Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Hikmah di Balik Ujian Ibu Pov 12


__ADS_3

🍒🍒🍒


20 menit berjalan kaki, kami tiba di klinik bidan Neneng yang merupakan langgananku selama tinggal di sini.


"Bu Anna, terakhir datang bulan masih ingat?" tanya bu bidan.


Deg, aku terkejut. Aku hampir lupa seharusnya minggu ketiga setiap bulannya tamu itu datang. "Seharusnya minggu lalu bu bidan, tapi sampai sekarang belum," jawabku.


"Nah, berarti bener dugaan saya. Ibu hamil 7 minggu. Mual dan pusing itu biasa dialami oleh ibu hamil muda yang di sebut morning sickness," jelas bidan sambil tersenyum.


"Saya positif hamil bu bidan?" tanyaku tak percaya.


"Iya bu, HPL nya 25 juni ya bu? Ini vitamin dan anti muntahnya. Perbanyak makan buah, sayur dan minum air putih. kurangi kafein yang terdapat dalam kopi dan teh, kalau bisa minum susu ibu hamil saja," terang bu bidan.


"MasyaAllah, Alhamdulillah.. Terima kasih bu bidan," jawabku sumringah. "Ita mau punya adek lagi nak, seneng gak?"


"Beneran bu? adiknya cewek apa cowok bu?" tanyanya antusias.


"Ya belum tau sayang, kan masih jadi rahasia Allah. Nanti kalau sudah lahir baru bisa kita lihat, cewek seperti kakak-kakaknya atau jadi pangeran,"


"Hore punya dedek lagi.. hore punya dedek bayi," Ita melompat-melompat senang menepuk-nepukkan kedua tangannya.


Aku dan bu Bidan tertawa melihat tingkahnya. Aku membayar dan berpamitan pada bu bidan. "Ini ada mangga muda bu Anna, kebetulan mangga di belakang rumah saya berbuah lebat, mungkin rezekinya bu Anna," ucap bu bidan sambil menyerahkan satu kresek penuh buah mangga muda.


"MasyaAllah, terima kasih bu bidan jadi repot-repot,"


"Gak apa-apa bu Annak, saya ikut senang ibu hamil lagi dan semoga sesuai yang diharapkan, sehat semua," doa bu bidan.


"Aamiin.. sekali lagi terima kasih bu, saya permisi, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab bu bidan.


Alhamdulillah, semoga sesuai dengan apa yang kami nantikan selama ini.


Sesampainya di rumah, kulihat suamiku telah pulang dan mengobrol bersama ibu.

__ADS_1


"Bang, adek positif hamil bang," ucapku senang.


"Beneran dek? Alhamdulillah ya Allah. Abang seneng banget dek," suamiku memelukku haru.


"Alhamdulillah, semoga kali ini laki-laki ya Na?" tutur ibu penuh harap.


"Iya Bu, semoga. Bantu doa ya bu?" sahutku.


"Iya, tapi tetep ya? Kalau perempuan lagi, ibu akan nyariin Adi istri baru, biar dapet anak laki-laki," cetus ibu.


Senyum yang sedari tadi menghiasi wajahku dan bang Adi tiba-tiba redup.


"Ibu kok ngomong gitu sih bu? Rezeki kan Allah yang ngatur bu? Ibu gak punya anak perempuan tapi punya menantu yang baik. Kan sama aja bu?" sanggah suamiku.


"Ya gak samalah Adi, kamu ini gimana sih? Gak bisa melahirkan anak laki-laki itu gak guna!" cecar ibu.


"Ya Allah Bu. Anna ingin membahagiakan ibu dan bang Adi apapun caranya. Anna juga ingin memberikan ibu cucu laki-kaki, tapi Allah berkehendak lain bu," ujarku lirih.


"Alah alasan aja kamu. Sudah, ibu gak mau tau, pokoknya yang ini harus laki-kaki kalau gak ya mau gak mau kamu punya madu. Lagipula kamu udah penyakitan gitu," sentak ibu.


"Oh... jadi kamu nyalahin ibu? Enak aja kamu, dasar istrimu memang penyakitan kok nyalahin ibu? Mau jadi anak durhaka kamu?" sergahnya.


