Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Tempatku Bukan Di Sini Lagi


__ADS_3


وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ


“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)


_____________________________________


Sekian banyak laluan duri kutempuh


Tak jua kutemui lembah yang menyajikan hijaunya hamparan padang rumput


Tak jua kutemui sejuknya air penghilang dahaga


Tak jua satu pohon pun kutemui untuk sekedar penopang tubuh ketika telah terlalu lelah


Yang bisa kulakukan hanya berjalan dan terus berjalan


Berharap di depan sana akan ada bias pelangi di ujung jalan

__ADS_1


***


Ujian sekolah telah kami lalui dengan sangat baik. Besok lusa adalah pengambilan ijazah untuk melanjutkan sekolah menengah pertama. Sore yang tenang menemaniku menyapu halaman rumah. Bibik datang dan duduk di teras rumah memperhatikan pekerjaanku.


"Ita selesai nyapunya kemari ya ... Bibik mau bicara."


Aku mengangguk dan meneruskan pekerjaanku. Selesai mengumpulkan daun-daun kering dan mencuci tangan, aku pun menghampiri bibik. Aku duduk di sampingnya.


"Ita, sepertinya Bibik tidak bisa lagi membantumu meneruskan sekolah SMP," tutur Bibik tanpa melihatku.


"Karena suami Bibik akan membawa tiga keponakannya yang lain tinggal di sini, yaitu Hendra, Egi dan Dea untuk menemani Tia. Jadi, Bibik harap Ita mengerti. Bibik sangat ingin kamu tetap di sini, bersekolah dan menemani Tia tapi keadaan yang memaksa Bibik menyampaikan ini, sebelum pendaftaran SMP di kampungmu tutup," lanjut bibik.


"InsyaAllah akan selalu ada jalan untuk anak baik sepertimu Ta ... Besok siap-siap ya kita ke sekolahmu minta SKHU untuk kamu bawa ke kampung. Ijazahmu bisa menyusul setelah keluar."


"Baik Bik." Tak mampu lagi aku mengolah kata untuk menghiba. Meminta belas kasih. Biar waktu yang akan menjawab bagaimana nasibku kelak.


Aku pun mulai mengemasi pakaianku, tanpa tas, hanya kotak mie tempatku membawa pakaian. Boneka besar pemberian kak Tia tak bisa kubawa serta karena ukurannya besar, yang selama dua tahun ini sebagai peneman tidurku. Biarlah kutinggal saja.


Keesokan harinya bibik mengantarku ke sekolah untuk meminta SKHU sementara. Kami menemui kepala sekolah dan Bu Nurhayati wali kelasku.

__ADS_1


"Ita tidak melanjutkan sekolah di sini Bu Utin??" tanya Bu Nurhayati.


"Tidak Bu, mau pulang katanya, sekolah di kampungnya ...."


"Baiklah, di manapun yang penting kamu tetap sekolah ya Ita ... Ibu yakin nilai-nilaimu yang terbaik."


Aku hanya mendengarkan dan mengangguk tanpa berniat menjawab apapun. Aku berharap yang sama dengan ucapan bu Nurhayati. Selesai urusan kami di sekolah, aku pun berpamitan pada kepsek dan guru-guru yang selama ini membimbingku. Bu Nurhayati memelukku erat.


"Jika kehidupan ibu lebih baik, ibu sangat ingin menyekolahkanmu Ta, tapi anak-anak ibu masih kecil dan suami ibu juga hanya bekerja serabutan. Ibu berdoa, kamu bisa menggapai cita-citamu" bisik Bu Nurhayati seraya membelai rambutku pelan.


"Iya Bu, Ita pasti merindukan Ibu dan teman-teman di sini."


Kami pun pulang. Aku akan berangkat ke kampung siang ini menggunakan angkutan umum, diantar kak Mimin ke terminal. Aku berpamitan pada paman dan bibikku, Kak Tia tentu saja. Aku sangat berterima kasih atas segalanya, tanpa mereka aku tak akan bisa seperti ini. Semoga Allah Subhana Wa Ta'ala membalas segala kebaikan mereka.


Perjalanan dua jam ke kampung tak terasa karena rasa rinduku pada adik-adikku. Saat ini Nur telah berusia 7 tahun dan duduk di kelas dua sekolah dasar. Sudah tangkas berberes rumah seperti mencuci piring, menyapu dan memasak nasi. Sedangkan Aji telah berusia 3.5vtahun. Mereka menyambutku pulang dengan suka cita. Ayah ada di rumah istrinya, sedangkan Fitri belum libur dari bekerja. Biasanya jadwal pulang ke rumah sama denganku agar kami bisa melepas rindu.


Aku berharap bisa menemukan keajaiban di sini untuk melanjutkan cita-citaku meneruskan SMP. Kebetulan di kampungku sedang musim panen, mungkin sebelum waktunya pendaftaran SMP nanti aku bisa mengumpulkan uang menambah tabunganku yang ada. Bismillah.


__ADS_1


__ADS_2