Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Aku Nenek Yang Dzolim?


__ADS_3


Syukuran atas kelahiran cucu laki-lakiku, kupersiapkan dengan mewah. Memasak 100kg ayam, ikan dan sayur-mayurnya lengkap dengan sambal. Semua kumasak sendiri dengan penuh kasih sayang. Walaupun menantuku bilang ini sangat berlebihan, aku tak peduli. Suami dan anakku setuju saja dengan apa yang kulakukan, siapa yang berani menetangku?



Setelah acara selesai, kuperhatikan menantuku semakin tidak sehat. Ia sering batuk dan demam tinggi hingga mengigil. Sudah beberapa mantri yang dipanggil Adi untuk mengobati istrinya. Namun, hasilnya tetap nihil. Semakin hari semakin parah, bahkan sudah tak bisa lagi untuk bangun seorang diri. Sementara anakku tak bisa menunggui istrinya yang sakit beserta anaknya yang masih bayi.



Akulah yang mengurus mereka dan segala keperluannya. Untungnya Ita sudah bisa kuandalkan untuk mengurus kebutuhan ibunya, saat itu usianya menginjak 8 tahun. Ia sudah bisa memasak nasi, sayur dan memandikan serta menyuapi ibunya makan. Anehnya, menantuku ini hanya mau diurusi oleh anak sulungnya Ita, sedangkan anak-anaknya yang lain jika menunjukkan muka di hadapannya akan ia usir menggunakan sapu lidi.

__ADS_1


Setelah 4 bulan Ana terlantar sakit keras, akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Saat kejadian itu, Adi sedang tidak ada di rumah. Ia bekerja di pedalaman desa kami.



Sore harinya, barulah ia tiba. Ia mengahambur memeluk jasad tak bernyawa istri tercintanya. Menangis pilu seakan tak ingin melepaskan pelukannya. Aku dan para tetangga berusaha memenangkannya dan memintanya untuk ikhlas dan bersabar. Kasihan anakku, semuda ini telah menjadi duda dengan empat anak.


Pengebumian pun berjalan dengan lancar pagi itu. Ita menangis histeris melihat jasad ibunya di makamkan. Wajar saja, selama ini Ita yang paling dekat dengan Almarhumah ibunya.



Ita dan Fitri akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah, karena harus membantuku mengurus adik-adiknya. Aku pun tak punya biaya untuk menyekolahkan mereka. Sementara Aji masih butuh susu formula. Kuminta Ita untuk bekerja mengasuh cucu Pak kades di desaku. Lumayan untuk tambah-tambah uang belanja pikirku dengan nilai dua ratus ribu perbulan.

__ADS_1


Aku heran, mengapa rasa tak sukaku pada Ita dan Nur tak juga hilang. Malah semakin menjadi. Sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, tak segan-segan hukuman tanpa makan akan kuberikan agar mereka jera dan hatiku puas.


***


Setahun meninggalnya menantuku, Adi berniat menikah lagi dengan seorang gadis yang telah berumur. Dua tahun lebih tua dari anakku. Tak mengapa, aku berharap ia bisa menyayangi cucu-cucuku nantinya dan membantuku mengurus mereka. Namun, harapan hanyalah harapan belaka. Menantu baru yang kuharapkan bisa mengurus cucu-cucuku, dengan tega dan tanpa rasa bersalah memukul cucu kesanyangku. Aku sangat marah. Namun, bukan permintaan maaf yang kuterima, tetapi hinaan dan cacian yang kudapatkan. Inikah balasan untukku karena dulu aku dzolim pada almarhumah menantuku? Aku menyesal telah menikahkan Tina dengan Adi. Penyesalan di akhir memang tiada gunanya. Lihat saja, akan kuadukan pada anakku, biar ia menceraikan si Tina.


***


Pagi Minggu, kami sedang bersantai karena libur bekerja. Seseorang mengucapkan salam dan ternyata itu keponakanku Utin dari kota. Selain bersilahturahim, Utin datang ingin mengasuh salah satu cucuku untuk menemani anaknya di rumah dan menyekolahkan mereka. Tentu saja aku tidak ingin Fitri pergi jauh dariku, aku sangat menyayanginya. Biarlah Ita saja yang ikut mereka, toh dari mereka aku akan tetap mendapatkan uang bulanan, tidak akan rugi-rugi amat.


Ita berangkat setelah mengurus kepindahan dari sekolah yang lama ke sekolah barunya. Utin memberiku uang sebesar dua ratus ribu, lumayanlah. Ternyata ada gunanya juga cucuku satu ini. Baru pergi saja sudah dapat segini, apalagi bertahun-bertahun?

__ADS_1


Setahun kemudian, Fitri berniat ingin bekerja di Kota untuk mengasuh seorang anak yang masih batita. Aku sudah melarangnya untuk bekerja, cukuplah uang kiriman dari ayahnya serta kakaknya. Namun, Fitri tetap bersikeras untuk bekerja. Dengan berat hati aku mengizinkannya.



__ADS_2