku akan memberitahu kepala sekolah bahwa kau tidak bisa masuk hari ini." ucapnya.


"Terimakasih."


Arsenio menyelimuti Daviena, Dia menyentuh pipi kiri gadis itu. raut wajahnya terlihat khawatir. "Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa mu." ucapnya.

__ADS_1


"Tidak perlu, ini hanya demam biasa. nanti juga akan sembuh dengan sendirinya." ucap Daviena.


"Kau harus tetap diperiksa oleh dokter," ucap Arsenio.


"Tapi... aku Baik-baik saja." ucapnya.


"Tidak ada penolakan, kau akan diperiksa oleh dokter." ucapnya mutlak.


Daviena menghela nafasnya, ucapan pria itu sama sekali tidak bisa dibantah. Arsenio menghubungi dokter pribadinya, Dia menyuruh dokter tersebut untuk segera datang ke mansion nya.


Butuh waktu sekitar lima belas menit bagi dokter tersebut untuk sampai ke mansion sang mafia, seorang dokter Laki-laki mengetuk pintu kamar Daviena, Arsenio membuka pintu kamar itu lalu menyuruh sang dokter untuk segera masuk dan memeriksakan kondisi Daviena.


"Dia hanya masuk angin, dan sedikit kelelahan. saya akan memberikan resep vitamin, dan obat untuk nya. Anda bisa membelinya di apotek atau di rumah sakit terdekat." ucap sang dokter.


Setelah menuliskan resep vitamin, dan obat. dokter tersebut pergi dari kamar Daviena. "Aku akan meminta ibumu membuatkan bubur hangat untuk mu," ucap Arsenio.


"Terimakasih, maaf karena aku telah merepotkan mu tuan Arsen. padahal kau harus pergi bekerja." ucapnya pelan.


"Hari ini aku tidak akan bekerja, aku akan menjagamu." ucap Arsenio.


"Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat saja. aku akan membeli vitamin dan obat untuk mu." Arsenio keluar dari kamar Daviena.


"Kenapa Dia bersikap begitu, mungkinkah Dia khawatir padaku." ucap Daviena.


Terkadang Dia tak mengerti jalan pikiran mafia itu, Arsenio seperti memiliki kepribadian ganda. di satu sisi Dia bersikap sangat lembut, dan di sisi lain Dia bersikap seperti iblis. kejam, dan sadis.


Reyana memasuki kamar Daviena dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat, dan segelas air putih. wanita paruh baya itu cukup terkejut mengetahui jika putrinya ternyata sedang sakit.


"Daviena, ibu membuatkan mu bubur. ayo dimakan." ucap Reyana pada putrinya.


"Terimakasih ibu." ucap Daviena. wanita itu menyuapi sesendok bubur ke mulut putrinya. Daviena menerima suapan demi suapan dari sang ibu, ini mengingatkan nya dengan masa kecilnya. dulu ibunya sering kali menyuapi nya saat makan.


Arsenio kembali ke mansion nya dengan membawa sebuah kantong plastik berukuran kecil berisi vitamin, dan obat untuk Daviena. terlihat bahwa gadis itu sudah selesai menyantap sarapannya yang berupa semangkuk bubur hangat.


"Ini, vitamin dan obatmu. kau harus meminumnya sekarang." ucapnya.

__ADS_1


Daviena membuka kantong plastik itu, di dalamnya ada beberapa vitamin, dan Obat-obatan. gadis itu mengeluh, kenapa Arsenio membeli vitamin, dan Obat-obatan sebanyak itu. padahal gadis itu hanya memerlukan beberapa saja.


"Bukankah ini terlalu banyak, tuan Arsen?" ucap Daviena.


"Kau harus mengonsumsi semua itu, agar kondisimu cepat pulih." ucapnya.


"Anda terlalu berlebihan, aku tak membutuhkan semua vitamin dan Obat-obatan sebanyak itu."


"Tentu saja kau membutuhkannya, aku tidak mau kau sakit lagi. jadi konsumsi vitamin, dan Obat-obatan yang kuberikan padamu sampai habis." ucapnya yang tidak suka dibantah.


"Hahh, baiklah. dan terimakasih sudah memberikan ku vitamin, dan Obat-obatan yang ku butuhkan" ucapnya.


Daviena meminum vitamin, dan Obat-obatan yang diberikan oleh Arsenio. setelah meminum obat, gadis itu memilih untuk beristirahat.


"Aku akan ada di sini untuk menjagamu." ucap Arsenio.


"Tuan Arsen, kondisiku sudah jauh membaik. anda bisa pergi ke perusahaan sekarang, aku tidak mau merepotkan tuan lagi." ucapnya.


"Sudah ku katakan bahwa aku akan menemanimu, dan menjagamu di sini. selain itu, Joseph bisa mengurus semuanya. jadi aku tidak perlu pergi ke perusahaan." ucap Arsenio.


"Tapi, kasihan Joseph. Dia harus bekerja sendirian tanpamu." ucap Daviena.


"Sudah biarkan saja, lebih baik kau beristirahat. jangan memikirkan apapun untuk saat ini, kau memerlukan banyak istirahat." ucapnya.


Daviena menghela nafasnya, kenapa Arsenio Tiba-tiba berubah menjadi pria yang protektif terhadap dirinya.


"Melihat sikapnya yang seperti ini, Benar-benar terasa sedikit aneh." batin Daviena.


"Tuan Arsen, apa mau tak merasa bahwa kau menjadi pria yang sedikit protektif padaku." ucapnya pelan, takut menyinggung Arsenio.


"Aku tidak protektif padamu, aku hanya merasa sedikit khawatir... jika kau sakit nanti siapa yang akan membuatkan ku makanan." ucap Arsenio.


"Jadi kau bersikap seperti ini hanya karena khawatir aku tak bisa membuatkan mu makanan lagi?" ucap Daviena.


Daviena menggembung kan kedua pipinya kesal, Dia pikir Arsenio Benar-benar mengkhawatirkan nya, tetapi ternyata tidak. mafia itu hanya memikirkan dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2