Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Murka Ibu Mertua Ibu Pov 9


__ADS_3

🍒🍒🍒


Aku dan suami terpaku menyaksikan hal itu. Aku tak ingin keluarga ini terpecah belah karenaku. "Bu, Anna sudah memaafkan bapak. Ibu tidak perlu meminta cerai pada bapak bu? Anna yakin, bapak akan berubah,"


"Tapi dek?" sela suamiku.


"Sudahlah Bang, Allah saja Maha Pengampun, mengapa kita sebagai umat-Nya tidak bisa?"


"Baiklah kalau begitu, tapi dengan satu syarat. Jika bapak mengulanginya, bapak akan saya seret ke kantor pilisi," ancam suamiku.


Seketika wajah bapak pucat pasih mendengar kata-kata bang Adi. "Bapak janji tidak akan mengulanginya, nak?" ucapnya sayu.


"Baiklah, masalah paman anggap selesai. Bagaimana pak rt?" tanya paman.


"Kami di sini hanya sebagai saksi akan masalah ini. Jika diperlukan lain waktu kami dengan senang hati membantu, bagaimana bapak-bapak semua?" Tetangga yang hadir mengangguk dengan kompak.


"Kita sepakat, semua selesai hari ini. Jadi Dar, kamu tidak perlu meminta cerai pada suamimu," timpal paman.


"Untuk kali ini, aku memberimu satu kesempatan terakhir, Pak. Ingat, terakhir kalinya," ancam ibu.


"Iya bu, iya. Aku janji," jawab bapak.


Kamipun membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing. Sejak saat itu, tak pernah lagi bapak mertuaku itu bertandang ke rumah kami. Hanya ibu yang datang melihat cucu-cucunya. Begitupun aku dan suamiku, tak pernah menginjakka kaki ke rumah mereka. Jika aku memasak sesuatu, akan kuminta anak-anakku untuk mengantarkannya.


.


.

__ADS_1


.


Saat ini, Usia Nur telah menginjak dua tahun. Ita telah bersekolah. Hari itu, kami bergotong royong membantu sebuah keluarga bercocok tanam hanya beberapa meter dari rumahku. Di sana ada ibu, bi Ria dan beberapa ibu-ibu lagi. Hari itu cuaca lumayan cerah, anak-anak bermain lari-larian di tepian sawah karena letaknya pas di jalan utama desa.


Pemilik sawah menyajikan kami minuman berupa air kopi. Aku sangat haus kala itu, jadi aku memilih minuman yang kurasa agak dingin di jariku. Saat kudapatkan yang lebih dingin, segera kuteguk hingga tandas. Aku merasakan perbedaan pada rasa kopi tersebut, tapi aku bingung apa itu. Setelah minum, ada yang berbeda pada diriku. Keringat dingin mengucur deras hingga aku menggigil.


"Kamu kenapa, Na? tanya ibu khawatir.


"Kamu sakit, Na? timpal bibi.


Tak sempat aku menjawab pertanyaan mereka aku memuntahkan cairan merah segar dan rebah ke tanah. Sayup-sayup kudengar teriakan semua orang, termasuk anak-anakku.


Aku tersadar. Suami dan anak-anakku telah berada di dekatku. Mereka terlihat habis menangis dengan mata sembab.


"Alhamdulillah, Dek. Kamu sudah sadar," lirih suamiku.


"Adek kenapa, Bang?" tanyaku heran. Serasa lemah seluruh tubuh seperti habis terjatuh dari tempat yang tinggi.


Aku hanya mengangguk lemah. Kulihat Nur tertidur dipangkuanku ibu. Kasihan Ibu terlihat sangat lelah mengurusi anak-anakku.


Setelah makan, kami pergi ke puskesmas menggunakan sampan, hanya aku dan suamiku. Untuk berjalan ke sana aku tak sanggup, tubuhku masih sangat lemah. Anak-anak kami titipkan pada ibu dan bibi. Sesampainya di sana aku di periksa seorang mantri. Dokter di desa kami masih belum ada.


Kesimpulan yang kami terima, aku harus di ronsen di kota. Untuk ke sana membutuhkan waktu dua jam perjalanan menggunakan bus antarkota.


