
Aku tetap mengemasi pakaianku dan anak-anak. Tak kuperdulikan dia yang terus memohon maaf. Aku lelah dengan sikapnya yang berubah-ubah.
"Dek, abang mohon jangan pergi, abang mengaku salah. Abang janji tidak akan mengulanginya. Abang tidak bisa hidup tanpa kalian,"
"Abang jangan berjanji jika terus diulangi. Sekarang kita introspeksi diri masing-masing bang," Kukemasi barang-barang yang aku butuhkan. Anak-anak telah siap.
"Adek pamit Bang. Abang tau harus ke mana jika ingin mencari adek dan anak-anak. Jaga kesehatanmu. Assalamualaikum,"
Ia bergeming, mematung di tempatnya berdiri. Entah apa yang ia pikirkan, aku berusaha untuk tidak perduli. Aku menggendong Nur, sedangkan Ita dan Fitri mengikutiku dari belakang.
"Kita mau ke mana Bu? Ita izin sekolah lagi ya?" Tanya Ita. Kuhembuskan nafas perlahan.
"Kita ke rumah paman sifa dulu ya, sayang? Ibu kangen pada mereka," Jawabku tetap melangkahkan kaki menyusuri jalan. Aku harus bergegas karena hari mulai siang. Kubawa uang tabungan seadanya. Aku tahu, meninggalkan rumah tanpa seizin dan ridho suami itu berdosa. Namun, aku harus aku lakukan agar suamiku sadar semua kesalahannya. Ia sudah terlalu sering dzalim terhadapku dan anak-anak, bahkan dzalim terhadap dirinya sendiri.
Kugunakan 2 ojek untuk membawaku dan anak-anak menuju halte bus. Tak seberapa lama kami telah menaiki bus yang akan mengantarkanku ke rumah kakak-kakakku. Akan kupikirkan lebih lanjut apa yang harus kulakukan setelah sampai di sana.
Bus berhenti untuk beristirahat, jarak sudah lumayan dekat. Kusuapi ketiga anakku satu persatu. Ah, terasa memanas pelupuk mata ini. Bagaimana jika suatu hari, tangan ini sudah tidak bisa menyuapi mereka lagi? Bagaiamana jika raga ini tidak bisa memeluk mereka saat kedinginan, saat mereka menangis, dan saat mereka di sakiti? Aku tidak dapat membayangkan semua itu.
"Ibu gak makan? Nasinya udah mau habis." Pertanyaan Ita membuyarkan lamunanku.
"Ibu gak lapar sayang, kalian aja yang makan agar tidak masuk angin,"
__ADS_1
Bus akan segera berangkat kembali, kusegerakan aktivitasku. Membawa tiga anak tidaklah mudah. "Bu, kenapa ayah gak ikut kita?"
"Ayah kerja, sayang. Nanti ayah jemput kita," jawabku memberi alasan.
Aku berubah menjadi pembohong ulung di depan anak-anakku menutupi luka yang menganga. Aku ingin trauma yang mereka alami terobati sebelum mengobati luka hatiku.
Anak-anakku telah tertidur lelap ditemani hembusan angin sore. Hamparan padi yang masih menghijau, pohon-pohon menjulang
rindang. Untuk sesaat aku seakan tersedot ke alam yang tak kumengerti di mana. Yang ada hanya gema, kekosongan, hampa dan kesendirian, sepi.
"Bu, sudah sampai bu? Mau turun di sinikan? tanya kernet.
Aku tersadar. "Ah, iya bang. Terima kasih,"
"Baru atakng Na? Dari mae?" tanya mereka dengan logat daerahku.
"Auk bik," jawabku singkat.
Lelah mulai mendera. Batukku menghampiri. Semoga di sini aku bisa kembali berobat. Kasihan janinku jika terus-menerus mengkonsumsi obat-obatan kimia.
"Dono' aaa dah, ngahe inak ngabari mau' ampus kasio," tanya bang Sifa.
__ADS_1
"Inak ahe Bang, sangaja bah," jawabku tersenyum.
"Ayo ponakan paman ikut ke rumah paman ya? Kalian sudah makan?" tanyanya pada anak-anakku.
"Sudah Paman,"
"Ahe Dek? Ada masalah meh? Mae suaminyu?" bang sifa mulai curiga.
"Inak Bang. Rindu bah ka' kitak. Inak boleh ampaya aku kasio nelek kitak? tanyaku mengalihkan kecurigaannya.
"Abang ngarasa dirinyu ada masalah, carita kalau ada ahe-ahe boh," hiburnya.
Aku mengangguk. "Andai dirimu tahu bang," bathinku.
🍂Bersambung🍂
Terima kasih telah mengikuti kisah ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak Follow, vote, rate, like dan jadikan cerita ini favorite kamu.
Author feedback.
__ADS_1
I Love u readers.