Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova

Penghangat Ranjang Tuan Mafia Casanova
BAB 46


__ADS_3

Mereka yang ada di sana terdiam, aura di sekitar Arsenio Benar-benar mampu membuat Orang-orang itu tidak bisa Berkata-kata. wanita yang tadi bertanya pada Daviena bahkan kini bersimpuh memohon maaf pada Arsenio. tubuhnya sedikit bergetar karena merasakan aura membunuh di depannya, niatnya hanya ingin tahu tentang gadis itu. dan tidak bermaksud membuat Arsenio, maupun Daviena merasa tersinggung.


"Ini peringatan untuk mu,... jauhi adikku, dan sebisa mungkin jangan bertemu lagi dengan nya. apa kau mengerti." ucapnya datar.


"S-saya mengerti, tuan Arsenio." ucap wanita itu.


Arsenio kembali masuk ke dalam mobil, lalu menghidupkan mesin mobil nya, dan segera pergi meninggalkan sekolah itu.


Di tengah perjalanan pulang, Daviena memperhatikan Arsenio yang sedang mengemudi. Dia berterimakasih pada mafia itu karena sudah menolongnya. jika saja Arsenio tidak datang, mungkin Orang-orang di sana sudah tahu tentang identitasnya yang sebenarnya.


"Terimakasih karena anda sudah membantuku, jika saja anda tidak datang. aku pasti sudah terkena masalah." ucapnya.


"Tidak perlu berterimakasih, yang terpenting sekarang mereka sudah tidak mengganggu mu lagi." ucap Arsenio.


Setibanya di mansion, Arsenio dan Daviena dikejutkan dengan kehadiran Emira dan suaminya, Javier. sepasang suami-istri itu datang tanpa memberitahu putra mereka lebih dulu.


"Ibu, ayah kenapa kalian tidak memberitahu ku, bahwa kalian akan datang ke sini." ucapnya datar.


"Kami ingin mengejutkan kalian, selain itu... ibumu begitu merindukan calon menantunya." ucapnya tersenyum.


"Daviena kau Benar-benar sangat manis mengenakan seragam sekolah itu, ini pertama kalinya aku melihat mu mengenakan seragam sekolah." ucap Emira.


Wanita itu membuka ponselnya dan mulai memotret Daviena, Dia akan menjadikan foto Daviena sebagai Wallpaper layar ponselnya. Arsenio menghela nafasnya melihat tingkah laku ibunya yang terlalu berlebihan.


...****************...


"Jadi, kapan kalian akan menikah."


Arsenio membulatkan matanya mendengar ucapan sang ibu, wanita itu ingin dirinya segera menikah dengan Daviena. "Ibu, aku tahu kau dan ayah sangat menginginkan seorang cucu. tetapi tidak bisakah kalian bersabar, aku dan Daviena belum memikirkan sampai ke jenjang pernikahan." ucap Arsenio.


Emira menatap tajam Arsenio, Dia dan suaminya sudah cukup bersabar selama ini. namun kini tidak lagi, Emira dan sang suami Benar-benar ingin segera memiliki seorang cucu.

__ADS_1


"Arsen, apa kau mau ibu dan ayah sampai memberitahu kakekmu, agar Dia datang kesini?, dan memaksamu untuk segera menikah." ucapnya ketus.


"Ibu, kau mengancamku." ucapnya yang mulai terlihat kesal.


"Ya, aku mengancammu. itu ku lakukan agar kau mau menuruti keinginan kami, Arsen. ibu dan ayah hanya memiliki satu keinginan, yaitu kami ingin kau segera menikah dan berkeluarga." ucap Emira.


Arsenio Mengacak-acak surainya frustrasi, ibu maupun ayahnya Benar-benar tidak bisa memahaminya. padahal Dia adalah anak dari pasangan itu, tetapi tidak satu pun di antara mereka yang mengerti, bahwa dirinya tidak mau menikah dan berkeluarga. apalagi jika sampai memiliki seorang anak.


"Ibu, dan ayah akan mengatur tanggal pernikahan kalian." ucap Emira.


Arsenio mengepalkan kedua tangannya, jika terus begini. mereka pasti Benar-benar akan menikahkan nya dengan Daviena. Dia tidak boleh sampai menikah dengan gadis itu, walaupun Daviena adalah gadis yang sangat baik dan begitu lembut. tetap saja Dia adalah seorang wanita, kaum yang paling dibenci Arsenio.


