
Suara nafasnya terdengar, ia mendekat dan semakin mendekat. Aku sangat takut jika yang datang ini adalah perampok yang bisa saja menyakitiku dan anak-anak.
Sebuah sentuhan mendarat di tangaku. Aku tersentak lalu segera bangun. Temaram cahaya pelita menyulitkanku melihat siapa yang ada di depanku. Tubuh orang yang ada di depanku menegang saat melihat apa yang aku pegang sedari tadi.
"Bapak???!!" teriakku tercekat. Otakku cepat berpikir, apa yang di lakukan mertuaku di sini dan bagaimana ia bisa masuk sedangkan semua pintu dan jendela sudah kukunci?
"Tenang, Na. Bapak tidak berniat jahat, bapak hanya ingin menemanimu saja," jelasnya yang membuatku semakin ketakutan.
"Apa maksud Bapak? Aku ini menantumu, Pak?" jawabku hampir histeris.
"Menantu tiri tepatnya," dengan seringaian menakutkan.
"Bapak pergi dari sini sebelum aku berteriak dan orang-orang akan datang kemari," ancamku terisak.
"Baiklah, jika nanti kau berubah pikiran katakan saja," ucapnya tanpa beban.
Setelah kepergian bapak mertuaku, aku segera mengunci pintu. Aku akan meminta bang Adi untuk mengganti semua kunci yang ada. Aku takut ia akan datang lagi saat suamiku tak ada di rumah.
.
.
Hari ini suamimu pulang.
"Assalamualaikum anak-anak Ayah, aduh udah pada wangi aja?" Ita dan Fitri sangat senang ayahnya pulang.
"Waalaikumsalam. Sehat Bang? lama amat bang kayak bang Amat?" tanyaku pura-pura cemberut.
"Abang kan harus ngumpulin bahan dulu dek sebanyak mungkin, kalau gak ya rugi. Ngomong-ngomong kok bang Amat, dek?"
"Iya, Bang Amat lah bang, lama amat, lelet amat, semua amat bang," jawabku terkikik memegang perut.
"Hahaha, bisa aja kamu dek??" suamiku ikut tertawa.
"Oya, Bang. Bisa tambahin kunci pintu dan jendela? Buat 2-3 gitu," pintaku.
__ADS_1
Bang Adi menautkan kedua alisnya. Mungkin ia bingung dengan permintaanku. " Ada apa, Dek? Apa ada yang berniat jahat padamu?" tanyanya curiga.
"Gak kok, Bang. Kita jaga-jaga aja, kan kamu jarang banget di rumah," kilahku. Tak ingin adanya perang dunia kedua. Biarlah kusimpan dulu rahasia ini sendiri.
"Oh, ya udah. Besok kita ke pasar sekalian bawa anak-anak jalan," ajaknya. Aku hanya memberikan jempol tanda setuju. "Biarlah Allah yang akan menunjukkan kuasanya kelak tanpa harus kuungkapkan sekarang. Belum tentu mereka percaya karena aku tak memiliki bukti apapun apalagi saksi?" bathinku.
Malam ini kami bercanda ria bersama. Jarang sekali ini kami lakukan karena kesibukan suamiku. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Dari suaranya, aku tau itu ibu, Mudah-mudahan tak bersama bapak. "Mari Bu, pak masuk," ajakku gelisah melihat bapak menatapku.
"Adi udah pulang, Na? tanya ibu.
"Sudah Bu tadi sore,"
"Kok, belum ke rumah Ibu?"
"Mungkin masih capek, Bu,"
Ibu berjalan masuk tanpa bicara lagi.
"Udah pulang, Kamu Nak?"
"Alhamdulillah, sehat Nak. Ibu sama bapak rencananya juga mau berangkat kerja ke hulu. Kami akan membuat sampan " jelas beliau.
" Bagus itu, Bu. Bapak dan ibu kan bisa buat sampan, jadi apa salahnya mencoba?" sambut suamiku antusias.
"Ya. Itu maksud kami datang kemari untuk meminjam modal padamu, Nak,"
"Ada sih, Bu. Tapi tabungan kami untuk mendirikan rumah. Anna sudah hamil dua bulan, sebelum lahiran aku ingin rumah itu telah berdiri bu," jelas suamiku hati-hati.
