Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Surgaku Pergi


__ADS_3

Ita, begitu orang-orang terdekat memanggilku. Aku lahir di pulau Kalimantan, Khatulistiwa. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara.


Sedari kecil, aku sudah di ajari untuk hidup mandiri oleh ibu dan ayahku. Belajar bertanggung jawab untuk diri sendiri dan adik-adikku.


Ibu sosok yang keras namun penyayang. Beliau selalu membelaku di saat ayah mulai bertindak kasar padaku untuk kesalahan sepele dan tak kusengaja bahkan bukan karena kesalahanku.


Tangan yang seharusnya membimbingku begitu ringan mendarat ditubuh kecilku. Aku hanya bisa menangis dan berlari bersembunyi di balik tubuh ibu.


Hanya 8 tahun aku bisa merasakan pelukan dan pembelaan ibu, tepat di saat aku duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Mendung seakan mengelili kami.


Yah, Allah lebih menyayangi ibuku. Setelah lebih dari 4 tahun ibu berjuang dengan penyakit paru-parunya. Bukan TBC, tapi ada yang tega meracuni ibuku.


Setelah kepergian ibuku, kami tinggal berasama nenek. Ibu dari ayahku karena ayah harus kembali merantau di kota lain untuk mencari nafkah untuk kami.


Aku dan Fitri memilih untuk tidak melanjutkan sekolah di saat kenaikan kelas. Guru-guru kami sangat menyayangkan keputusan kami untuk berhenti sekolah karena kami termasuk anak-anak berprestasi di sekolah, namun himpitan ekonomi yang menjadi faktor utamanya dan demi adik-adikku yang masih kecil-kecil.


Nenekku tidak bisa dikatakan nenek penyayang, ia sama seperti ayah. Aku dan adikku Nur selalu jadi pelampiasan kemarahannya. Namun, lain sikapnya dengan Fitri dan adik bungsuku Aji, ia bisa lembut dalam bersikap.


Aku yang notabene anak pertama harus banyak mengalah demi adik-adikku, meskipun aku belum mengerti apa itu perjuangan hidup di luar sana.


Beberapa bulan setelah aku berhenti sekolah, aku ditawari menemani cucu pak Kades di desaku. Usianya 5 tahun, bernama Mia. Menemaninya dari jam 07.00 pagi hingga jam 17.00 sore dengan upah dua ratus rinu kala itu. Bagiku nominal itu sudah terbilang besar untuk seusiaku, bisa kugunakan membantu nenek berbelanja keperluan dapur untuk makan kami di rumah.


Kukira dengan aku bekerja, nenek akan bersikap manis terhadapku. Namun, tidak sama sekali. Nenek hanya bersikap manis ketika aku menyerahkan uang hasil kerjaku kepadanya, setelah itu ia akan bersikap seperti biasanya, ketus dan kasar.


Sedih, sangat sedih tapi demi adik-adikku, aku rela. Ayahku hanya pulang sebulan sekali karena jarak ditempatnya bekerja jauh dari desa kami. Bisa setengah hari perjalanan menggunakan kendaraan umum karena kami tidak mempunyai kendaraan sendiri.


Setahun meninggalnya ibu, ayah berniat untuk menikah kembali dengan gadis yang sudah berumur bernama bu Tina. Tempat tinggal kami hanya beda desa tapi masih satu kecamatan. Awalnya aku tak menyetujui pernikahan ayahku, karena banyak cerita jika ibu tiri tidak sebaik ibu kita sendiri. Namun, apalah daya anak seusiaku, bahkan bicara pun aku tak berani menyuarakan isi hatiku.


Hari pernikahan itu berlangsung sederhana di rumah keluarga pengantin wanita yang merupakan tetangga nenekku. Menikah hanya secara agama, yang penting sah menurut agama, karena ini pernikahannya yang kedua kalinya. Aku dan adik-adikku bahkan tak diajak berfoto bersama saat itu. Entahlah, apa ibu tiri kami menyukai kami atau tidak, yang penting ayah bahagia dan ada yang membantu mengurusi adik-adikku kata ayah saat itu.


Setelah pernikahannya, ayah tidak lagi bekerja di luar kota, tapi memilih kerja serabutan seperti memetik kelapa dari pohonnya dan bersawah bersama ibu tiriku yang kebetulan memiliki beberapa petak tanah sawah.