Sepulang dari puskesmas, suami, mertua dan paman beserta bibi berembuk mencari jalan keluarnya. Keputusan mereka aku harus di bawa untuk segera melakukan ronsen pada organ dalamku


agar tau mengapa aku bisa muntah darah? Aku tak pernah mengalami riwayat penyakit akut sedari kecil, lalu dari mana darah itu?

__ADS_1


Keesokan harinya, aku dan suami berangkat tanpa membawa serta anak-anak. Akan sangat melelahkan jika mereka ikut serta. Perjalanan kurasakan sangat lama, bimbang dan khawatir menggelayuti hati. Bimbang akan anak-anak dan khawatir tentang penyakitku.


Tiga jam kemudian, kami sampai di rumah sakit negeri milik pemerintah. Suamiku mendaftarkan untuk melakukan ronsen. Cukup lama kami menunggu antrean, sejam kemudian barulah namaku dipanggil untuk masuk ke dalam. mengikuti segala prosedur pengecekan paru-paru dan penyakit dalam seperti tes darah dan dahak. Kebetulan aku tidak sedang batuk jadi tidak bisa melakukan pengecekan dahak.


Cukup lama kami menunggu hasil lab keluar hingga lewat setengah hari. "Ibu Anna?" panggil salah satu petugas lab. "Silahkan ke ruang dokter untuk membacakan hasil," arahnya.


Kami segera menuju ruangan yang dimaksud. Suamiku mengetuk pintu dengan perlahan. Terdengar jawaban dari dalam mempersilahkan kami masuk. "Mari Ibu dan bapak silahkan duduk. Boleh saya lihat hasil ronsen dan labnya?" pinta sang dokter. Suamiku menyerahkan hasilnya. Dokter meneliti dengan saksama berkas yang ada di depannya. "Paru-paru ibu ini luka ya? Itu penyebab utama mengapa ibu bisa memuntahkan darah segar, seperti telah lama mengalami tuberkulosis atau TBC," jelas sang dokter.


"Apa Ibu sudah lama batuknya?" tanyanya lagi. Aku menggeleng. "Tidak dokter, saya tidak pernah batuk akut. Batuk biasa seperti radang tenggorokan dan influenza itu sering dok," jelasku.


"Tapi menurut hasilnya, Ibu sudah seperti sudah batuk menahun," tekannya lagi menyakinkan kami.


"Lalu, bagaimana jalan keluarnya dokter?" tanya suamiku khawatir.


"Ibu harus menggunakan obat paru-paru selama 6 bulan tanpa boleh terlewat seharipun. Jika terlewat, Ibu harus mengulang dari awal lagi karena bisa menyebabkan bakteriologinya menjadi kebal akan obat yang ibu konsumsi," jelasnya.


"Di mana kami bisa mendapatkan obat tersebut dokter? Jika harus bolak balik ke mari, jarak kami terlalu jauh,"


"Ibu dan bapak bisa kembali kemari bulan depan, akan saya resepkan untuk satu bulan konsumsi. Jadi setiap bulannya Ibu bisa konsultasi ke saya untuk melihat perkembangannya paru-paru ibu,"


"Baiklah dokter kalau begitu, kami ikuti saja mana yang terbaik menurut dokter untuk kesembuhan istri saya," lirih suamiku.


"Baiklah, ini resepnya bisa Bapak tebus di apotik depan, dan hasil ronsen dan lab ini bawa kembali ketika akan berkonsultasi bulan depan," jelas sang dokter.


Aku seakan kehilangan kekuatan walaupun hanya mengucapkan terima kasih. Ya Allah, cobaan apa lagi ini? "Sabar ya Dek? Abang yakin adek akan sembuh, demi anak-anak kita," hibur suamiku memberi kekuatan.


Setelah menebus obat, kami bergegas makan siang terlebih dahulu di kantin rumah sakit. Perut yang keroncongan memaksa kami untuk melahap santapan sederhana itu walau seakan sulit untuk kutelan memikirkan sakitku yang misterius ini.

__ADS_1


Dengan langkah gontai kususuri jalan panjang, terjal dan berliku. Aku tak tau sampai kapan akan kutemui ujung jalan yang membawaku kesebuah tempat yang bernama kebahagiaan bahkan surga. Mungkinkah surgaku bukan berada di alam fana ini? Masih tersembunyi di tempat nan jauh di sana? Tak lama lagi kurasa, sebentar lagi kan kugapai bersama Ridho-Nya.


💜💜💜


__ADS_2