Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Poison? Ibu Pov 10


__ADS_3

Dengan langkah gontai kususuri jalan panjang, terjal dan berliku. Aku tak tau sampai kapan akan kutemui ujung jalan yang membawaku kesebuah tempat yang bernama kebahagiaan bahkan surga. Mungkinkah surgaku bukan berada di alam fana ini? Masih tersembunyi di tempat nan jauh di sana? Tak lama lagi kurasa, sebentar lagi kan kugapai bersama Ridho-Nya.


.


.


.


Sore hari kami telah sampai di rumah. Anak-anak menyambut kami dengan celoteh khas mereka. "Ibu dan ayah darimana? oleh-olehnya mana? Kok kami ditinggal sih Bu?" Ah, rindu walau hanya sehari kutinggalkan mereka serasa sewindu kami berpisah. Kupeluk erat anak-anakku, seakan menguap segala beban ketika mencium bau tubuh mereka. Begitu sederhana bahagia seorang ibu bukan?


Pagi ini, mulai kukonsumsi obat itu dengan susah payah, karena ukurannya yang lumayan besar. Tak mengapa asal aku bisa segera sembuh demi suami dan buah hatiku.


"Minum obat apa Bu? Ibu sakit ya?" tanya anak sulungku.


"Gak kok, ibu gak sakit. Ini vitamin biar ibu gak lemes lagi," dustaku.


"Ita sekolah ya, sarapan dulu udah ibu siapkan," Ia mengangguk lalu memghabiskan sarapannya. Aku menatap anak dan suamiku.


"Dek, jangan melamun gitu, gak baik untuk kesehatanmu," tegur bang Adi.


"Gak kok Bang, adek baik-baik aja," jawabku sekenanya.


Ia menghembuskan nafas panjang, tau saat aku berbohong. "Bagaimana kalau kita cari alternatif lain dek?" usul suamiku.


"Maksud Abang?"


"Kita ke kampung orang tuamu, kudengar dari kakakmu di sana ada paman kalian yang bisa mengobati hal-hal gaib," jelasnya.


"Tapi Bang, di sana jauh dan bagaimana dengan anak-anak?" lirihku.


"Kita bawa serta mereka, tak ada salahnya kan?"

__ADS_1


"Iya. Kapan kita akan berangkat?"


"Besok, berkemaslah sekarang. Pagi-pagi sekali kita berangkat," ajaknya.


"Baiklah bang. Beritahu Ibu dulu ya?" Suamiku mengiyakan dengan anggukan lalu beranjak pergi ke rumah ibunya.


Aku berkemas seadanya, lebih banyak pakaian anak-anak. Kami tidak tau akan berapa lama di sana.


Keesokan harinya, kami berangkat saat masih gelap agar mudah mendapatkan angkutan umum. Dari sini kami menggunakan ojek, lalu bus. Pindah lagi ke angkutan umum kedua, sesampainya di kabupaten kami akan pindah bus lagi untuk bisa mencapai kampung orang tuaku. Lelah sudah pasti, tapi anak-anak menikmati perjalanan mereka. Ita mengajak adik-adiknya menyanyikan lagu yang ia pelajari di sekolah.


Sore hari, kami sampai di tempat tujuan. Kami akan menginap di rumah kakak tertuaku bang Sifa. Kebetulan ia belum menikah, jadi kami lebih leluasa di sana. Ia menyambut kami dengan suka cinta, terlebih pada para keponakannya.


Suamiku menceritakan semua kejadian yang kualami. "Besok kuantar kalian ke sana, kita lihat apa yang terjadi," geram bang Sifa. "Sekarang kalian beristirahat dulu, pasti lelah dengan perjalanan panjang," perintahnya.


Aku tidur dengan perasaan penuh tanda tanya, seakan sulit untuk menutup mata. Begitupun suamiku, nampak sangat gelisah.


Tanpa terasa kokok ayam jantan bersahutan tanpa mata ini terpejam. Aku bangun menyiapkan sarapan dan kopi untuk suamiku dan kak Sifa. Selesai menyantap sarapan sederhana kami, kak Sifa bergegas mengajak kami ka rumah paman yang kami panggil pak Tuha yang artinya paman yang kami tuakan di kampung.


