Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Still Live In The Heart


__ADS_3


وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:  {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ} يَدْعُوْ لَهُ.


Nabi SAW. bersabda, “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih,” yang mendoakannya.


***


Kematian hanya memisahkan jasad dan jiwa, tetapi tidak dengan kenangan. Mereka akan selalu hidup dan bersemayam di dalam hati dan kenangan orang-orang yang di tinggalkan dan mencintainya.


Saat tersadar, aku sudah berada di kamar. Rumah masih di penuhi sanak saudara dan sahabat. Mereka masih enggan meninggalkan kami, mereka ikut merasakan duka yang kami rasakan. Di rumah yang sama dan tanah yang sama tempat turunnya jenazah dan pemakaman. Siapa yang menginginkan semua itu? Tidak ada yang ingin. Namun, rezeki, maut, dan jodoh Allah yang mengetahui segala-galanya.


Tok Bah menatapku iba. Aku tak tau kapan Tok Bah datang.


"Makan ya cucu, Tok Bah?" kujawab dengan gelengan.


"Sudah dari kemarin, Ita tidak menyentuh makanan apapun, kan?" aku menatap mata tua itu, ada khawatir di sana.


"Di luar ada tamu. Mereka bilang sepupunya Lia," jelas Tok Bah. "Temui mereka dulu, pakai jilbabmu," perintah tok Bah lagi.


"Siapa yang di maksud Tok Bah? Apa Lia datang juga? Kok gak masuk ya?" tanyaku pada Nur.


"Gak tahu Kak, aku gak kenal. Mereka sudah dari pagi datang saat memandandikan jenazah Kak Fitri," jelas Nur.


Perlahan aku keluar, ternyata Bagus dan mas Gio, sepupunya Lia. "Maaf, sudah lama datangnya? Aku gak lihat kalian tadi," tuturku gugup, tak menyangka mereka akan sampai ke mari.


"Gak apa-apa kok, kami mengerti kamu sedang berduka," jawab mas Gio.


"Kaki kamu, kenapa Mas?" tanyaku.


"Oh, ini? 0Kemarin sore sepulang bermain bola, gak sengaja menyerempet anak kecil yang tiba-tiba lari ke jalan. Aku gak sempat mengelak lagi. Ya, ini hasilnya," jawab mas Gio terkekeh.

__ADS_1


"Oh ...," jawabku singkat.


"Makanya, berkendara itu hati-hati, lihat kanan kiri. Jangan liatin cewek saja kamu," celetuk tok Bah.


"Iya Tok Bah, lain kali saya akan lebih berhati-hati lagi," jawab mas Gio.


"Ya sudah, sebelum pulang kalian makan dulu, sudah di siapkan sama orang dapur," perintah tok Bah.


Bagus dan mas Gio hanya mengangguk. Kulihat mas Gio dengan tertatih bergeser untuk makan. "Sudah tahu kaki cedera, masih mau datang kemari," bathinku.


Aku mengenal mereka lewat Lia. Pertama kali aku menemani Lia ke rumah sepupunya Bagus. Aku yang saat itu berpenampilan sedikit tomboy, awalnya tak begitu tertarik untuk ikut Lia masuk ke rumah Bagus. Namun, mereka tetap memaksaku masuk. Karena tak enak, aku ikut masuk dan berkenalan dengan mereka. Aku tak terlalu tertarik mengenal lawan jenisku karena kupikir masih harus sekolah. Tak mengapa kalau hanya berteman dengan siapa saja.


Selesai makan, mereka berpamitan untuk pulang. Aku kasihan melihat mas Gio berjalan tertatih karena luka di kakinya.


"Pulang dulu ya, Ita. Kamu yang tabah," pamit mas Gio dan Bagus.


"Terima kasih, hati-hati di jalan," jawabku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap tok Bah. Beliau sangat protektif akan pergaulanku. Ya wajar saja, aku cucu yang harus ia jaga. Aku kembali ke kamar dan merebahkan tubuhku. Ternyata banyak pesan masuk dari teman-temanku menyampaikan rasa bela sungkawa mereka.


"Maaf Ita, aku gak ikut mas Bagus dan mas Gio ke sana, gak dibolehin sama bude," isi pesan Lia. "Iya, gak apa-apa," balasku.


