Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
My Fault?


__ADS_3


Aku dan Nur membersihkan rumah. Masih ada beberapa kerabat yang masih menemani kami hingga yasinan tiga hari nanti. Ya, di kampungku masih menggunakan tradisi tersebut. 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari hinggal seratus hari. Aku sendiri tak mengerti apa fungsi dari hari-hari tersebut hanya saja nenek bilang itu tradisi. Namun, bagiku itu sangat memberatkan untuk orang-orang tertentu yang mungkin tidak memiliki biaya untuk melaksanakannya. Bukankah doa saja sudah cukup?


Saat aku menuju arah dapur, aku mendengar bisik-bisik antara nenek dan tetangga kami.


"Kalau bukan gara-gara Fitri ingin menyusul, Ita. Ini pasti tidak akan terjadi. Kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi," cerca nenek.


"Tapi kan Mak, Ita gak salah Mak? Ita tidak ingin ini terjadi pada adik kesayangannya," jawab bi Atik.


"Aku yakin, ini semua salah Ita. Dia senang adiknya mati," lanjut nenek lagi.


"Sudahlah Bu. Jika Ita mendengar masalah ini, dia pasti sedih," sela ibu.


"Ah, Kamu tahu apa Tina? Kamu hanya ibu sambung mereka, hanya orang luar. Aku yang tahu semuanya."


Aku sudah tak tahan lagi mendengar tuduhan nenek. "Nek, semuanya sudah diatur oleh Allah. Bahkan kapan dan bagaimana kita akan menghadap-Nya, semua hanya sebab musabab saja," selaku. Hatiku hancur mendengar tuduhan nenek terhadapku.


"Ah ... Kamu ini. Anak bau kencur mau mengajariku? Kalau bukan karena kamu, Fitri takkan ke sana menemuimu," murka nenek.


"Aku tak ingin mengajari siapapun Nek. karena itu memang benar adanya. Jika aku bisa memilih, biarlah aku yang mati. Biarlah aku yang menggantikan posisi, Fitri agar Nenek puas. Bukankah dari dulu nenek tak menyukaiku?" jawabku menangis.


"Sudah, Ta. Jangan kamu ladeni nenekmu ini. Dia hanya ingin menyakiti hati kita," sela ibu menenangkanku.


"Kamu menantu durhaka. Bisa-bisanya kamu bicara begitu terhadapku, hah? Memangnya kamu siapa? Bahkan kamu hanya menumpang di Sini ...!" caci nenek.


"Aku memang bukan siapa-siapa Bu, tapi setidaknya aku tidak seperti ibu yang hanya bisa menyakiti orang lain dengan kata-kata ibu," jawab ibu.


"Sudah ... sudah. Tidak enak di dengar orang yang lewat. Ingat anak cucu kalian baru meninggal kemarin," sela bi Atik.


Aku tak mengerti bagaimana jalan pikiran nenek. Mengapa nenek bisa berkata seperti itu? Aku dan ibu menangis mendengar kata-kata nenek. Apa benar semua ini salahku? Apa aku penyebab kematian Fitri?


Ibu memelukku. "Maafin Ibu, Ta. Ibu belum bisa jadi ibu sambung yang baik untuk kalian. Bahkan ibu pernah berbuat hal yang buruk pada Fitri," ucap ibu menangis.


"Sudahlah, Bu. Kita lupakan semuanya. Fitri pasti sudah maafin Ibu," jawabku ikut menangis.


Tak berapa lama ayah pulang. Aku tak ingin beliau tau akan hal ini dan menambah beban pikirannya.


"Bagaimana, Nak?" tanya nenek tiba-tiba sudah berada di sampingku.


"Aku tetap ingin anak itu di penjara, Bu. Aku bahkan ingin nyawa di bayar dengan nyawa. Sayangnya di negara kita ini negara hukum. Jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi," cetus ayah.

__ADS_1


"Iya ... Ibu juga maunya begitu, tetapi biarlah polisi yang mengurus segalanya, Nak. Bagaimana dengan uang jasa raharja dan ganti rugi dari mereka?" tanya nenek.


"Masih diurus pihak sana, Bu. Mungkin butuh waktu. Berapa jumlah uang sumbangan kematian kemarin Bu? Bukankah semuanya ada di Ibu?" selidik ayah.


"Ada Ibu simpan, untuk keperluan yasinan nanti. Jangan khawatir," sela nenek acuh tak acuh.


"Kamu mengenal laki-laki itu kan, Ita? tanya ayah penuh selidik.


"Iya Ayah, Satria teman waktu SMP-ku dulu," jawabku.


"Jadi, semua ini gara-gara kamu?" teriak ayah.