Beliau memasukkan beberapa jenis batuan dan mengaduknya menggunakan keris kecil. Aku, suami dan bang Sifa takjub. Kami seperti dapat melihat sebuah banyangan seseorang di dalam putaran air tersebut. Aku mengenali siapa pemilik bayangan itu. Aku terperangah begitupun suamiku.


"Kau di racun anakku, tapi sebenarnya ini bukan untukmu," tutur pak Tuha.


"Bisa di kembalikan racun itu kepada pemiliknya pak Tuha?" tanya suamiku dengan suara geram.


"Tergantung Anna, apakah dia mau?" tanya balik pak Tuha.


Aku berpikir sesaat. Menatap dalam manik mata suamiku. Ada benci dan dendam di sana. Apakah akan menyelesaikan masalah dengan membalas mereka? Mungkin ini sudah takdirku.


"Bang, ini mungkin salah satu cara Allah menunjukkan rasa sayangnya terhadap adek dan keluarga kita,"


"Apa dengan cara ini, Dek? Kau tak kasihan pada anak-anakmu yang masih kecil ini? tanya suamiku terisak.

__ADS_1


Suamiku terus memintakaku untuk mengembalikan racun itu kepengirimnya. Aku bergeming. mungkinkah rasa kemanusiaanku harus kubuang jauh-jauh? Apakah dengan membalas mereka bisa menyembuhkanku? Tidak, Allah lah yang Maha Mengetahui segala-galanya rahasia dibalik cobaan ini. Aku pasrah atas Kehendak-Nya.


"Bang, dengerin adek ya? Kematian itu pasti, tapi kita tidak tau kapan, bagaimana dan di mana. Kita semua pasti merasakannya bang, cepat atau lambat. Yang harus kita lakukan hanya berserah, ikhtiar dan bertaubat Bang. Apa abang tidak mau membimbing adek meraih jannah-Nya?" tanyaku lirih.


"Abang hanya ingin kau sembuh. Dek. Abang hanya ingin bersamamu sampai tua, jadi tolong bertahan untuk abang dan anak-anak," tangis pilu suamiku.


"Adek janji, akan menemani abang hingga akhir hayat bang. Namun, jika janji adek pada Allah sudah Ia tagih, Abang harus ikhlas ya?" tangisku tergugu.


Bang Sifa dan keluarga lainnya menangis menyaksikan adegan itu. Mereka tidak bisa memaksaku lagi


"Kalau pak Tuha boleh bicara, racun yang kau minum itu, salah sasaran nak,"


"Maksud pak Tuha? Sebenarnya racun itu bukan untuk istri saya?" tanya suamiku penasaran.


"Ya, tapi untuk ibumu," pak Tuha menatap dalam pada suamiku.


"Tidak mungkin Pak, mengapa mereka ingin meracuni ibu saya? Sedangkan mereka berteman dekat?" suamiku tak percaya.


"Rambut bisa sama hitam, tapi hati siapa yang tau? Mereka menyimpan dendam terhadap ibumu,"


"Tapi, mengapa istri saya yang bisa meminum racun itu pak Tuha?"


"Karena istrimu hidup tanpa prasangka, Adi. Ibumu pernah berkata kasar atau menyinggung orang yang memberikan racun ini. Dendam itu telah lama terpatri, tapi baru sekarang mereka bisa melaksanakannya. Namun, sayangnya istrimu yang menjadi korban keegoisan mereka " jelas pak Tuha.


"Lisan itu seperti dua mata pisau. Bisa membawa kita ke arah kebaikan dan berpahala, tapi jika tidak kita jaga lisan itu bisa membuat kita binasa. Mulutmu harimaumu yang siap menerkam lawan atau berbalik arah melawanmu," tegas pak Tuha.


"Jadi, apa yang harus kami lakukan pak Tuha? Apa bisa racun itu di tawar atau diobati?"


"Sulit, karena telah merusak organ dalam istrimu. Kita hanya bisa mencegah penyebarannya untuk saat ini. Racun ini begitu kuat, Bersyukur istrimu masih bertahan hingga saat ini," jelasnya.


💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2