
Ita tumbuh menjadi anak yang cerdas. Ia jarang sekali menangis dan sakit.
Tepat di usia Ita yang ketiga bulan, ternyata aku hamil kembali anak kedua. Allah mempercayakan kembali titipan-Nya pada rahimku.
Hamil kali ini sangat berat, aku sering muntah dan pusing sehingga Ita lebih sering bersama kakek dan neneknya. Sedangkan suami mencari tambahan dengan bekerja sampingan. Jika musim hujan tiba, kami tak bisa lagi ke kebun karet, mau tak mau kami harus mencari alternatif lain. Seperti saat ini suamiku menjadi pendompeng emas. Mencari biji-biji emas di suatu tempat yang di percaya merupakan tempat bersemanyamnya butiran emas.
"Semoga saja, kali ini kau hamil anak laki-laki ya, Na?" tutur ibu sore itu.
"Aamiin.. Biar jadi sepasang ya, Bu?" akupun berharap yang sama.
"Iya. Sebenarnya suamimu punya dua adik perempuan, Na," tutur ibu sayu.
"Lalu mereka di mana, Bu?" tanyaku penasaran.
"Mereka meninggal, ketika masih anak-anak, Sakit. Kami terlambat membawa mereka berobat karena ketiadaan uang, Na," sesal ibu menyeka air matanya.
"Yang sabar ya, Bu? Kelak adik-adik akan menunggu ibu di pintu surga-Nya," hiburku. sambil mengusap punggungnya,"
.
.
Tanpa terasa sudah dekat waktu kelahiranku. Ibu selalu mengontrol apa saja keluhanku, beberapa kali juga ibu membawaki untuk kontrol di puskesmas dan tak ada masalah pada kandunganku.
Bulan ramadan telah tiba. Ini ramadan kedua aku memeluk islam. Aku sangat senang menjalankan ibadah puasa, taraweh dan mengaji walau dalam keadaan berbadan dua. Aku belajar mengaji di surau terdekat sedangkan untuk sholat aku belajar di buku tuntunan sholat dibimbing suamiku.
Lebaran kali ini ibu, bapak dan bang Adi mengajakku untuk berlebaran ke rumah keluarga mereka yang ada di kota asal mereka. Di sana ada paman, bibi dan ponakan-ponakan ibu. Bang Adi merupakan yang tertua diantara sepupu-sepupunya. Aku senang mendapatkan saudara dan keluarga baru. Kami berkeliling ke rumah-rumah semua sanak keluarga hingga satu minggu lebaran baru kembali lagi ke kampung.
__ADS_1
Malam itu, perutku terasa keram dan mulas. Aku memberi tahukan ibu akan hal itu. Tak seperti kelahiran sebelumnya, kali ini prosesnya sangat cepat.
"Anakmu perempuan lagi, Na. Cantik dan putih menggemaskan," ujar mertuaku ceria. Syukurlah beliau tak kecewa karena anakku perempuan lagi. Kami memberinya nama Fitri, karena lahirnya setelah dua minggu lebaran Idul Fitri yang artinya kembali suci.
Semakin ceria seisi rumah dengan kehadiran anak keduaku. Fitri sangat dekat dengan kakaknya, sedikitpun ia tak ingin di tinggal walaupun hanya mandi. Ibu sangat menyayangi Fitri sedangkan bapak lebih dekat pada Ita. Bapak dan Ibu telah lama menikah, akan tetapi mereka tidak dikaruniai seorang anakpun. Itu sebabnya mereka sangat menyayangi cucu-cucunya.
"Dek, sepertinya kita harus pindah dari sini," ucap suamiku pagi itu.
"Loh, ada apa Bang? Apa ada masalah?" tanyaku khawatir menatap wajahnya khawatir.