"Aku ...?"




"Kau mengenal laki-laki itu, Ita?" tanya ayah dingin.


"Iya Yah. Dia teman SMP-ku," jawabku.


"Maksud Ayah apa?" tanyaku tak mengerti.


"Ini karena kamu memperkenalkan Fitri dan laki-laki itu, iyakan?"


"Gak Yah, aku juga gak ngerti gimana mereka bisa kenal?"


"Jangan banyak alasan kamu, Ta. Kamu memang tidak pernah suka jika Fitri lebih baik darimu. Jawab jujur ...!" teriaknya.


"Demi Allah, Yah. Fitri adik yang paling kusayangi, tidak mungkin aku bisa menyakitinya walau seujung kuku," jawabku terisak. Aku tak menyangka, orang tuaku memiliki pikiran seperti ini. Di saat seperti ini, mereka masih bisa menyalahkan orang lain, bahkan aku anaknya cucu mereka.


"Kalau bukan Kamu, siapa lagi?" timpal nenek.


"Aku gak tahu Nek, apa hanya aku yang salah di mata kalian?" tangisku.


Ayah dan nenek terdiam. Menatapku dengan tatapan tak suka.


"Kamu memang anak yang tidak tahu di untung, saudara yang tak tahu terima kasih. Kalau bukan Fitri yang menyekolahkanmu waktu SMP, kamu takkan sepertinya saat ini," cerca ayah.


"Seharusnya, kamu sudah menikah. Mulai saat ini kamu tak perlu kembali ke sana untuk sekolah," ancam nenek.

__ADS_1


Aku terdiam mendengar ucapan nenek. Mengapa semua kesalahan dilimpahkan padaku?


"Siapa yang tidak boleh sekolah?" tanya tok Bah tiba-tiba. Ia berdiri di depan pintu sambil bersedekap. Memperlihatkan wajah tidak senangnya.


"Siapa yang tidak boleh sekolah?" ulang tok Bah.


"Bukan siapa-siapa, Paman," jawab ayah gugup.


"Kalau kalian tidak senang akan kehadiran Ita di sini, biar kubawa dia pulang segera," ancam tok Bah.


"Bukan begitu Paman. Tapi lelaki yang membawa Fitri malam itu, adalah teman Ita. Jika bukan karena Ita temannya, tidak mungkin dia berani membawa Fitri," jawab ayah.


"Mengapa kamu seyakin itu? Apa sudah kamu tanyakan pada lelaki itu? Apa benar Ita yang memperkenalkan mereka?" selidik tok Bah.


Ayah dan nenek terdiam.


"Apa kamu tak bisa, tidak melimpahkan segala sesuatu kepada orang lain? Apa kalian sebagai orang tua sudah mengoreksi kesalahan kalian sendiri? Sudah menjalankan tugas dan peran kalian sebagai orang tua? Jika ya, mengapa anak cucu kalian satu di timur dan satu lagi di barat? bisa jelaskan padaku?" tanya tok Bah panjang lebar.


Aku yang tak nyaman dengan keadaan itu, mencoba untuk mencairkan suasana.


"Ita gak apa-apa kok, Tok Bah. Mungkin, selama ini Ita belum bisa jadi anak yang baik untuk orang tua Ita," jelasku.


"Walau bagaimanapun, orang tua tidak berhak menghakimi anaknya seperti itu, Ta. Ya sudah, kamu siap-siap, ikut tok Bah pulang," perintah tok Bah.


Mendengar itu ayah dan nenek kelihatan bingung. Mereka terdiam cukup lama.


"Jangan bawa Ita dulu Paman, nanti apa kata orang jika Ita tidak ada di sini? biarkan dia satu minggu di sini," pinta ayah.


"Iya Bah, apa nanti kata orang?" lanjut nenek.


"Nah, itu tahu malu juga kalian? Sudah begini, kalian sibuk memikirkan isi pikiran orang lain? Saat mencerca dan memarahi anak cucu di depan orang lain, kalian tidak memikirkan hal itu?" tanya tok Bah.


"Kami tidak bermaksud seperti itu paman. Kami hanya ...?"


"Sudah ... sudah, aku tak ingin mendengar alasan apapun juga. Belajarlah jadi orang tua yang baik. Jadikan musibah yang menimpa Fitri sebagai muhasabah untuk diri kalian. Ambil hikmahnya, karena semuanya takkan ada yang abadi. Termasuk rasa angkuh dan sombong kalian terhadap anak cucu," jelas tok Bah.


Wajah ayah dan nenek seketika berubah mendengar kata-kata Tok Bah.


💜💜💜


__ADS_1


__ADS_2