Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Apa Hanya Sampai Di Sini ?


__ADS_3


Aku kira setelah kejadian tersebut tidak akan ada lagi air mata. Tapi aku salah, itu lah permulaannya. Bukankah semakin banyak cobaan kita semakin menunjukkan kalau Allah menyayangi kita? Bibik merupakan kepala bagian di kantornya. Bibik ke kantor menggunakan mobil pribadinya, dan mempunyai seorang supir yang biasanya kami panggil pak Budi.


Pak Budi tidak tinggal bersama kami. Karena beliau mempunyai rumah sendiri dan anak istri. Walaupun jarak rumahnya dan rumah Bibik lumayan jauh tapi setiap pukul 06.00 pagi pak Budi akan sampai dan membersihkan mobil dan sarapan terlebih dahulu.


Pak Budi ramah dan guyonannya juga lucu. Kadang aku dan Kak Tia suka bercanda-canda sambil main tebak-tebakkan. Tapi ternyata aku salah. Kebaikan dan kejujuran itu berbeda.


***


Suatu pagi. Bibik agak ribut di kamarnya. Ternyata, cincin emas kesayangan bibik hilang. Entah Bibik lupa menyimpannya di mana atau tercecer. Kami semua sibuk mencarinya di dalam rumah termasuk kamar tidur dan kamar mandi. Namun, tidak juga membuahkan hasil. Akhirnya, Bibik ke kantor tanpa menemuka cincinnya.


Sore itu entah mengapa kulihat tatapan orang-orang seisi rumah berbeda padaku. Aku seakan terdakwa yang siap untuk diadili. Bibik memintaku segera mandi dan berpesan membawa mukenahku ke kamarnya. Kebetulan malam itu merupakan Kamis sore malam Jumat. Biasanya Bibik akan membaca surah yasin setelah sholat dan Bibik memintaku menemaninya. Tak biasanya memang tapi menurutku tak masalah. Setelah sholat berjama'ah, bibik memintaku membawakan segelas air putih kekamarnya. Kamar bibik kunci. Tinggallah aku dan bibik di dalam. Aku duduk di samping bibik dan mulai membaca surah yasin menghadap air tadi. Setelah selesai bacaan kami, bibik memintaku meminum air tadi yang dipercaya telah menjadi air yasin. Aku menurut saja toh tak ada masalah. Lalu Bibik bertanya kepadaku.


"Ta .. Ada lihat cincin bibik yang hilang?"


"Tidak ada Bik, Ita sudah mencarinya tadi pagi tapi ndak ketemu ...," jawabku jujur.


"Demi Allah Ita tidak melihatnya? Atau Ita simpan barangkali?" tanya bibik pelan, curiga.


"Demi Allah tidak ada Bik, Ita mana berani menyimpan atau mengambil sesuatu yang bukan hak Ita ... Bibik menuduh Ita?" tanyaku dengan suara bergetar menahan tangis.


"Bibik tidak menuduh tapi siapa lagi? tidak mungkin orang lain?"


"Demi Allah Bik bukan Ita, jika memang Ita yang mengambil, Ita rela berhenti sekolah Bik dan mengganti cincin bibik ...."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, kita lihat saja nanti ...Mana ada sih maling mau ngaku ?" sindir Bik Utin.


Ya Allah ... aku hanya bisa menangis. Apa salahku? Apa karena aku orang miskin yang hanya menumpang? Aku masuk ke kamar tanpa makan malam terlebih dahulu. Kak Mimin dan kak Ijum memintaku untuk bersabar.


Beberapa hari dari kejadian itu ternyata Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Ternyata Pak Budi yang telah mengambil cincin bibik yang tertinggal di kamar mandi. Itu diketahui Bibik saat tanpa sengaja bertemu istri pak Budi di pasar dan cincin itu di gunakan oleh istri pak Budi. Alhamdulillah, Engkau Maha Adil ya Allah. Sepulang sekolah Bibik pun menemuiku dan meminta maaf atas kejadian itu, menuduhku tanpa bukti hanya sebatas praduga.


***


Ujian sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Kami sudah bersiap-siap untuk melakukan praktek sekolah dan try-out. Berharap nilai akan baik nantinya. Aku mendapat kabar bahwa adikku Fitri akan ikut bekerja menjadi pengasuh anak dari keponakan bik Utin di daerah pusat kabupaten kota kami.


Kasihan Fitri, dia harus bekerja diusianya yang masih sangat dini. Andai saja ibu masih ada, kami akan tetap bersama-sama seperti dahulu walaupun makan seadanya tapi penuh kasih sayang dan kehangatan seorang ibu. Semoga Fitri baik-baik saja di sana.