"Bukan masalah yang serius, hanya saja peluang kerja di sini sudah sulit, apalagi musim penghujan. Kita akan mencoba peruntungan ke kampung pamanku. Di sana kita bisa menjadi petani dan pemetik buah kelapa atau membersihkan lahan orang lain," jelas suamiku panjang lebar. Aku berpikir sesaat. Mungkin ini jalannya yang terbaik bagi keluarga kami. Saat itu usia Ita baru duan tahun dan Fitri satu tahun, masih belum memerlukan banyak biaya. Namun, semakin membesarnya mereka semakin bertambah pula kebutuhannya apalagi jika akan bersekolah.
Kami memutuskan untuk pindah, tentu saja bersama mertuaku. Kami pamit terlebih dahulu pada bibi dan Kakak-kakakku. Bibi melepaskan dengan tangis.
"Hati-hati boh ka' rantau urakng, jaga dirinyu dan anak suaminyu. Dimae bumi berpijak di na'un langit di junjukng. Jaga adab diri' sabagai pandatakng," pesan bibi. (artinya : hati-hati di kampung orang, jaga dirimu, dan anak suamimu. Dimana bumi berpijak di situ langit di junjung. Jaga adab kita sebagai pendatang).
Tidak banyak yang bisa kami bawa karena ketiadaan transportasi. Barang-barang kami titipkan di rumah adik ibu. Perjalanan yang kami lalui cukup jauh, harus pindah dua kali bus dan naik ojek untuk masuk lagi ke kampung.
.
.
.
Seminggu di sini, sikap istri paman mulai berubah pada kami. Ia menjadi lebih ketus jika bicara dan wajahnya lebih sering terlihat masam. Beginilah jika menumpang di rumah orang, padahal aku selalu berusaha membantu apapun pekerjaan rumahnya. Memasak, beberes, mencuci pakaiannyapun aku lakukan. Kami juga berbelanja untuk makan kami. Berbeda dengan bibi, paman sangat senang kami di sini, setidaknya rumah terasa ramai dengan tawa anak-anak ucapnya.
Suamiku telah mendapatkan pekerjaan dari hari pertama di sini, ia akan ikut temannya memcari bahan rumah di hutan belantara. Maka tinggallah aku dan anak-anak di sini menunggu ia pulang dan mendirikan rumah.
Ibu tinggal di rumah mertuanya yang memang penduduk di sini, tak mungkin aku meminta ikut tinggal di sana sedangkan ada adik-adik bapak mertua yang masih tinhhal bersama. Mertuaku setiap hari menengok cucunya khususnya Fitri dan selalu membelikan apapun yang Fitri inginkan. Aku merasa ibu pilih kasih, tapi selalu kutepis perasaan itu. mencoba husnudzon.
Seminggu kemudian suamiku pulang, membawa beberapa bahan untuk rumah kami. Bang Adi meminta izin kepada pemilik tanah yang kosong untuk mendirikan pondok di sana dan mereka mengizinkan. Kami mendirikan rumah tak jauh dari tepian sungai agar mudah jika ingin mandi dan mencuci.
__ADS_1
Dengan bantuan beberapa temannya, rumah kami pun berdiri tegap. Walau sederhana tapi inilah istana kami. Berlantai papan, berdinding papan dan daun serta atap daun. Asal terhindar dari panas dan hujan sudah cukup bagiku. Tak ada kasur, tak ada peralatan elektronik, kami masih menggunakan tikar pandan dan penerangan pelita minyak tanah. Alhamdulillah.
Aku dan anak-anak sering di tinggal suami untuk kembali bekerja dan kembali setelah 3 hari sampai satu minggu. Jika malam menjelang, hanya suara burung hantu dan burung but-but yang bersahutan. Menambah keseraman setiap malamnya.
Hari-hari kulalui bersama anak-anakku. Mereka tak pernah rewel soal makanan, bahkan kami sering makan hanya dengan garam dan minyak jika suamiku belum juga pulang. Untuk meminta pada mertua aku tak enak karena penghidupan kami sama saja.