"Sama orang tua kok perhitungan kalian ini? Jika sampan itu laku terjual, akan ibu ganti cash uang kalian!!?" sahut ibu marah.
Suasa semakin tak nyaman, aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajak makan malam bersama.
"Gak apa-apa kok Bang, biar ibu pakai dulu uang tabungannya,kan adek lahiran masih 7 bulanan ntar juga diganti ibu kok," ucapku pada suami saat ia menyusulkan ke dapur.
"Beneran gak apa-apa Dek? Abang hanya kasihan sama kamu dan anak-anak tinggal di rumah tidak layak seperti ini," jawab suamiku sendu.
__ADS_1
"Udah gak apa-apa, gak lama lagi kan? Ayo kasi ke ibu aja dulu," turutku memberikannya semangat.
"Ini Bu, tabungan kami ada tiga juta rupiah, semoga cukup ya Bu?" ucap suamiku menyerahkan uang tersebut.
"Nah, gitu dong. Jangan pelit-pelit sama orang tua ntar kualat," sambut mertuaku dengan wajah sumringah.
"Ya udah, Bu, pak. Kita makan dulu ya? Anna masak ikan asam pedas favorit semua,"
Kamipun makan dengan lahap malam itu dengan lauk ikan asam pedas dan sambal belacan. Setelah makan mertuaku pamit pulang, karena besok mereka akan berbelanja keperluan untuk ke Hulu menumpang suamiku. Ada rasa lega karen bapak mertuaku tak akan ada di sini selama suamiku belum pulang. Allah memang Maha Bijaksana.
.
.
.
Tiga bulan kemudian, mertuaku telah mengembalikan semua uang yang mereka gunakan. Alhamdulillah bahan dan material untuk membangun rumah kami.
Kami membangun rumah di samping paman bang Adi dan tanah kami sewa dari pak Rt. Nanti akan suamiku cicil membelinya. Ternyata, mertua juga akan membangun rumah tepat di samping rumah kami, tak apalah pikirku biar tak berjauhan.
Satu bulan pengerjaan, kami sudah siap pindah. Rumah sederhana berlantai papai, atap daun nipah dan dinding semi papan dan daun nipah di bagian atasnya. Memasak menggunakan tungku kayu. Alhamdulillah atas rezeki-Nya kami juga bisa memasang listri 450v.
Semenjak suamiku bekerja di sana, kami bisa menabung dan hidup lebih layak. Aku memutuskan untuk bersawah menanam padi, agar bisa membantu suami. Anak-anak kubawa serta karena tak ada yang menjaga mereka di rumah. Usia kandunganku telah memasuki usia 6 bulan. Masih banyak hal yang bisa kulakukan sebelum melahirkan.
Istri paman sawahnya berdekatan denganku, jadi kami bisa pergi dan pulang bersama-sama saling menjaga. Ternyata, bibi orangnya lumayan baik dan lucu, khususnya tertawanya yang mempunyai ciri khas. Kami akan ikut tertawa jika beliau tertawa.
Tanpa terasa, sebentar lagi aku akan melahirkan. Semoga kali ini anak kami laki-laki agar aku bisa menggunakan KB.
Pagi itu perutku telah terasa mulas dari subuh, Mertuaku kebetulan tidak ada di rumah, masih di tempatnya bekerja. Terpaksa kami memanggil dukun beranak yang bernama Mbo Minah. Dukun beranak tersohor di kampung kami. Mulas semakin menjadi, tanda lahir juga sudah keluar, tinggal menunggu Mbo Minah datang.
Tak lama Mbo minah datang, aku tak tahan lagi untuk tidak mengejan. Tiga kali aku mengejan, Alhamdulillah lahir putri kami yang ketiga, cantik dan putih, kami namai Nurjannah yang berarti cahaya surga.
Beberapa hari setelah melahirkan, datang pasangan suami istri yang masih ada tali kekerabatan dengan suamiku. Setelah beberapa saat berbasa-basi, mereka menyatakan ingin mengadopsi anakku yang 1baru lahir. Betapa terkejutnya aku mendengar permintaan mereka.
"Kedatangan kami kemari, berniat ingin mengadopsi bayi kalian. Kalian tau kan kami menikah 10 tahun lamanya. Namun Allah belum menitipkan cahaya mata untuk kami," jelas bi Eko panjang lebar.
__ADS_1
💜💜💜