
"Sepertinya dia suka sama kamu."
Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Ibu segera menuangkan air minum dan memberikannya padaku.
"Nek, yang benar saja Nek? Ita masih kecil, apa yang dia lihat dari anak sekecil Ita? Gak laku apa di kota sehingga mencari anak di bawah umur ke mari?"
"Ah ... kamu tahu apa? Ikuti saja saran nenek ... ini demi kebaikanmu dan juga keluarga kita!" cecar nenek dengan nada sinis
Aku sudah tak berselera untuk melanjutkan makanku. Ayah dan ibu hanya diam. Adikku Nur memandangku sayu. Jika ada Fitri di sini dia akan membelaku. Kuatkan aku ya Rabb-ku.
Jumat sore Fitri datang. Seperti biasa tangannya selalu penuh membawa segala macam makanan dan buah untuk kami. Kedatangannya yang selalu kunanti, tempatku berbagi segala beban. Dia memperhatikanku sekilas.
"Kenapa kamu Kak? Kok murung gitu? Ada masalah?"
"Kamu kalau nanya satu-satu kenapa sih Fit?" rajukku.
"Ya aku lihat kamu kayak lagi putus cinta gitu? Habis dipukulin lagi sama Ayah atau Nenek?" terkanya.
Dengan cepat aku menutup mulutnya dengan telapak tanganku dan menggeleng. Fitri melihatku demikian cepat menepis tanganku dan tertawa terbahak-bahak.
"Ya sudah, nanti kamu cerita ya Kak. Ayo kita bergabung sama yang lain makan buahnya," Fitri menarik tanganku menuju dapur.
Aku mengangguk mengikutinya dari belakang. Fitri lebih dewasa dariku dari segi pemikiran. Keadaanlah yang membentuknya demikian, dewasa sebelum waktunya. Aku pun menceritakan semuanya pada Fitri. Dia menanggapinya seraya mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Duh ... ternyata Kakakku ini sudah ada yang mau ngelamar ya?" candanya.
"Jangan ngawur kamu, aku masih 14 tahun ...," sungutku
"Becanda kali Kak, sewot banget?" sahutnya seraya menaik turunkan kedua alisnya.
"Gini aja, Kamu turuti saja apa mau Nenek dan Ayah."
"What?! Kamu mau jerumusin aku juga Fit?" tanyaku berang dan kecewa.
"Dengar dulu Kak rencana aku, daripada Kakak nanti dipukulin Nenek dan Ayah karena dianggap membantah lagi?"
Aku yang mungkin pendiam ini kadangkala juga jadi anak pembangkang jika sudah benar-benar merasa apa yang diinginkan ayah dan nenek itu kelewatan batas. Dan pada akhirnya aku lah yang akan menerima pukulan-pukulan dari mereka. Aku sudah lali menerima pukulan diseluruh tubuhku.
__ADS_1
Aku masih ingat bagaimana nenek memperlakukan saat masih ada ibuku. Nenek memelintir jari tangan kananku hanya karena aku memungut sampah daun kering yang ada di atas kepala nenek. Ketika itu kami sedang bersantai sore di teras rumah. Mungkin sampah tersebut diterbangkan angin. Aku menangis semaunya. Apa lah daya bocah berumur 5 tahun? Tanpa bisa melawan apalagi mengelak jika ada orang dewasa yang menyakitinya? Ibuku berlari mendapatiku. Ibu menatap nenek dengan tatapan yang entah. Kulihat ibu ikut meneteskan air mata dan membawaku masuk ke kamar, lalu menidurkanku bersama Fitri. Aku terlelap dalam sedu sedan khas bocah tapi itu tak lama. Kembali terdengar suara teriakan marah nenek pada ibu.
"Kamu bukan anak mantuku ...! Sampai aku mati kamu dan anakmu bukan dari keturunanku! Kuharamkan air susuku!" suara nenek begitu lantang sambil mengacungkan kampak kepada Ibu. Kulihat ibu hanya bisa menangis tanpa menjawab sepatah katapun dari nenek.
Ibu dari kecil sudah yatim piatu. Ibu mempunyai dua orang kakak laki-laki tapi mereka hidup terpisah. Aku tak pernah tahu bagaimana kisah kakek dan nenekku dari ibu. Aku memang masih kecil saat kejadian sore itu, tapi hingga saat ini aku ingat semuanya. Semua perlakuan nenek terhadap ibuku. Semoga ibu tenang di sisi Allah Subhana Wa Ta'ala dan husnul khotimah. Seorang mualaf yg teraniaya oleh orang-orang terdekatnya. Alfateha.
