
لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
lahụ maqālīdus-samāwāti wal-arḍ, yabsuṭur-rizqa limay yasyā u wa yaqdir, innahụ bikulli syai in'alīm
Kepunyaan-Nya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
________________________________
Sabtu sore, Fitri pulang ke rumah membawa berbagai cemilan. Wajahnya ceria setiap pulang menemui kami. Tanpa beban. Begitu lah Fitri selalu membawa kebahagian di manapun dia berada. Kami bercerita banyak hal. Dari yang lucu hingga sedih. Tertawa dan menangis bersama.
"Jadi sekolahmu gimana kak?"
"Entah lah Fit, Kakak bingung cari tambahannya di mana."
"Tidak mencoba minta ke Ayah saja Kak?"
"Buat sekolah Nur saja yang masih SD, Ayah kadang ngasih kadang gak kan? Apalagi buat aku, Fit?"
"Ya sudah, begini saja. Kakak pake tabungan aku saja, gimana?"
"Jangan Fit, kamu kan nabung pake jerih payah kamu sendiri, kamu kerja. Aku ada kok tabungan walau gak banyak."
"Gak apa-apa kok Kak, pake saja dulu, siapa tayu nanti Kakak bisa sampe SMA, bisa kerja enak daripada aku kan? jadi bisa mengganti tabunganku. Ya gak?" pujuk Fitri.
"Iya Ta, pake saja dulu tabungannya Fitri dan kalau masih kurang, tuh jual saja ayam jago Nenek buat nambahin beli sepatu atau buku kamu," tambah nenek.
"Beneran tidak apa-apa Nek? Fitri?" tanyaku seolah tak percaya bahwa pertolongan Allah itu selalu ada melalui tangan-tangan yang ia kehendaki.
***
Pendaftaran sekolah pun dimulai. Aku mendaftar pada hari pertama pembukaan. Tiga hari kemudian, namaku terdaftar di sana menjadi salah satu murid yang lulus.
Masa orientasi siswa atau MOS sekolah untuk pengenalan lingkungan,guru-guru serta kakak-kakak kelas, kami lalui dengan sangat lancar. Walaupun harus lucu-lucuan menggunakan accessories yang kami buat sendiri di rumah. Semua menambah pengalaman kami.
***
Tahun ajaran baru telah di mulai. Aku duduk di kelas VIIa. Semua berjalan dengan lancar sampai Ayah membawa anak beserta istrinya pindah ke rumah nenek. Di satu sisi aku senang karena berkumpul kembali bersama ayah, di sisi lain masih ada perih yang sangat membekas oleh perlakuan ibu terhadap Fitri.
__ADS_1
Jarang sekali ada ketenangan di rumah semenjak ayah dan ibu datang. Kalau tidak ayah dan ibu yg bertengakar, nenek dan ibu lah yang selalu meributkan hal-hal sepele.
.
.
.
Aku telah duduk di kelas Viii SMP. Siang saat aku pulang sekolah dan makan siang di dapur. Adik sepupu nenek sebelah rumah yaitu Nek Siti tiba-tiba datang. Bukan tanpa alasan nek Siti ke rumah, ternyata ia memiliki sebuah rencana untukku.
"Makan siang Ta?" tanyanya berbasa-basi.
"Iya Nek Siti, baru pulang sekolah," sahutku melanjutkan makanku.
"Lagi apa Kak Ngah?" tegurnya pada nenekku.
"Buat kopi ini, kamu mau sekalian Siti?" tawar nenek.
"Tidak usah Kak Ngah, kopiku masih ada di rumah. Ada tamu di rumahku Kak Ngah." nek Siti mulai memancing perhatian nenek.
"Tamu dari mana?"
"Dari kota lah Kak, temannya bang Yusuf. Dia kesini mau cari jodoh katanya kak, mungkin bisa ketemu anak dara sunti di desa kita ini," lanjut nek Siti.
