
Di sebuah hotel bintang lima di ibukota, ada sebuah acara pesta yang dihadiri oleh para Orang-orang dari golongan atas seperti pejabat, dan konglomerat. mereka saling berkumpul dan mengobrol satu sama lain, kebanyakan obrolan mereka mengenai bisnis. pesta bergaya klasik dan elegan itu memang cocok dihadiri Orang-orang dari golongan atas saja. suara musik ikut mengiringi acara tersebut.
"Hahaha, tahun ini penjualan kami Benar-benar meningkat. bahkan sudah banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan kami. jika terus seperti ini mungkin aku akan pensiun lebih cepat." terkekeh.
"Luar biasa, perusahaan kami juga mengalami banyak peningkatan. bahkan kami terpaksa membuat karyawan kami lembur setiap malam agar bisa memenuhi permintaan konsumen."
"Hey, kudengar perusahaan Vincent Corporation juga mengalami banyak peningkatan, mereka hampir tak bisa memenuhi semua permintaan konsumen."
"Ya, sejak dulu perusahaan itu selalu lebih unggul dari Perusahaan-perusahaan yang lainnya. padahal saat ini, CEO perusahaan itu usianya masih terbilang cukup muda."
"Kalau tidak salah, CEO saat ini adalah cucunya kan. yang bernama Vincent Adonis Arsenio."
"Ada rumor mengatakan bahwa Dia itu adalah seorang psikopat dan Casanova penggila wanita."
"Entahlah, aku tidak tahu. mungkin itu hanya rumor, jangan mempercayai rumor yang bahkan tidak kita ketahui dari mana sumbernya."
...****************...
Sebuah limousine mewah berwarna putih menjadi pusat perhatian Orang-orang yang hadir malam itu. seorang pria turun dari limousine tersebut bersama dengan seorang gadis cantik. "Bukankah, Dia Arsenio. CEO yang terkenal itu." ucap seorang wanita yang berada tidak jauh dari sana.
"Dia tampan sekali, tubuhnya juga begitu gagah."
Para tamu yang baru saja tiba di hotel itu terpesona melihat ketampanan sang Casanova, gadis yang bersama Arsenio tentunya adalah Daviena. Dia mengenakan gaun berwarna keemasan yang senada dengan tas cantik yang dibawanya. sayangnya, gadis itu duduk di sebuah kursi roda. mengingat kedua kakinya yang belum sembuh dari lukanya.
Jika saja Daviena bisa berjalan saat ini, Dia pasti akan Benar-benar terlihat sangat sempurna. Arsenio mendorong kursi roda itu, membawanya masuk ke dalam hotel tersebut. pesta diadakan di lantai sepuluh. Dia dan Daviena menaiki sebuah lift untuk sampai ke lantai sepuluh.
Saat pintu lift terbuka, ada beberapa orang yang melihat ke arah mereka. namun kemudian semua mata mengarah pada mereka. "Dia, Benar-benar hadir malam ini." ucap seorang pria paruh baya.
"Ayah, Dia begitu tampan. siapa Dia?" tanya putrinya.
"Dia Arsenio, CEO muda dari perusahaan Vincent Corporation." jawabnya.
Seorang pria paruh baya berkulit sedikit kecoklatan datang menghampiri Arsenio dan Daviena "Selamat datang di pesta yang sederhana ini, tuan Arsen." ucapnya yang tak lain adalah sang penyelengara pesta.
__ADS_1
"Selamat atas pembukaan cabang perusahaan anda yang baru, tuan Brandy." ucapnya.
"Terimakasih atas ucapan selamat nya tuan Arsen, saya sangat senang karena dapat membuka cabang perusahaan yang baru. ini semua berkat anda yang sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami selama dua tahun ini." tersenyum.
Kedua pria berbeda usia itu saling berjabat tangan, Daviena hanya melihatnya saja tanpa mau mengatakan sepatah katapun. "Ngomong-ngomong, siapa wanita ini tuan Arsen? apa Dia pendamping mu malam ini?" tanya Brandy.
"Ya, Dia adalah pendamping ku malam ini." jawabnya.
"Dia terlihat masih remaja, kenapa anda memilih nya menjadi pendamping anda. bukankah masih banyak wanita di luar sana yang bersedia menjadi pendamping anda ke acara ini?"
"Tuan Brandy, bukankah anda tahu bahwa saya hanya memilih seorang wanita cantik untuk dijadikan pendamping saya saat pergi ke acara tertentu... coba anda lihat Baik-baik wajah gadis ini, Dia bahkan lebih cantik dari para Lac*r yang pernah saya temui."