Ujian sekolah telah kami lalui dengan sangat baik. Besok lusa adalah pengambilan ijazah untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Sore yang tenang menemaniku menyapu halaman rumah. Bibik datang dan duduk di teras rumah memperhatikan pekerjaanku.


Aku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku. Selesai mengumpulkan daun-daun kering dan mencuci tangan, aku pun menghampiri bibik. Aku duduk di sampingnya.


"Ita, sepertinya Bibik tidak bisa lagi membantumu meneruskan sekolah SMP," tutur Bibik tanpa melihatku.


"Karena suami Bibik akan membawa tiga keponakannya yang lain tinggal di sini, yaitu Hendra, Egi dan Dea untuk menemani Tia. Jadi, Bibik harap Ita mengerti. Bibik sangat ingin kamu tetap di sini, bersekolah dan menemani Tia tapi keadaan yang memaksa Bibik menyampaikan ini, sebelum pendaftaran SMP di kampungmu tutup," lanjut bibik.


"Tapi Bik, di sana siapa yang akan membiayai sekolah Ita? Bibik tahu kan, Nenek sudah banyak tanggungan, dan Ayah selama ini tidak perduli akan pendidikan kami," aku mulai lelah menahan tangis, tak terasa bulir bening itu mengalir tanpa kupinta. Mewakili perasaan yang entah.


"InsyaAllah akan selalu ada jalan untuk anak baik sepertimu Ta ... Besok siap-siap ya kita ke sekolahmu minta SKHU untuk kamu bawa ke kampung. Ijazahmu bisa menyusul setelah keluar."


"Baik Bik." Tak mampu lagi aku mengolah kata untuk menghiba. Meminta belas kasih. Biar waktu yang akan menjawab bagaimana nasibku kelak.

__ADS_1


Aku pun mulai mengemasi pakaianku, tanpa tas, hanya kotak mie tempatku membawa pakaian. Boneka besar pemberian kak Tia tak bisa kubawa serta karena ukurannya besar, yang selama dua tahun ini sebagai peneman tidurku. Biarlah kutinggal saja.


Keesokan harinya bibik mengantarku ke sekolah untuk meminta SKHU sementara. Kami menemui kepala sekolah dan Bu Nurhayati wali kelasku.


"Ita tidak melanjutkan sekolah di sini Bu Utin??" tanya Bu Nurhayati.


"Tidak Bu, mau pulang katanya, sekolah di kampungnya ...."


"Baiklah, di manapun yang penting kamu tetap sekolah ya Ita ... Ibu yakin nilai-nilaimu yang terbaik."


Aku hanya mendengarkan dan mengangguk tanpa berniat menjawab apapun. Aku berharap yang sama dengan ucapan bu Nurhayati. Selesai urusan kami di sekolah, aku pun berpamitan pada kepsek dan guru-guru yang selama ini membimbingku. Bu Nurhayati memelukku erat.


"Jika kehidupan ibu lebih baik, ibu sangat ingin menyekolahkanmu Ta, tapi anak-anak ibu masih kecil dan suami ibu juga hanya bekerja serabutan. Ibu berdoa, kamu bisa menggapai cita-citamu" bisik Bu Nurhayati seraya membelai rambutku pelan.


"Iya Bu, Ita pasti merindukan Ibu dan teman-teman di sini."


Kami pun pulang. Aku akan berangkat ke kampung siang ini menggunakan angkutan umum, diantar kak Mimin ke terminal. Aku berpamitan pada paman dan bibikku, Kak Tia tentu saja. Aku sangat berterima kasih atas segalanya, tanpa mereka aku tak akan bisa seperti ini. Semoga Allah Subhana Wa Ta'ala membalas segala kebaikan mereka.


Perjalanan dua jam ke kampung tak terasa karena rasa rinduku pada adik-adikku. Saat ini Nur telah berusia 7 tahun dan duduk di kelas dua sekolah dasar. Sudah tangkas berberes rumah seperti mencuci piring, menyapu dan memasak nasi. Sedangkan Aji telah berusia 3.5vtahun. Mereka menyambutku pulang dengan suka cita. Ayah ada di rumah istrinya, sedangkan Fitri belum libur dari bekerja. Biasanya jadwal pulang ke rumah sama denganku agar kami bisa melepas rindu.


Aku berharap bisa menemukan keajaiban di sini untuk melanjutkan cita-citaku meneruskan SMP. Kebetulan di kampungku sedang musim panen, mungkin sebelum waktunya pendaftaran SMP nanti aku bisa mengumpulkan uang menambah tabunganku yang ada. Bismillah.


💜💜💜


__ADS_1


__ADS_2