Setahun pernikahan ayah dan ibu, mereka di karuniai anak laki-laki yang sehat dan kami semua menyayanginya. Bertepatan dengan itu, di desa ibu tiriku sedang musim panen padi yang sebagian besar pemilik sawah disana mencari orang-orang yang bisa memanen padi. Nenekku tertarik dan memboyong kami semua ke desa ibu tiriku. Kami senang karena bisa berkumpul bersama ayah dan ibu tiriku. Ingin merasakan mempunyai keluarga yang seutuhnya.


Ibu awalnya bersikap baik dan keibuan kepada kami. Namun, itu sebelum ia memiliki anak sendiri. Setelah adik kecil kami lahir, aku sering melihat ibu tiriku memarahi adik-adikku dan tak segan-segan mencubiti hingga membekas kebiruan dipaha atau tangan adik-adikku. Aku yang melihat kejadian itu, hanya bisa menangis tanpa bisa membela apalagi mengatakan kebenarannya pada nenek dan ayahku karena mereka tidak akan percaya.


***


Pagi itu, aku diajak nenek menemaninya ke sawah untuk memanen padi tetangga, sedangkan ketiga adikku ditinggal di rumah. Aku senang karena sepulang dari memanen atau waktu istirahat bisa kugunakan untuk memetik sayur atau mencari keong emas untuk lauk kami makan. Sederhana memang, tapi setidaknya aku tak harus menunggu ibu membagi lauk kami ketika makan. Ah ...masih ada rasa syukur dihatiku karena seusiaku sudah bisa memasak sayur dan lauknya. Sebelum ibuku meninggal, ia sudah mengajariku banyak hal hingga tidak harus merepotkan orang lain katanya ketika ia tiada. Dan itu terjadi. Langit takkan selalu cerah menunggui langit biru.


Sepulang kami dari sawah aku mendengar adikku Fitri menangis. "Kenapa Dek? Kok nangis?" tanyaku pada Fitri.


"Ibu memukul kepalaku pake saji kayu, Kak ...," tangisnya semakin keras dengan beberapa nasi panas yang masih tertinggal di atas rambutnya.


Kuraba kepala Fitri, terdapat benjolan lumayan besar. Nenek yang melihat cucu kesayangannya menangis kesakitan, segera masuk kedalam rumah tanpa mencuci kakinya terlebih dahulu yang penuh lumpur menyonsong ibu.


"Kamu apakan Fitri Tina?" tanya nenek dengan suara bak halilintar di siang bolong memenuhi rumah sambil bercakak pinggang.

__ADS_1


"Ah ... cucumu itu Bu. tahunya hanya makan saja. Kuminta mengaduk nasi di dalam dandang saja dia tak bisa," sahut ibu dengan suara tak kalah keras sambil menggendong anaknya.


"Kamu tidak lihat Fitri itu tubuhnya tak bisa menjangkau tinggi dandang itu Tina ..?" nenek masih tidak terima sambil mengelus kepala Fitri.


"Sudahlah, sebaiknya ibu bawa semua cucu-cucu ibu yang tak berguna ini kembali kerumahmu, di sini ngabisin berasku saja," sahut ibu tak mau kalah.


Pada saat kejadian itu, ayah belum kembali dari memetik buah kelapa milik juragannya. Nenek pun memintaku mengemasi pakaian kami untuk di bawa pulang. Setelah selesai, kami berangkat tanpa makan terlebih dahulu menyusuri jalan desa yang cukup jauh untuk sampai ke tepian sungai. Disana ada kendaraan air bermotor yang bisa kami tumpangi ke arah pasar kecamatan.


Lelah dan lapar tentu saja hanya bisa kutahan. Di daerah kami, memukul menggunakan saji nasi yang terbuat dari kayu itu sangat dilarang. Pantangan kata nenek karena bisa menyebabkan pendek usia yang terkena pukulannya. Wallahu'alam, hanya Allah yang Maha Mengetahui.


Satu jam perjalan jalur sungai, kami pun sampai di pasar kecamatan. Nenek membeli bumbu dapur untuk kami masak bersama keong emas yang kuperoleh dari sawah tadi pagi dan sedikit beras.


Sesampainya di rumah aku dan nenek bergegas masak karena adik-adikku sudah kelihatan sangat lapar. Si bungsu yang tidur di gendongan, nenek baringkan di kamar.


Setelah kami semua selesai makan siang, yang tidak lagi bisa dikatakan siang hari. Tak lama terdengar ucapan salam dari seseorang di luar rumah, yang ternyata Bi Atik tetangga kami. "Assalamualaikum Mak, sibuk tidak?"


"Waalaikumussalam, masuk Tik. tidak sibuk, baru selesai makan," jawab nenek.