Aku kembali hamil. Calon anak ketiga walaupun saat itu usia Ita baru menginjak tiga tahun dan Fitri empat tahun. Aku dan suami sangat ingin memiliki anak laki-laki. Semoga saja kali ini terwujud. Mertuaku sangat senang, semoga aku tak mengecewakannya lagi.
Malam itu hujan turun dengan derasnya, diselingi suara dentuman petir dan angin. Suami tak di rumah, hanya kami bertiga. Aku sama sekali tak berani menutup mata, anak-anakku tidur dipangkuanku dengan posisiku duduk memangku kepala mereka. Suara cekikikan bahagia tak henti-hentinya di belakang rumah. Yah, terdapat hutan dan pohon pisang di belakang rumahku. Aku gemetaran memdengarnya, kubaca surah apa saja yang kuhafal. Namun bukannya reda malah semakin mendekat. Aku harus nekat, kugendong kedua anakku satu di depan dan satu di belakang menggunakan jarik. Kututupi seluruh tubuh mereka agar tidak basah. Dengan basmallah, aku berjalan dengan cepat keluar dari rumah. Suara itu mengikuti beberapa saat ketika belum menemui rumah penduduk. Aku menangis ketakutan, kupercepat langkah kakiku agar segera sampai di rumah mertua. Butuh waktu 20 menit dengan berjalan kaki.
Hujan masih deras, anak-anakku menggigil kedinginan karena kami tak menggunakan payung. Aku yang sedang hamil muda sangat kelelahan menggendong dua anakku. Sesampainya di rumah Ibu, aku segera menggedor pintu seperti akan rubuh. Ternyata bapak yang membukakan pintu.
"Ya Allah, bapak sudah khawatir dari tadi dan ingin menyusul kalian sebentar lagi bersama ibumu," jelas ayah.
"Kalian tidak apa-apa? Ayo minum dulu setelah itu ganti baju kalian," ujar ibu khawatir melihatku tak bersuara dan wajah pucat pasih. Ibu segera mengganti pakaian cucunya dan meminta mereka agar tidur di kamar.
"Sudah kukatakan makhluk itu menyukaimu, Na. Apalagi saat ini kau sedang mengandung, mereka semakin senang," jelas ibu. Aku semakin ketakutan mendengar penuturan ibu. Akhirnya aku terlelap di samping ibu dan anak-anakku, sedangkan bapak tidur di luar.
Keesokan harinya, aku ingin pulang ke rumah. "Siang kau boleh pulang tapi kau harus tidur di sini selama suamimu tidak di rumah," pesan ibu. Terpaksa aku mengikuti saran ibu jika tak ingin kejadian kemarin malam terulang lagi.
Sepulangnya suamiku, aku menceritakan semuanya. Awalnya ia tak percaya pada ceritaku, tapi semuanya dibenarkan oleh mertua. Terpaksa demi kenyamananku dan anak-anakku, kami kembali pindah di sebuah gudang kosong beberapa meter dari rumah mertua. Sedangkan rumah lama kami di robohkan suami.
"Untuk sementara kita di sini dulu ya, Dek? Sampai modalku cukup untuk membangun rumah kembali. Sambil kita mencari lokasi yang ramai tetangganya," pujuk suami.
"Iya Bang, aku tak masalah asal aku dan anak-anak merasa aman," jawabku.
Suami kembali bekerja seperti biasanya. Tinggallah aku bersama anak-anak. malam itu perasaanku tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu. Namun, kutepis sejauh mungkin pikiran tersebut. Bawaan bayi batinku. Kuperiksa semua pintu dan jendela sebelum tidur, setelah merasa aman aku bergegas menyusul anak-anak untuk tidur.
"Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku seperti mendengar derap langkah kaki di dalam rumah, ku tajamkan pendengaranku tapi tetap berpura-pura tidur dengan tenang. Semakin lama semakin mendekat ke arahku dan anak-anak, aku sudah bersiap dengan pisau dapur di tanganku yang selalu ku simpan di bawah tikar jika suami tak di rumah.
💜💜💜
__ADS_1