Nasi pun tersembur dari mulutku karena terkejut. "Nenek becanda ya? Ita kan masih sekolah Nek ... masih SMP, masak iya udah mau dijodohin gitu?" rungutku tak terima.
"Bukannya ka.u langsung menikah Ita, kenalan saja dulu siapa tau jodoh, iya kan Adi?" tanya nenek pada Ayah.
"Aku terserah Ibu saja bagaimana baiknya," jawab ayah.
Aku yang tak menyangka akan kejadian ini hanya bisa tertunduk sedih. Aku remaja 14 tahun sudah akan diperkenalkan dengan orang yang tidak kukenal sama sekali. Kulihat nek Siti hanya tersenyum penuh arti.
Aku terdiam mendengar ucapan nenek dan ayahku. Ya Allah ... cobaan apalagi ini?
"Ya sudah, ajak ke sini saja tamu nya Siti," perintah nenek antusias kepada nek Siti.
"Sebentar ya Kak Ngah. Aku pulang dulu untuk mengajak mereka kemari," pamit nek Siti seraya tersenyum.
"Ita kalau sudah makan, kamu ganti baju, itu tamu mau ke sini kenalan sama kamu." aku melengos tidak suka mendengar perintah nenek. Sepertinya ini akan menjadi drama tiada akhir.
__ADS_1
Tak lama nek Siti, kek Yusuf dan tamunya datang ke rumah. Ayah dan nenek mempersilahkan mereka masuk. "Tina buat kopi ya ...," pinta Nenek bersemangat.
Mereka berbincang-bincang. Aku tak ingin tau apa yang mereka bicarakan.
Beberapa kali kudengar mereka menyebut namaku. "Ita kemari nak ...," panggil Ayah.
Aku terpaksa ke luar kalau tak ingin ini menjadi bahan amukan ayah dan nenek.
"Nah ini yang namanya Ita, 14 tahun. Sekarang kelas dua SMP," jelas ayah kepada tamunya.
"Ta ini nak Philip dari kota ... Nak Philip ini bekerja sebagai intel di kepolisian di kota provinsi."
Aku yang awalnya menunduk akhirnya mengangkat kepala melihat sekilas orang yang diperkenalkan ayah. Berpostur tinggi besar, kulit sawo matang, berambut gondrong sebahu, menggunakan jaket kulit. Dia hampir sebaya dengan ayahku. Kutaksir usianya 30btahun lebih. Ini kah orang yang akan mereka jodohkan padaku?
"Ganteng tidak Ta?" tanya nek Siti.
Aku menoleh pada nek Siti dengan senyum kecut. Aku menahan emosi remajaku.
Apa maksudnya nek Siti seperti ini? Apa ada udang di balik batu?
"Maaf ayah, aku mau masuk dulu, tidk enak badan."
Aku pun berlalu tanpa menunggu jawaban dari ayahku. Terserah lah jika ingin marah nantinya. Yang penting aku terbebas dari mata keranjang itu.
"Biasa anak gadis masih malu-malu."
Kudengar nenekku berkata demikian. Lalu mereka tertawa bersama. Malu? bukan karena malu tapi aku kesal luar biasa. Aku masuk kekamar lalu rebahan untuk tidur. Biarlah pekerjaan rumah akan kuselesaikan ketika bangun nanti.
***
Pukul 3 sore aku bangun setelah adzan Ashar terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah kami. Aku segera berwudhu dan melaksanakan kewajibanku. Setelahnya aku keluar untuk berberes rumah. Tamu tersebut sudah tak kelihatan lagi. Semoga dia takkan kembali ke rumah lagi.
Malam hari saat makan malam. Kami selalu berusaha untuk makan bersama apapun menunya karena selain untuk menjaga keakraban keluarga juga agar lauk kami cukup untuk dibagi.
"Ta, Sabtu malam nanti, Nak Philip mau datang lagi kemari." ucap nenek.
"Sepertinya dia suka sama kamu."
Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Ibu segera menuangkan air minum dan mengulurkannya padaku.
__ADS_1
💜💜💜