
"Iya Adi, Anna. Kasihanilah kami. Kami akan membayar biaya persalinan dan ganti ruginya. Sebutkan saja kalian menginginkan berapa jumlah ganti ruginya," jelas paman Dodi.
Ada rasa marah menyelinap di hatiku, mereka seperti memaksa membeli anakku, darah dagingku yang kukandung selama sembilan sepuluh hari dengan perjuangan. Bukannya aku tidak prihatin dengan keadaan mereka yang belum memiliki darah daging, tapi cara mereka salah. Seolah anakku anak kucing yang seenaknya diminta dan dibayar.
"Anakku tidak dijual Paman dan bibi. Bukannya aku tak mengerti keadaan kalian, tapi aku tidak bisa memberikan anakku pada orang lain selagi aku masih bernafas," jawabku lugas.
"Dek? Apa tidak dipikirkan dulu sebelum kita memberikan keputusan?" ucap suamiku dengan wajah tak enak.
"Keputusanku sudah bulat, Bang. Gak bisa diganggu gugat," putusku.
Suamiku menunduk, mungkin ada rasa tidak enak terhadap paman dan bibinya. Suami istri itu hanya bisa terdiam, kulihat bi Eko menyeka sudut matanya. Hatiku bergetar, aku mengerti akan perasaan seorang wanita yang sangat ingin mempunyai anak.
"Baiklah kalau begitu, Anna. Kami tidak akan memaksa kalian lagi. Tapi, apakah boleh kami menganggap anak kalian ini anak kami? Istilahnya anak angkat?" tanya paman Dodi.
"Kalau hanya anak angkat, kami setuju, Paman. Mungkin kelak bisa dijadikan pancingan," jawabku.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih sebelumnya dan paman beserta bibimu ini minta maaf jika kami lancang meminta anak kalian. Ini, terimalah sebagai hadiah dari kami dan untuk anak kami juga. Siapa nama anak manis ini?" tutur paman menoel pipi merah muda Nur.
__ADS_1
"Terima kasih, Paman. Tidak perlu repot-repot begini. Kami juga minta maaf tidak bisa menuruti permintaan kalian. Namanya Nurjannah," jawab suamiku sambil tersenyum melihat anak kami.
"Boleh bibi gendong, Anna?" tanyanya penuh harap.
"Tentu saja boleh, Bi. Silahkan,"
Bi Eko dengan hati-hati menggendong Nur. Ada semburat bahagia di wajah pasangan suami istri tersebut. Aku tau mereka sangat merindukan buah hati, 10 tahun bukanlah waktu yang singkat, mereka pasti sangat tersiksa. Namun, untuk memberikan anakku, itu tak mungkin. Amanah itu untuk di jaga, bukan untuk di sia-siakan.
.
.
"Kenapa tak kau berikan saja anakmu itu pada Dodi? Pake jual mahal segala? Anak perempuan itu tidak akan berguna untuk masa depanmu kelak," murka ibu saat menjengukku.
"Subhanallah, Bu. Anak itu sama saja, mereka punya rezeki dan jalannya masing-masing. Tidak pantas kita mendahului kehendak dan ketetapan Allah Azza Wa Jalla. Dan anakku bukan untuk diperjualbelikan seperti anak kucing dan anak ayam. Berguna atau tidaknya tergantung kita sebagai orang tua bagaiaman mendidik anak-anak kita supaya menjadi anak sholeh dan sholeha," tuturku panjang lebar.
Wajah ibu berubah merah, tanda tak suka dengan ucapanku. "Kau anak baru seumur jagung, agama baru separas telapak kaki sudah mau khutbah di depanku? Dasar menantu tidak tau diuntung. Aku yang lebih dahulu makan asam garam," teriak ibu.
__ADS_1
"Maafkan saya, Bu. Bukan maksud saya seperti itu, saya mohon ibu tidak berkata seperti itu lagi mengenai anak saya,"
"Kau!!!!? " tangan ibu telah terangkat ingin memukulku. Kupejamkan mata jika memang itu yang akan ibu lakukan, aku ikhlas.
"Ibu...!!! Apa-apa sih, Bu? Anna itu baru melahirkan anakku, Bu. Kasihan dia." ucap suamiku memelas.
"Oh.. bagus kamu ya Adi? Demi wanita yang baru beberapa tahun kau nikahi ini, kau sudah berani melawanku? Mau jadi anak durhaka kamu?" pekik ibu.
"Bu, aku mohon jangan begini," pinta suamiku memelas memegang tangan ibunya.
"Sudah, kalau ada apa-apa jangan panggil aku lagi. Aku tak sudi mengurusi memantui tidak tahu diri ini," cecarnya.
"Saya mohon maaf, Bu. Ibulah orang tua saya di sini. Mana mungkin saya membelakangi ibu?" rayuku.
"Kalau kau tak bisa memberiku cucu laki-laki, Adi akan kunikahkan dengan perempuan pilihanku, paham!!!"
TBC. Terima kasih telah mengikuti kisah ini.
__ADS_1
Mohon follow, vote, rate dan like ya shay.
I Love U readers.