
Namaku Anna. Aku mengenalnya, saat ia berkunjung ke desaku. Malam itu ada acara musik yang kami sebut jonggan. Acara tersebut diadakan jika adanya acara nikahan atau rasa syukur karena panen melimpah.
Aku sedang membantu bibiku di warung yang berjualan makanan dan minuman. Malam itu, cukup ramai yang hadir menikmati acara tersebut.
"Mba, buatin esnya tiga," ordernya.
"Mau es apa bang?"
"Es kacang hijau waja," tambahnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis dan aku membalas senyum itu malu-malu.
"Ini Bang es-nya," ucapkan meletakkan es di meja.
"Jagung rebusnya berapaan, Mba?"
"Seribu rupiah, Bang,"
Ia dan teman-temannya memakan jagung itu sambil mengobrol. Sesekali ia melirikku.
"Boleh tahu namanya, Mba?" tanyanya.
"Anna, kamu?" jawabku malu-malu.
__ADS_1
"Saya, Adi. Nama yang indah. Kok aku baru lihat kamu sekarang ya? Aku sering loh nonton jonggan di sini," jelasnya.
"Iya, aku baru pulang dari kota. Lama bekerja di sana."
"Oh ... begitu. Pantas saja," timpalnya tersenyum.
Kami pun mengobrol dengan santai malam itu. Tanpa terasa malam telah larut dan acara hampir selesai. Ia pamit dan berjanji besok malam akan datang lagi karena acara tersebut akan berlangsung selama tiga malam berturut-turut.
"Tadi itu siapa Na?" tanya bibi.
"Adi, Bi. Tadi mampir kemari minum dan makan jagung," jawabku.
"Lama juga dia di sini, jangan-jangan dia naksir kamu, Na?" selidik bibi.
"Ah, tidak mungkin Bi, kami kan baru kenal," jelasku.
"Iya Bi. Aku mengerti," jawabku. Di sini, hukum adat masih digunakan untuk orang-orang yang melanggar norma kemasyarakatan. Namun, masih banyak juga yang melanggarnya dan hampir setiap minggu di sini diadakan hukum adat tersebut. Mereka harus menyediakan hewan potong khas kami, membayar denda adat dan masih banyak lagi.
Malam ini cukup ramai pengunjung. Sedari tadi aku dan Bibi sibuk melayani pembeli. Sehingga tanpan kusadari ia telah duduk di warungku cukup lama. Bibi sudah masuk ke dalam untuk makan.
"Sudah lama, Bang?" tanyaku.
"Sudah dari tadi, aku tak mau mengganggu pekerjaanmu. Apa kamu tak ingin menonton?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku harus menjaga warung Bibiku, Bang. Lagipula aku lelah harus berdiri berhimpitan dengan orang ramai," jelasku.
"Oh ... Kalau begitu sama dong."
"Kok Abang kemari kalau gak suka nonton?"
"Untuk menemuimu," jawabnya malu-malu.
Wajahku terasa memerah karena malu. Dia tersenyum menatapku. Apakah aku menyukainya?
"Boleh aku dekat denganmu?" bisiknya.
"Bawalah orang tuamu kemari untuk melamarnya," Bibi menjawab tiba-tiba.
Adi nampak berfikir beberapa saat sambil menunduk. Ah, apakah ia keberatan dengan permintaan bibiku? Jika iya, aku ragu. Bisa jadi ia hanya berniat main-main denganku. Adi mengangkat kepalanya dan menatapku, aku segera mengalihkan pandanganku ke lain arah.
"Baiklah, Bi. Beri saya waktu satu minggu untuk membawa orang tua saya kemari," jawabnya.
Aku sangat senang mendengarnya. Aku kira ia akan mundur setelah mendengar permintaan Bibi. Bibi menyatakan akan menunggu kedatangan keluarganya untuk melamarku. Ia pun segera pamit padaku dan Bibi.
"Tunggu aku, ya? Aku akan datang bersama keluargaku," ucapnya lembut.
Aku hanya mengangguk mengiyakannya.
__ADS_1