Pria paruh baya itu menatap lekat Daviena, sesaat Dia terkagum dengan kecantikan gadis itu. ternyata Arsenio tidak salah memilih wanita untuk dijadikan pendamping nya di acara malam ini. Daviena merasa risih dengan tatapan Brandy, pria paruh baya itu lalu memegang tangan kanannya.
"Ternyata anda tidak salah memilih wanita, gadis ini Benar-benar terlihat sangat cantik. di mana anda mendapatkan gadis seperti ini?" tanya Brandy penasaran.
"Tuan Brandy, jauhkan tangan anda dari gadisku. kau membuatnya ketakutan." ucapnya dingin, Arsenio menyadari jika Daviena merasa tak nyaman dengan kehadiran pria paruh baya itu.
"Ah, maafkan aku. kecantikan nya membuatku tak bisa mengendalikan diriku."
"Sudahlah, sebaiknya kita nikmati saja pesta ini, tuan Arsen. jangan mengacaukan nya karena masalah seperti ini." ucapnya.
Arsenio sangat mengenal pria itu, Dia adalah pria hidung belang yang sering datang ke rumah bordilnya Alice. biasanya, pria itu menyewa para Lac*r untuk memuaskan nafsunya, istri dan Anak-anak nya tentu saja tidak mengetahui perbuatan bejatnya.
Arsenio tidak akan membiarkan Brandy sampai menyentuh Daviena lagi, dilihat dari tatapan pria itu. sepertinya Dia tertarik pada peliharaan nya "Tuan Arsen, tatapan pria itu... membuat ku merasa tidak nyaman." ucapnya. Brandy masih memperhatikan Daviena, walau saat ini dirinya sedang bersama sang istri.
"Tenanglah, ada aku bersamamu. kau tidak perlu takut," ujarnya.
...****************...
Selama acara berlangsung, Arsenio terus berada di dekat Daviena. saat ini, banyak para pria hidung belang yang menatapnya lapar, Seakan-akan gadis itu adalah mangsa yang empuk. Daviena hanya menunduk tak berani menatap mereka, Arsenio yang menyadarinya pun segera membawanya ke tempat lain.
"Tuan Arsen, bisakah kita pulang. aku Benar-benar tidak suka berada di sini." ucapnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi. oh iya, apa kau haus? aku bisa mengambilkan mu minuman jika kau mau."
"Aku sedikit haus." jawabnya.
"Kalau begitu tetaplah di sini, aku akan mengambilkan minuman untuk mu."
"Jangan Lama-lama." ucapnya.
Arsenio pergi mengambilkan minuman untuk Daviena, beberapa saat kemudian ada seorang pria yang menghampiri Daviena.
"Daviena," panggil orang itu.
Daviena menoleh ke arah samping kanannya dan melihat seorang pria bersetelan formal tengah tersenyum hangat padanya. "Tuan, Dillon." ucap Daviena.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan di sini? apa kau datang bersama seseorang?" tanya Dillon.
"Iya, aku datang bersama seseorang. Ngomong-ngomong, apa yang sedang anda lakukan di sini? tuan Dillon."
"Seperti yang kau lihat, aku juga di undang ke pesta ini." jawabnya.
Daviena sesekali berbincang dengan Dillon, sampai akhirnya Arsenio kembali ke tempat gadis itu berada. Dia cukup terkejut melihat Daviena yang sepertinya merasa akrab dengan orang yang sangat dibencinya. Arsenio lantas segera menghampiri mereka berdua.
"Daviena," panggil Arsenio.
"Tuan Arsen!" gadis itu terkejut saat Arsenio datang menghampiri mereka. Daviena sangat takut jika mafia itu sampai menghukumnya karena mengobrol dengan orang lain tanpa sepengetahuan nya.
"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Arsenio.
"Ah, jadi kau datang bersama pria ini?, Daviena." ucap Dillon. Gadis itu hanya diam dan menunduk.
"Jawab Daviena!, apa kalian berdua saling mengenal!" Arsenio terlihat kesal, Daviena mengangguk pelan menanggapi pertanyaan pria itu.
"Aku dan Daviena memang saling mengenal, kami pernah bertemu sebelumnya. kenapa kau terlihat kesal?, apakah kau kesal karena aku dan Daviena terlihat cukup akrab?" Dillon menyeringai.
__ADS_1
"Tutup mulut mu itu Dillon!, jangan sentuh barang yang bukan milikmu!" ucapnya kesal. biasanya Arsenio selalu dapat mengendalikan emosinya, namun saat berhadapan dengan Dillon. emosinya selalu saja naik.