Daviena hanya diam, namun di kepalanya terus terbayangkan dengan pernikahan. Dia dan Arsenio tidak saling mencintai, jadi bagaimana Dia dan Arsenio menyelesaikan masalah ini.


"Ibu, ayah tidak perlu Terburu-buru. lagi pula Daviena masih sekolah, selain itu Dia mana mungkin mau menikah di usia yang terbilang masih sangat muda. bukankah menikah di usia muda terlalu beresiko." ucapnya.


"Tapi, jika terus menundanya bukankah itu tidak baik. mungkin saja di lain waktu kau akan mengakhiri hubungan mu dengan Daviena. jika sampai itu terjadi, akan sulit bagimu untuk mendapatkan pasangan seperti Daviena." ucap Emira.


"Sayang, yang dikatakan Arsen ada benarnya juga. Daviena masih terbilang muda, jadi itu akan terlalu berisiko." ucap Javier.


"Tapi, Javier... "


"Kita tunggu beberapa tahun lagi, hingga usia Daviena cukup untuk menikah." ucap Javier membujuk sang istri.


Emira menghela nafasnya, mau tidak mau Dia harus bersabar dan menunggu sedikit lebih lama lagi. semoga saja hubungan Arsenio dan Daviena terus berlanjut.


Tak jauh dari sana, ada Reyana yang sedari tadi memperhatikan mereka, wanita itu tak pernah sekalipun melihat sepasang suami-istri itu di mansion Arsenio. apalagi ada putri kecilnya di antara mereka.


Kedua mata Arsenio, dan Reyana saling bertemu ketika mafia itu menoleh ke arah belakang karena merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikan Gerak-gerik mereka. "Kalian mengobrol saja, aku akan ke kamar mandi sebentar." ucapnya.


Bukannya pergi ke kamar mandi, Arsenio malah menghampiri wanita itu. "Bu Reyana, apa kau mendengar semua pembicaraan kami?" tanya Arsenio.

__ADS_1


"M-maafkan saya tuan Arsen, saya hanya lewat dan tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian." ucapnya sedikit membungkuk.


"Sepasang suami-istri itu adalah orang tua saya, mereka datang ke sini untuk menyuruh saya menikah... Daviena Berpura-pura menjadi kekasih saya, karena saya tak memiliki seorang kekasih. tetapi, sepertinya masalah ini malah berubah menjadi lebih besar." ucapnya.


Reyana terkejut mendengarnya, putrinya dan Arsenio Berpura-pura menjadi sepasang kekasih?


"Saat mereka bertanya padamu, kau katakan saja bahwa putrimu dan saya Benar-benar adalah sepasang kekasih." ucapnya.


"Baiklah, saya mengerti." ucapnya.


...****************...


Reyana memperkenalkan dirinya, setelah berkenalan dan sedikit mengobrol, mereka berdua perlahan menjadi dekat. kedua wanita itu membahas topik pembicaraan mengenai Anak-anak mereka. Javier juga ikut dalam pembicaraan itu.


"Aku, dan Daviena akan ke kamar. kalian lanjutkan saja mengobrol nya. ayo Daviena." ucap Arsenio.


Dia menggenggam tangan gadis itu, lalu membawanya pergi ke kamarnya. "Astaga, apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar?" ucap Javier.


"Mungkin mereka sedang membuatkan cucu untuk kita." ucap Emira diselingi kekehan ringan.


"Ini masih sore, jadi mana mungkin mereka melakukan hal itu. matahari saja belum terbenam." Javier ikut terkekeh.


Reyana merasa gelisah, Dia khawatir Arsenio akan melakukan sesuatu yang buruk pada putrinya.


"Semoga saja mereka tidak melakukan sesuatu di luar batas." batinnya.


Di dalam kamar, Arsenio Mengacak-acak surai rambutnya, frustasi. sekarang apa yang harus Dia lakukan, agar ibu, dan ayahnya itu tidak menyuruhnya untuk menikah secepatnya. apalagi saat ini Dia dan Daviena hanya Berpura-pura saja. cepat atau lambat, kebohongan tentang hubungan mereka pasti akan segera terungkap.


"Tuan Arsen, sampai kapan kita harus membohongi kedua orang tuamu. perlahan mereka akan sadar, kalau selama ini kita berdua hanya Berpura-pura saja." ucap Daviena.


"Semuanya bertambah semakin rumit." ucapnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2