
Sunyi, nenek dan ayah terdiam setelah mendengar kata-kata tok Bah. Mungkin merasa tersinggung atau merasa bersalah, wajah mereka muram.
"Ita, minta maaf Ayah, nek? Jika selama ini belum bisa jadi anak dan cucu yang baik," lirihku. "Ita hanya ingin, kelak bisa jadi seseorang yang berguna untuk kalian,"
"Sudahlah Ta, mereka tidak akan mengerti," desis tok Bah. "Ayo, kita ke pasar beli ikan untuk nanti malam yasinan," ajak beliau.
Nenek melirikku dengan tatapan tajam, tatapan bencinya hadir lagi. Aku tak sanggup seperti ini. Aku lelah.
"Sudah Ta, jangan sedih. Tok Bah akan kemari selama satu minggu ini," hibur tok Bah.
"Iya, Tok Bah. InsyaAllah kelak, ayah dan nenek akan berubah,"
Aku dan tok Bah membeli bahan makanan untuk kami makan bersama tamu nanti malam. Ah, andai ayahku seperti tok Bah pasti aku sangat beruntung, tapi walau bagaimanapun ayah tetaplah orang tuaku. Aku rela jika jadi yang selalu dibenci mereka.
***
Sesampainya di rumah, aku, ibu dan beberapa tetangga mulai memasak. Sederhana asal bisa di santap bersama. Beginilah di desa, tolong menolong jika terkena musibah ataupun acara syukuran tetangga dengan suka rela membantu.
Setelah acara, tok Bah pamit pulang karena besok harus kembali bekerja.
"Paman mau pulang dulu, jaga anak-anakmu Adi, bukan hanya jasad yang harus kau jaga, tapi juga perasaan mereka. Kelak, kau akan menua dan butuh anak-anakmu," nasehat tok Bah.
"Iya, paman," jawab ayah acuh tak acuh
"Tok Bah pulang, Ta. Jangan sedih lagi," pesan beliau.
"Siap, bos. Hati-hati di jalan," candaku.
Baru beberapa menit yang lalu Tok Bah melaju dengan motornya. Asapnya masih tertinggal di udara. Meninggalkan jejak-jejak putih yang menghilang di udara seiring termakan waktu. Namun, tidak dengan ucapan, bibir dengan mudahnya berucap menyakitkan, tapi rasa sakit itu bisa bersemayam selamanya di hati, meninggalkan luka menganga tak terlihat, tak berdarah. Namun, membekas. Seumpama paku ketika dicabut dari tempatnya yang sebelumnya di hantam palu besi, tempat itu akan meninggal bekas hentaman paku yang dalam dan berlubang.
"Kenapa kamu gak ikut saja sama Tok Bahmu itu? Sepertinya kamu lebih menyayanginya daripada orang tuamu sendiri?" sindir nenek.
"Setidaknya, ada yang menyayangiku dengan tulus, Nek," jawabku sarkas.
__ADS_1
"Sudah berani jawab ya kamu sekarang? Ini akibatnya kamu dibelain terus sama dia?" cecar nenek.
"Kamu memang pembawa masalah di rumah ini," sergah ayah. "Kamu penyebab adikmu mati . .! Dasar anak tidak tahu diuntung ... kenapa bukan kamu saja yang mati ...? hah?" caci ayah.
Aku luruh ke lantai mendengar kata-kata Ayah. Apa aku seburuk itu di mata mereka?
Aku rela tidak makan, rela tak pernah mendapatkan kasih sayang, tapi apa aku harus rela menjadi yang dipersalahkan? Jawabnya, aku ikhlas.
Tak ingin memperkeruh masalah, aku masuk ke kamar, ingin menumpahkan segalanya di sana. Jika masih ada Fitri, ia akan menghibur dan memberiku semangat.
"Ayo Kak, jangan sedih. Allah bersama kita," hiburnya sambil tersenyum. Senyuman yang akan selalu kuingat seumur hidup. "Ayo Kak, tidur, besok kita ke makam Kak Fitri," ajak Nur. Ku-iyakan dengan anggukan.
"Jangan nangis lagi, Kak. Kak Fitri gak suka liat Kakak nangis. Nanti dia ikutan nangis juga di sana," lirih Nur.

