
"Pertanggung jawaban seperti apa maksud bapak? Saya tidak hamil, bahkan saya tidak pernah pergi berduaan dengan Om Philip. Jadi anda tidak perlu menawarkan hal yang tidak perlu anda lakukan. Silakan tinggalkan rumah saya ...!" teriakku lantang dengan tangis.
Ayah yang melihat perlakuanku tak terima dan melayangkan sebuah tamparan keras di wajahku. Sedangkan tamu tersebut pergi tanpa pamit. Perih menahan sakit tamparan ayah, tapi hatiku lebih sakit.
Aku berlari keluar rumah menuju rumah kak Endah untuk berlindung. Hujan turun begitu deras seolah tau dan ikut menangis melihat keadaanku. Sesampainya di rumah kak Endah, ia terkejut melihatku basah kuyup dan menangis.
Kuceritakan apa yang terjadi di rumah. Kak Endah memberiku semangat untuk menghadapi masalah ini. Tak kusangka, ayah menyusulku ke rumah kak Endah. Dengan wajah murka ayah kembali melayangkan tamparannya ke wajahku. Tak cukup sampai di situ, ayah mengambil kayu pel dan mengayunkannya ke seluruh tubuhku.
Aku hanya bisa meminta ampun dan menangis. Ayah masih saja memukulku tanpa memperdulikan tangisanku dan teriakan kak Endah yang ketakutan melihat kejadian tersebut. Ayah baru berhenti saat ada beberapa warga yang datang beserta pak Rt. Aku tak sanggup untuk bangun sama sekali. Serasa ada yang patah pada kakiku. Kak Endah menangis mendekatiku dan membawaku masuk bersama beberapa ibu-ibu tetangganya. Sedangkan ayah masih di ceramahi oleh pak Rt dan warga.
"Kelewatan sekali ayahmu itu Ta, memukulmu tanpa belas kasihan," bu Amoi ikut menangis melihat keadaanku.
"Sudah, kita obati saja lebam-lebam di badan Ita, biarkan pak Rt bicara pada ayahnya," lanjut kak Endah.
Aku masih menangis tanpa suara. Aku tak berniat menjadi anak pembangkang apalagi anak durhaka. Aku sangat menyayangi ayah, walau perlakuan kasar dan cacian yang selalu aku terima dari ayah dan nenek.
Setelah berganti pakaian dan diberi obat, aku tertidur hingga tak terasa malam pun melabuhkan tirainya. Ayah telah pulang, aku tak tahu apa yang terjadi saat pak Rt bicara pada ayah. Hujan pun telah berhenti sedari tadi, yang tinggal hanya udara dingin yang bertiup lembut hingga ketulang. Tak berapa lama, terdengar suara ketukan dari luar, Kak Endah pun berlalu membuka pintu melihat siapa tamunya. Ternyata Ibu beserta Nenek. Ibu dan nenek menangis melihat keadaanku. Pada saat kejadian nenek dan ibu memang tidak ada di rumah, mereka di sawah tetangga membantu memanen padi.
"Bagaimana keadaamu Ta?" tanya ibu masih menangis.
__ADS_1
"Sudah baikan Bu, masih sedikit nyeri," sambil kuperlihatkan lebam-lebam di sekujur tubuhku.
Nenek diam dan menangis melihat keadaanku. Aku tahu, Nenek menyayangiku walaupun terkadang kata-kata dan perlakuannya padaku itu menyakitkan. Ia memeriksa bagian tubuhku yang sakit, nenek bisa tau ada yang cedera atau tidak karena sering menolong orang-orang memerlukan bantuannya, baik itu melahirkan, pijat ketika capek atau patah.
"Ini tidak apa-apa, hanya memar. Mari kita pulang Ta?"
"Ayah bagaimana Nek?" tanyaku takut.
"Tidak apa-apa, ada nenek," pujuknya.
Aku pun setuju untuk pulang. Dibantu ibu yang memapahku ketika berjalan dan berpamitan pada kak Endah.
Kami berjalan beriringan sangat pelan. Jalan menjadi licin selepas hujan karena di desaku belum ada jalan yang di semen apalagi di aspal. Jadi, setiap habis hujan jalan akan terasa licin karena dari tanah liat dan tanah kuning.