"Baru pulang dari rumah Tina, Mak? Bagaimana panennya?"


"Iya sudah tadi siang pulangnya Tik, ada kejadian di sana jadi kami terpaksa pulang sebelum panennya selesai."


"Kejadian apa Mak? Kan sayang di tinggal panennya masih banyak yang ngasih upahan panen kan Mak?" tanya bi Atik lagi.


"Tina memukul Fitri menggunakan saji kayu Tik. Tina meminta Fitri mengaduk nasi di dandang. Ya kamu pasti tahu, Fitri itu belum seberapa tingginya, sedangkan dapur di sana melebih paras pinggang kita yang dewasa. Kami di usirnya Tik, ngabis-ngabisin beras nya di sana," jelas nenek pilu.


"Ya sudah lah Mak, mulai besok ikut saya saja nyisipin kulit ari kelapa yang telah dikupas dari batoknya itu loh Mak. Kebetulan mereka lagi mecari banyak karyawan. Produksi lagi banyak-banyaknya permintaan," ajak Bi Atik.


"Alhamdulillah kalau begitu Tik. Aku mau ikut, tapi cucu-cucuku gimana Tik di rumah?" nenek tampak bingung.


"Emak masakin aja dulu mereka sebelum berangkat Mak. Fitri sudah bisa Emak andalkan untuk menjaga Nur dan Aji kan? Sedangkan Ita bisa Mak ajak serta untuk mengumpulkan kelapanya. Soalnya kalau kita tidak gesit mengambil bagian, bisa-bisa tidak dapat bahan Mak," papar bik Atik.


"Baiklah Tik, aku mau. Bagaimanapun, kami perlu makan dan susu buat Aji. Ayahnya sudah tidak bisa kami harapkan semenjak dia sudah menikah lagi," lirih nenek memandang jauh ke depan.


"Pukul berapa kita berangkat, Tik?"


"Truk jemputannya biasa datang jam 05.00 subuh Mak, jadi kita nungguin di pasar saja."


"Besok, aku ke rumahmu dulu ya, kita sama-sama," pinta nenek.


"Iya mak, ya sudah saya pamit dulu ya Mak, udah sore. Jangan lupa besok bawa bekal mak buat makan siang. Assalamualaikum."


"Iya Tik. Waalaikumussalam."


Kulihat nenek terdiam, mungkin berfikir bagaimana besok ia akan meninggalkan cucu-cucunya untuk bekerja.


Sebelum tidur, nenek memanggilku dan Fitri. Nenek menyampaikan jika besok aku dan nenek akan bekerja. Fitri diminta menjaga Nur dan Aji.

__ADS_1


Nur yang saat itu berusia lima tahun dan Aji 16 bulan, tidak akan mudah menjaga mereka. Apalagi Aji baru saja bisa berjalan dan harus ekstra menjaganya. Fitri mengiyakan apa yg disampaikan nenek. Sebelum jam 05.00 subuh kami sudah siap, berharap tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Sesampainya di pasar, mobil telah menunggu. Kami pun bergegas naik ke truk besar tersebut. Tiba di PT kelapa yang kami tuju nenek mendaftar sebagai karyawan baru.


Aku harus gesit mengumpulkan kelapa untuk nenek kupas kulitnya yang nantinya dicuci bersih dan di timbang. Satu kg kami mendapat upah lima ratus rupiah. Hasil dari kupasan kelapa bersih itu nantinya akan dibuat berbagai jenis produk termasuk untuk kosmetik.


Beberapa bulan bekerja di sana aku dan nenek telah lancar menggunakan pisau khusus yang tajam untuk mengupas. Walaupun pada awalnya aku harus mendapatkan luka-luka dibeberapa jariku tapi itu tak menyurutkan semangatku demi sesuap nasi.


Pagi Minggu itu, kami kedatangan tamu. Kebetulan kami libur bekerja. Bi Utin dan Pak Kus suami istri beserta anak mereka kak Tia yang usianya 3 tahun di atasku.


Bibik membawa banyak buah tangan. Ada beras, minyak, mie instan, dan ikan. Tentu saja nenek sangat senang. Cukup untuk makan kami dua minggu kata nenek. Alhamdulillah ...


Ternyata kedatangan mereka ke rumah, berniat untuk mengajak salah satu dari kami tinggal bersama mereka untuk menemani anak semata wayangnya ketika mereka bekerja. Mereka bekerja di sebuah kantor daerah di kota mereka.