.
.
.
Sabtu sore, menjadi sore yang menyebalkan untukku. Tentu saja hadirnya si om-om di rumah nek Siti. Fitri cekikikan melihat ekspresiku.
"Sudah Kak, jangan di lihat terus itu yang di sebelah rumah, nanti besar kepala," tegur Fitri.
"Bukannya ngeliatin, aku kesal," sungutku.
"Nanti malam aku temenin kalau dia datang, awas aja macam2, kita botakin dia ...," sahut Fitri masih seraya tersenyum. Ide yqng patut dicoba.
Nenek sudah lebih dahulu pergi ke rumah nek Siti karena melihat banyak oleh-oleh yang di bawa si om-om itu. Aku bergidik ngeri membayangkan harus ngobrol apalagi berdekatan dengannya. Ayah hari ini tidak di rumah, sedang pulang ke rumah ibu.
"Masuk Nak Philip, Nenek panggilkan Ita ya?" sambut nenek sumringah.
"Ita itu sudah ada nak Philip, ayo temenin dulu dia ngobrol ...," perintah nenek.
"Tapi nek ...?"
"Sudah, jangan ada kata tapi. Ayo cepat keluar ...," pinta nenek sambil berlalu.
"Ayo Kak, aku temani. kita lihat dia gimana ...."
Akhirnya aku pun menuruti ajakan Fitri untuk keluar. Aku dan Fitri duduk agak jauh dari si om-om. Fitri memperhatikannya dari atas hingga ke bawah dengan teliti. Membuat si om-om salah tingkah. Memang adikku ini terkenal cerewet dan killernya.
"Dari mana om?" tanya Fitri.
"Dari kota Dek."
"Adek lagi, Fitri aja om."
__ADS_1
"Jangan panggil om dong Fit, saya belum nikah loh?" kilahnya.
"Om kan sudah tua, ya pantesnya dipanggil om dong?" celetuk Fitri.
Aku hanya menjadi pendengar saja. Kulihat si om melengos kesal. Aku dan Fitri tersenyum geli.
"Mau jalan sama aku Ta?" tanyanya.
"Gak om di rumah saja." sahutku.
"Kita bisa beli bakso atau nasgor atau lainnya?" tawarnya lagi.
"jika Kakakku pergi, aku ikut ya Om?" tanya Fitri sengaja.
"Kok ikut? Kan Om ngajakin Kakaknya saja," sahut si om dengan nada tak senang walaupun dia tertawa.
"Aku ini bodyguard nya Kakak, jika aku tidak boleh ikut, kalian tidakak boleh pergi juga," ancam Fitri.
"Oke-oke. Tidak apa-apa kita pergi bertiga," dia mengalah.
"Gak Om, lain kali saja," tolakku cepat.
"Baiklah kalau tidak bisa," sahutnya dengan nada kecewa.
Alhamdulillah batinku. Tak lama om Philip pun pamit pulang. Aku dan Fitri bergegas menutup pintu rumah.
Beberapa kali om Philip ke rumah, dan selalu kuminta Fitri pulang disaat om philip akan datang. Dulu aku sudah menggunakan hp merk n*ki* 2100 yang mempunyai senter.
Itu sudah menjadi barang mewah untukku bisa berkomunikasi dengan Fitri.
***
Tiga bulan perkenalanku dan om Philip, dan hampir tiap minggu dia berkunjung ke rumah hampir membuatku gila. Bagaimana tidak? Aku yang masih bocah ini harus berhadapan dengan lelaki seusia ayahku?
Ayah dan nenek tetap santai menanggapi ketika om Philip datang, bahkan mereka mengizinkan om Philip membawaku pergi. Aku sangat tertekan. ingin menjerit, menangis,memberontak.
Namun, aku takut itu akan menjadi malapetaka untukku karena ayah tidak menerima sebuah penolakan jenis apapun dari anak-anaknya. Tidak ada toleransi. Semua yang mereka tentukan untuk kami maka itulah yang terbaik bagi kami. Egois bukan? Dan itulah yang membentukku, bahkan adik-adikku menjadi sosok pemberontak serta keras kepala. Salah siapa?
💜💜💜
__ADS_1