"Aku gak nyalahin ibu, tapi memang kenyataannya kayak gitu kok," sahut bang Adi.


"Bang, ibu. Udah ya? Gak perlu ada yang diributkan lagi, aku sakit karena Allah sayang padaku. Dan jika aku gak bisa ngasih kamu anak laki-laki, kamu boleh kok nikah lagi bang, setelah 40hari aku melahirkan kelak agar aku bisa menemani kamu ijab kabul," ujarku. Aku tersenyum, tapi hatiku berteriak sakit.


"Gak dek, apapun yang terjadi, kamu istriku satu-satunya hingga maut memisahkan," ucap suamiku sayu.


"Aku...,"


"Ah drama banget kalian suami istri. Udah, ibu mau pulang dulu," pamit ibu.


Kami menghembus nafas melihat tingkah ibu. "Udah ya Dek. Jangan dipikirin kata-kata ibu. Kamu mandi udah sore, ibu hamil gak baik mandinya sore," pinta suamiku lembut.


Aku pun bergegas mandi, dan juga mengurus anak-anakku. Setelah makan malam, suamiku pamit untuk keluar rumah.

__ADS_1


"Dek, abang keluar bentar ya mau ke rumah temen," pamitnya.


"Iya bang, hati-hati. Jangan terlalu larut pulangnya ya?"


Ia pun berlalu pergi. Belakangan ini suamiku sering Keluar malam, kadang sore hari. Pulang hingga larut. Aku sangat khawatir dan penasaran apa yang ia lakukan dan kemana ia pergi. Ingin mengikutinya, aku tak tega meninggalkan anak-anak di rumah.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 lewat tengah malam. Kemana gerangan suamiku ini? Aku tak dapat menutup mata menunggunya pulang. Pukul 2 dini hari terdengar ketukan pintu dan ucapan salam. Aku bergegas membukakan suamiku pintu. Nampak matanya memerah menahan kantuk, tak tercium bau alkohol atau tuak. Alhamdulillah ia tak terpengaruh untuk minum-minuman keras bersama teman-temannya.


"Bang, kok malam banget pulangnya? Gak capek kamu?"


"Udah, abang ngantuk. Jangan banyak tanya," sergahnya.


Ada apa dengan suamiku? Tak biasanya ia begitu. apa ada masalah lain? Besok akan kucari tahu apa sebenarnya yang terjadi.


"Bang, adek mau minta uang buat belanja. Beras, minyak, listrik, dan lauk juga," pintaku pagi itu. Bang adi merogoh kantongnya menyerahkan uang 1 lembar berwarna merah.


"Bang? Ini gak cukup loh?"


"Beli seadanya dulu Dek, uang abang tinggal segitu," jawabnya.


"Loh, abang kan baru pulang kemarin dari kerja, biasanya ngasih adek lima ratus bang buat seminggu belanja," tanyaku lagi.


"Kemarin Ibu minta uang dua ratus ribu sama tadi malam abang ngumpul sama teman-teman kan butuh jajan juga dek," kilahnya. Aku tak masalah ia memberi ibunya uang dan mentraktir teman-temannya asal uang dapur dan jajan anak-anak tidak di ganggu.


"Bang, anak kita udah tiga. Listrik butuh di bayar, adek hamil lagi. Apa cukup uang seratus ribu ini untuk satu minggu ke depan?" keluhku.


"Beli aja dulu seadanya, ntar abang tambahin lagi. Jangan cerewet, syukuri apa yang di berikan suamimu," jawabnya cuek.


"Bukannya aku tidak bersyukur Bang, tapi?"


"Sudah-sudah, ngoceh aja kamu! Aku mau keluar aja, pusing," sentaknya.


Ya Allah, baru kali ini suamiku membentakku seperti itu selama 7 tahun pernikahan. "Ada apa ini?" bathinku. Apa aku berbuat salah padanya?


Dengan uang seratus ribu, kubelanjakan 2kg beras, setengah liter minyak, ikan asin dan sayur. Semoga cukup untuk kami beberapa hari ini. Aku harus menyelesaikan masalah ini, tidak bisa didiamkan lama-lama tanpa kutahu apa masalahnya.

__ADS_1


💜💜💜


__ADS_2