"Ita, pakaian Fitri yang ingin di sedekahkan tolong di pisah ya?" pesan Ibu. Aku mengangguk dan meminta Nur membawa semua pakaian almarhumah. Kami memilihana yang masih layak untuk di sedekahkan kepada sanak keluarga dan teman-teman yang mau. Melihat pakaian itu, air mataku kembali mengalir. Teringat ketika Fitri menggunakannya.


Kupilah pakaian yang masih layak pakai untuk di sedekahkan ke keluarga yang ingin menerimanya. Tak banyak, hanya satu tas dengan ukuran sedang saja. Kami memang tak memiliki banyak pakaian, hanya itu-itu saja. Untuk apa? Jika kita mati sudah tidak bisa digunakan lagi? Untuk apa jika akan menjadi hisab yang berkepanjangan di alam sana? Bukankah sekecil apapun milik kita akan dipertanyakan dari mana, bagaimana dan untuk apa kita memilikinya? Hanya satu barang saja bisa panjang urusannya apalagi yang wah luar biasa.


Beberapa sepupu dan bibi berkumpul membantuku. Mereka lebih banyak memberikan semangat dan nasehat untukku dan Nur. Jasadku memang di sini, tapi pikiranku terbang entah ke mana.


Baju-baju Fitri kemudian di bagikan kepada sepupu perempuan dan bibi jika muat. Aku senang, setidaknya lebih bermanfaat dan menjadi amal jariyah Fitri.


Malam harinya, beberapa orang berseragam polisi dan petugas jasa raharja datang ke rumah. Mereka membicarakan soal uang kecelakaan dan apakah keluargaku akan menuntut Satria. Jika iya, Satria akan di kenakan kurungan tiga bulan karena menghilangkan nyawa seseorang karena keteledorannya. Orang tua dari Satria juga turut hadir. Pembicaraan malam itu cukup alot dan tak menemukan titik temu karena orang tua Satria tidak ingin anaknya di penjara. Namun, hukum akan terus berjalan sesuai dengan undang-undangnya.

__ADS_1


Akhirnya pak polisi, petugas jasa raharja dan orang tua Satria pamit. Ayah di minta untuk datang ke kantor polisi esok hari.


"Kalau uang jasa raharja dan uang dari keluarga Satria cair, kita adakan acara aqiqahan untuk Fitri dan ibunya ya Bu?" usul Ayah.


"Iya Nak, bagaimana baiknya saja," jawab nenek.


"Sisanya kita gunakan untuk memperbaiki makam dan membeli tanah saja," lanjut ayah.


"Iya, ada baiknya kita gunakan untuk yang bermanfaat," jawab nenek lagi.


Aku tak ingin ikut campur masalah ini. Apalagi masalah uang. Karena, walau di bayar berapapun jumlahnya takkan bisa menggantikan kehadiran Fitri. Dan Fitri takkan pernah kembali.


Aku berbaring di sebelah Nur yang telah terlelap. Wajah Nur seiras dengan Fitri. Jika diperhatikan sekilas mereka sangat mirip. Melihat Nur, seakan melihat sosok Fitri.


Apa yang sedang Fitri lakukan di sana? Apa Fitri bertemu ibu? Semoga Fitri husnul khotimah, berada di tempat orang-orang yang diridhoi Allah Azza Wa Jalla. Aamiin Allahumma Aamiin.


Memikirkan Fitri membuatku kembali menangis. Cukup keras sehingga Nur terbangun.


"Kakak nangis lagi? Sudah ya Kak, kasihan Kak Fitri di sana. Pasti sedih liat kita kayak gini," ucap Nur.


"Kakak hanya belum bisa menerima ini, Nur. Kakak sangat kehilangan kak Fitrimu. Kakak gak sanggup," tuturku sesegukan.


"Kita kirim do'a saja yuk, Kak untuk Kak Fitri?" ajak Nur.


"Astagfirullah, Iya. Ayo Nur. Alfateha," seraya menengadahkan kedua tangan.


Aku dan Nur membaca surah alfateha hingga tertidur karena lelah menangis.


Keesokan harinya ayah berangakat ke kantor polisi ditemani sepupunya menggunakan sepeda motor.


__ADS_1


__ADS_2