
Sesampainya di rumah sakit, aku dan Lia meninggalkan sepeda kami begitu saja. Aku berlari masuk ke dalam tanpa tahu ruangan mana yang harus kutuju.
Lia menenangkanku. Rasa bingung, resah dan takut berbaur menjadi satu. Mata-mata pengunjung memperhatikanku sudah tak kuperdulikan. Aku berlari ke sana ke mari menanyai suster. Namun, mereka ikut bingung melihatku menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya.
Datang seorang polisi menghampiriku. "Mba keluarganya saudari Fitri?" tanyanya.
"Iya Pak, iya. Di mana adik saya?" tangisku.
"Mari ikut saya, mbak," ajak pak polisi tersebut. Beberapa langkah kaki kuayunkan mengikuti polisi tersebut, tiba-tiba pandanganku gelap, aku rebah di situ. Sayup-sayup aku mendengar teriakan Lia dan pak polisi sebelum semuanya hilang berganti kelam.
"Kak, bangun Kak?" seseorang penepuk-nepuk pipiku.
"Fitri?" gumamku lalu bangun dan memeluknya sangat erat.
"Aku gak apa-apa, Kak," jawab Fitri tersenyum tipis.
"Kamu gak luka? Kok badan kamu dingin banget, Fit?" tanyaku heran.
"Iya, Kak. Aku kedinginan. Dingin sekali. Di sini dingin, Kak. Bisa bawa aku pulang? Aku ingin istirahat, aku lelah, Kak," jawab Fitri sayu.
__ADS_1
"Ya Allah, kamu sakit, Fit? Ayo kita pulang? Ke rumah Tok Bah dulu ya? Ini sudah malam mau pulang ke kampung kita," ajakku.
"Aku mau pulang ketemu Ibu, Kak. Itu Ibu sudah menunggu buat jemput aku."
"Kamu becanda ya, Fit? Ibu kita sudah 9 tahun gak ada, Fit? Ayo ikut kakak pulang ke rumah Tok Bah."
"Aku gak becanda, Kak. Itu Ibu di sana," tunjuknya. Aku mengikuti arah yang di tunjukkan Fitri, tapi tak ada siapapun di sana. Tunggu, kok Fitri memakai pakaian yang mirip seperti mimpiku kemarin? Aku segera menepis pikiranku itu.
"Setelah ini, Kakak jaga diri ya? Aku gak bisa nemenin kakak lagi. Kakak harus berjuang sendiri demi adik-adik kita. Kakak harus tetap sekolah dan raih cita-cita kakak. Aku mau ikut Ibu, Kak. Ibu bilang, Kakak belum waktunya ketemu ibu. perjalanan kakak masih panjang," tutur Fitri menatapku dalam.
"Dek, jangan bicara gitu. Kakak maunya sama-sama kamu terus. Jangan tinggalin kakak. Ibu sudah tenang di surga-Nya Allah, Fit. Kakak gak bisa tanpa kamu. Ayo kita pulang?" jawabku sambil menangis.
"Jaga diri, Kak. Aku dan Ibu sayang kakak," ucap Fitri memelukku erat. Ada yang memanggil namaku dan tercium bau minyak kayu putih di hidungku.
"Fitri mana, Lia? Tadi Fitri ada di sini sama aku?" cercaku. celingukan mencari keberadaan Fitri.
"Fitri? Gak ada. Dari tadi aku sama Tok Bah yang jagaian kamu. Tok Bah lagi ke luar, tadi Ayah dan Nenek kamu sudah sampai," jawab Lia menerangkan.
"Aku mau ketemu Fitri, Lia."
"Jangan dulu ya, Ta? Dokter bilang psikis kamu masih lemah. Diminta istirahat dulu di sini,"
__ADS_1
"Aku gak apa-apa, Lia? Ayo anterin aku ketemu Fitri," ajakku sambil menarik tangan Lia.
Sampai di depan pintu, kulihat Tok Bah menunduk sambil menangis. Begitu pula beberapa orang di sana yang tidak kukenal. Mungkin teman-teman Fitri. Adik dari Nenek, Tok Ilyas dan anak-anaknya juga sudah ada. Mereka menatapku, lalu menggeleng lemah. "Ya Allah, semoga Fitri baik-baik saja. Bukankah baru saja Fitri menemuiku? Pasti Fitri hanya lelah," pikirku positif.
Tak lama Nenek keluar. Nenek menangis, menatapku lalu memelukku erat. Tangis Nenek begitu sayu? Aku bingung. Muncul firasat buruk.
"Nek, aku mau masuk. Fitri baik-baik saja kan, Nek? Tanyaku. Bukannya menjawab, tangis Nenek malah makin menjadi. Aku melepaskan pelukan nenek, ingin masuk. Namun, Tok Bah dan Om-ku menahanku agar tidak masuk.
"Ita mau masuk, Tok Bah, Om? Kalian ini kenapa?" teriakku sambil menangis. Aku tak habis pikir, ada apa dengan mereka?
"Ita nanti ya masuknya. Fitri masih ditangani dokter," jawab om Agus.
Aku luruh ke lantai, menangis pilu. Lia datang memelukku. Menguatkanku. Namun, firasat ini berbeda. Apalagi tatapan mata semua orang itu berbeda. Seorang dokter keluar dari ruangan Fitri, disusul ayah. Aku menatap wajah ayah. Ada sesuatu yang tak dapat kusiratkan. Tatapan mata terluka dan kehilangan. Persis tatapan mata ayah dulu ketika di tinggalkan ibu.
"Ini, Kakaknya Fitri?" tanya dokter.
"Iya, dokter. Saya kakaknya. Bagaimana Fitri dok?"
"Sebaiknya, bawa Ita masuk, Pak. Dia juga berhak tahu keadaan dan kenyataannya," ujar dokter tanpa menjawab pertanyaanku.
Ayah merangkulku dan membawaku masuk ke sebuah ruangan. Tak kulihat Fitri di sana. "Fitri di mana, Yah?" Ayah menunjukkan ke satu arah.
__ADS_1
"Fitri?"