Hari ketiga kepergian Fitri. Kami akan bertamu ke rumahnya. Rumah abadinya yang kelak akan menjadi rumah kita. Ziarah mengingatkan kita akan kematian, bahwa tidak ada yang abadi. Kaya, miskin, bahkan raja sekalipun takkan mampu membeli sebuah nyawa.
Tanah itu masih merah, harum pandan masih membaui udara, bunga-bunga sedikit layu terpapar mentari. Namun, air mata ini tak henti-hentinya mengajakku berkelana ke masa lalu, mengingat masa indah bersama mereka, Ibu dan Fitri.

"Silahkan masuk Pak. Maaf menunggu lama, kami dari makam almarhumah," jelas ayah.
"Iya Pak, tidak apa-apa, kami mengerti."
"Bagaimana perkembangan kasus anak saya pak?"
"Tersangka akan mendapatkan kurungan 3 bulan penjara, Pak. Itupun dengan jaminan," jelas petugas.
"Saya serahkan semuanya kepada pihak berwajib, Pak. Saya hanya ingin hukum ditegakkan seadil-adilnya," lirih ayah.
"Baik, Pak. Kami mengerti, kami di sini juga ingin menjelaskan prosedur dari asuransi jiwa anak bapak."
__ADS_1
Aku sudah tak ingin mendengarkan lagi apa yang mereka bahas. Mendengar kata uang, hatiku sakit. Aku benci uang itu. Adikku tergantikan oleh sejumlah uang dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, bahkan truk pengangkut tanah yang menabrak adikku sudah tak tahu di mana rimbanya. Semoga Allah membalas apa yang tanam.
"Kapan kamu pulang kerumah tok Bahmu?" tanya nenek.
"Setelah tujuh hari nanti Nek," jawabku.
"Apa kamu tak ingin bersekolah di sini saja?" tanya nenek tiba-tiba.
"Aku, tak punya tabungan nek untuk pindah sekolah, bukankah butuh biaya lagi?"
"Ayahmu ingin, kamu pindah sekolah kemari setelah uang itu cair,"
"Tapi Nek, aku tak ingin menggunakan uang itu. Bukan hakku, sebaiknya pergunakan untuk hal lebih penting seperti bersedekah menggunakan nama almarhumah," tampikku.
"Jangan mengajariku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, kamu turuti saja perintah ayahmu. Untuk apa bersedekah? Apa saat kamu lapar ada yang memberimu makan? Apa di saat kita susah ada yang mengulurkan tangannya untuk kita??" sergah nenek.
"Bahkan cacing di dalam tanah pun mendapatkan rezekinya Nek, Allah yang mengatur segalanya," jawabku.
"Bicara denganmu memang takkan ada ujungnya, sudah pandai menceramahi orang tua," cetusnya melenggang keluar.
Aku hanya bisa menarik nafas panjang, mencoba tetap waras dalam masalah ini. Aku tak ingin sama sekali menikmati uang itu. Dan untuk kembali ke sini, aku sangat takut. Bukan karena sikap orang tuaku tapi takut menjadi anak durhaka.
***
Acara 7 hari kepergian Fitri berjalan dengan lancar. Banyak saudara dan tetangga yang datang. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, ada yang membawa beras, gula bahkan amplop untuk tuan rumah. Membantu meringankan beban yang terkena musibah.
Besok aku akan kembali ke rumah tok Bah. Sudah satu minggu aku absen dari sekolah. Banyak pelajaran yang tertinggal.
"Besok, Kakak mau pulang ke sana?" tanya Nur lirih.
"Iya, Nur. Kan kakak harus sekolah. Kamu juga harus tetap sekolah, ingat pesan Kak Fitrimu, salah satu dari kita harus bisa jadi yang orang. Buat mereka bangga Nur," tuturku.
"Kakak sekolah di sini saja ya? Aku takut jika harus menghadapi Ayah dan Nenek sendirian Kak. Biasanya ada Kak Fitri pulang satu minggu sekali, tapi kalau kak Ita kan lama?" rajuk Nur.
Aku termangu, bingung harus menentukan langkah.
__ADS_1
💜💜💜