"Mak, biarlah Fitri atau Ita ikut saya ke rumah, untuk menemani Tia Mak." pinta Bik Utin mengutarakan niatnya.


"Apa tidak merepotkan kalian Utin? cucu-cucuku ini tak pernah ikut orang lain."


"Tentu saja tidak Mak, kami tahu mereka anak-anak yang baik. Nanti saya daftarkan mereka sekolah kembali agar masa depannya terjamin. Mengurangi beban Emak di sini."


Aku yang mendengar percakapan nenek dan Bibik antara senang dan haru. Senang jika bisa sekolah kembali dan sedih jika harus meninggalkan adik-adikku berjauhan. Kulihat nenek berfikir siapa yang akan ia pilih untuk ikut Bik Utin. Helaan nafasnya begitu berat.


"Tenang saja Mak. Setiap bulan, hari Minggu mereka boleh pulang kemari, atau Emak yang ke rumah kami, InsyaAllah akan ada uang belanja untuk Emak dan adik-adik mereka," hibur bibi menyakinkan.


Nenek masih menimbang siapa yang akan nenek relakan pergi untuk kembali merajut masa depannya. Walau bagaimanapun cucu-cucunya adalah amanah dari mendiang menantunya yang harus tetap ia jaga. Helaan nafas kembali terdengar, nenek menghirup kopi hitam pekatnya perlahan.


"Baiklah Utin, kamu boleh bawa Ita bersamamu, didik dan jagalah dia seperti anakmu sendiri karena dia anak sulung yang juga harus mendidik adik-adiknya nanti, putus nenek.


"Alhamdulillah ... Iya Mak pasti itu, tidak mungkin Utin menyia-nyiakan anak piatu Mak. Apalagi ponakan Utin sendiri .. Iya kan pak?"


"Iya Mak, insyaAllah kami akan mendidik Ita seperti anak kami sendiri," timpal Pak Kus.


"Alhamdulillah kalau begitu Utin dan nak Kus. Emak percayakan cucu Emak kepada kalian. Urus saja surat kepindahan sekolah Ita di sekolahnya yang lama. Sudah satu tahun lebih Ita berhenti sekolah, raportnya pun masih di sana."


"Iya Mak, kami akan menginap dulu malam ini di sini, besok pagi kami akan ke sekolah Ita mak."


Aku dan Fitri yang bermain di teras rumah bersama Nur, Aji dan kak Tia saling berpandangan mendengar percakapan nenek dan Bik Utin. Berat rasanya meninggalkan adik-adikku, kami tak pernah berpisah apalagi akan bertahun lamanya. Namun, demi masa depan aku harus kuat.


Keesokan harinya aku bersama Bibikku kesekolah meminta surat pindah sekolah. Seharusnya aku duduk di kelas empat sekolah dasar saat ini. Urusan sekolah telah selesai, selepas dzuhur nanti kami akan berangkat kerumah paman dan bibikku. Aku mengemas baju seperlunya saja karena bik Utin mengatakan, banyak baju kak Tia yang tidak muat lagi, jadi bisa kugunakan saat di sana. Alhamdulillah ...


Aku bagai buah simalakama, serba salah. Aku dan Fitri tak pernah berpisah apalagi usia kami hanya berbeda satu tahun saja. Di mana ada aku di situ ada dia. Jam menunjukkan pukul 1 siang, kami bersiap-siap berangkat. Aku berpamitan pada nenek. Ayah tidak pulang, karena tidak ada yang mengabarinya. Nenek dan Fitri menangis melepas kepergianku, begitupun aku. Aku pergi untuk kembali. Semoga ini jalan yang di berikan Allah untuk memperbaiki nasib kami kedepannya.


***


Sesampainya di rumah Bik Utin yang lumayan besar berlantai dua, pas menghadap pemakaman khusus keluarga kerajaan Amantubillah. Pemakaman di sini tidaklah seseram pemakaman yang ada di desa. Makam di pagari tembok berwarna hijau, dengan gerbang berwarna gold, oenuh aksen berciri khas kerajaan.


Di rumah Bik Utin tidak hanya ada keluarga inti, tapi juga ada keponakan Bibik yang lain. Yaitu kak Mimin dan kak Ijum yang merupakan saudara kandung. Kak mimin duduk di kelas tiga SMA, kak Ijum kelas satu SMA.

__ADS_1


Keesokan harinya, bi Utin mengantarkanku ke sekolah yang baru. Di sana, aku di terima di kelas lima. Aku melangkahi satu tahun pelajaran yang kulewati. Semoga aku bisa mengejar ketertinggalanku.


__ADS_2