Sesampainya di rumah, ayah sudah menunggu di ruang tamu sempit kami. Pandangannya sendu melihatku. Mungkin menyesal, entahlah. Aku pun duduk diapit ibu dan nenek. Aku menunduk tak berani mengangkat wajah.
"Ayah berjanji tidak akan mengulanginya lagi." lanjut ayah.
Aku hanya diam mendengarkan ayah bicara, begitupun ibu dan nenek.
"Ayah tahu ayah salah. Ayah tak akan memaksamu lagi untuk menikah."
Aku mengangkat kepalaku dan menatap ayah, ada kejujuran di mata ayah.
"Jika ayah melakukan itu lagi, Ayah akan melihatku menggantung di dahan kelapa di depan rumah kita."
__ADS_1
Mendengar ucapaku itu, ayah menangis dan memelukku. Begitupun nenek dan ibu. Ah ... inikah rasanya dipeluk Ayah? Inikah rasanya disayangi? Aku bahkan tak ingat kapan terakhir pelukan ini aku dapatkan. Kami semua hanyut dalam kesedihan malam itu. Semoga selalu seperti ini.
"Ayah janji, tidak akan memaksa Ita untuk menikah lagi. Ita boleh sekolah mengejar cita-cita Ita." isak ayah.
Aku hanya mengangguk bahagia, merasakan jadi keluarga seutuhnya.
Pagi itu, hujan turun dengan sangat deras. Ayah, nenek dan ibu tidak dapat beraktivitas seperti biasanya dikarenakan sudah banjir. Aku dan Nur tak dapat bersekolah.
Makan siang telah siap, ala kadarnya dengan sayur kangkung kuah santan, ikan asin bakar beserta sambal terasi. Sangat nikmat jika dihidangkan pada cuaca seperti saat ini.
Ujian nasional sekolah menengah pertama sudah di depan mata. Kami siswa kelas tiga mempersiapkan segala sesuatunya agar nilai kami memuaskan. Ujian sekolah dan prakteknya telah kami lalui dengan sangat baik.
Dari praktek kesenian, komputer, Ipa bahkan memasak bersama-sama wali kelas. Sungguh akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi kami serta menjadi pengalaman untuk kami melangkah kedepannya.
Ujian Nasional telah kami jalani. Tinggal menunggu hasilnya keluar untuk bisa melanjutkan ke sekolah menengah atas (SMA) setara. Lagi-lagi, aku di hadapakan dengan kenyataan pahit. Bahwa ayah dan nenek tak ingin aku melanjutkan sekolah. Mereka ingin aku bekerja membantu perekonomian keluarga. Seperti Fitri yang selalu memberikan sebagian gajinya untuk ayah dan nenek.
Fitri selalu mengeluh akan hal tersebut. Bukan tak ingin menjadi anak berbakti kepada orang tua tapi sikap ayah dan nenek sudah ke lewat batas. Jika pada tanggal gajian Fitri tak dapat pulang, ayah atau nenek akan bergantian menyusul ke tempat majikan Fitri untuk mengambil bagian mereka. Selama bekerja bertahun-tahun Fitri hnaya dapat membeli sebuah gawai. Yah, itulah keluargaku.
Aku tak ingin berpangku tangan dan putus asa. Aku harus tetap bersekolah apapun keadaannya. Dengan tekadku itu, membuat aku dimusuhi oleh ayah dan nenek. Tak ada satupun pekerjaan rumah yang aku lakukan benar di mata mereka. Semua salah. Aku pasrah, hanya bisa berserah kepada-Nya.
Tekadku telah bulat. Dengan uang dua puluh ribu pemberian Fitri saat ia pulang ke rumah, kugunakan untuk ke kabupaten di mana ada adik dari nenek yang menetap di sana. Aku membawa baju seadanya, tidak lupa Ijazahku. Hanya Nur, Fitri dan ibu yang mengiringi langkahku dengan doa. Namun, tidak dengan ayah dan nenek.
Bismillahi tawakaltu di setiap langkahku.
💜💜💜
__ADS_1