Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Dipaksa Bertunangan


__ADS_3

🍒🍒🍒


Siang itu sepulang dari sekolah, ayah dan nenek sedang bersantai di teras. Setelah mengucapkan salam aku masuk dan berganti pakaian. Buru-buru makan karena sudah sangat lapar, wajar saja, tanpa uang jajan hanya berbekalkan air putih dari rumah.


Terkadang teman-teman dekatku yang sudah tahu keadaanku, dari merekalah aku bisa merasakan jajan di kantin sekolah. Walau hanya gorengan dan teh es, itu sudah cukup mengganjal perut ketika harus pulang jam satu hingga dua siang.


"Ita kalau sudah makan ke sini ya?" teriak nenek.


Tanpa menyahut aku melanjutkan makanku. Kulihat ibu sedang beristirahat. Karena dari pukul 05.30 pagi beliau sudah pergi ke sawah. Baik itu sawah nya yang hanya beberapa petak yang ia sewa atau sawah orang lain utk mengambil upah panen atau bersih-bersih rumput.


Setelah aku selesai makan aku keluar teras duduk di bandulan pintu sambil mencari udara segar tak jauh dari nenek dan ayah.


"Ta, tadi nek Siti mu menyampaikan pada kami bahwa Philip ingin melamarmu," jelas nenek.


Aku yang mendengar, hanya bisa melongo beberapa saat sambil mencerna kata-kata yang nenek sampaikan.


"Nek, Ita masih sekolah ... baru kelas dua, bagaimana bisa dilamar begitu? Ita tidak mau," lirihku hampir menangis.


"Ita masih ingin sekolah, kerja, membahagiakan orang tua dan jadi anak yang berguna."


"Alah, paling tamat SMP kamu mau kerja apa sih Ta? jadi babu?" cetus nenek pongah.


Seketika itu air mataku luruh tanpa kusadari. Sebegitu tidak berharganya pendidikan di mata mereka?


"Kamu nikah saja sama Philip, dia sudah kerja, dewasa, orangnya sopan dan tidak pelit. Dia juga beberapa kali ngasih nenek uang belanja, kamu juga ikut makan hasilnya?" lanjut nenek tanpa perduli akan perasaanku.


"Iya Ta, ikut saja kamu jangan banyak cerita" pungkas ayah tanpa perasaan.


"Nenek dulu menikah sama kakekmu umur nenek 13 tahun dan kakekmu 20 tahun. Saat nenek melahirkan ayahmu, nenek masih kuat dan segar, bahkan saat nenek membawa ayahmu ke pasar, orang-orang mengira ayahmu itu adiknya nenek. Karena nenek masih muda, apa kamu menikah ketika sudah tua?" cemooh nenek membangga.

__ADS_1


Aku sudah kehabisan kata-kata. Menangis juga tak ada gunanya. Hanya akan memancing kemarahan Ayah dan nenek.


"Terserah Nenek dan Ayah saja, tapi aku mau tetap sekolah sampai selesai kelas tiga, setelah itu terserah." desisku.


Setelah mengatakan itu aku bergegas masuk kekamar, menumpahkan segala asa dan duka pada bantal ke sayanganku. Aku segera mengabari Fitri tentang ke jadian barusan. Butuh waktu beberapa saat hingga Fitri membalas pesanku. Bunyi dentingan ponsel tanda pesan masuk segera kubuka.


"Ikuti saja dulu kemauan Ayah dan Nenek Kak, nanti kita cari cara agar si om-om itu benci padamu." pesannya.


Aku tersenyum kecut membaca pesan Fitri, jadi aku harus berpura-pura berapa lama?


Aku hanya menjawab "Ok." pada pesan Fitri. Sabtu sore ke esokan harinya Fitri pulang, karena aku mengabari si om akan datang. Malam harinya om tua sudah duduk manis di dekat ayah, entah membicarakan apa aku tak ingin taru. Aku asik bercanda bersama Fitri dan Nur di dapur.


Sepulangnya si om dari rumah, ayah masuk ke dapur dan menyampaikan besok om Philip akan mengajakku ke pasar untuk membeli sebuah cincin emas untukku dan pertunangannya akan dilaksanakan pada malam harinya.


Aku dan Fitri hanya berpandangan tanpa menjawab ucapan ayah barusan. Fitri menggenggam tanganku memberiku kekuatan tanpa kata. Aku terisak.


Mata serasa panas menahan tangis. Apa tidak ada rasa welas asih di hati orang tuaku? Orang dahulu di masa nenekku memang menikah saat usia masih sangat dini tapi beda dengan masaku sekarang.


Sore hari nya om Philip datang ke rumah mengajakku pergi membeli cincin untukkku, tentu saja aku tak ingin hanya berdua dengannya. Kuajak serta Fitri.


Malam hari pun tiba menyibakkan tirainya. Gelap pekat seakan mewakili hati yang seakan tiada lagi secercah sinar harapan. Aku pasrah jika ini jalanku. Kupandangi lamat-lamat wajah ceria ayah dan nenekku. Tanpa terasa cincin itu telah tersemat disertai senyum mengerikan dari orang yang paling kubenci.


Aku harus melakukan sesuatu sebelum aku selamanya terperangkap dalam permainan mereka. Untungnya om Philip hanya mengikatku dengan sebuah cincin tanpa berkata kapan ia akan menikahiku, bisa-bisa aku pingsan di tempat.


Setiap kali om Philip datang, ia selalu berusaha mendekatiku. Suatu siang sepulang sekolah aku sangat lelah karena terserang demam. Aku pun tertidur setelah meminum obat.


Di dalam tidurku, aku merasakan ada sentuhan di kulit dan rambutku. Ingin membuka mata tapi sangat berat, kebetulan saat itu aku menggunakan selimut tebal, yang di luar hanya tangan dan kepalaku.


Rasa penasaran membuatku membuka mata. Dan alangkah terkejutnya aku karena om Philip sudah berada di kamarku dan duduk di tempat tidurku. Aku terduduk dan mundur ke belakang menghindarinya. Gemetar menahan takut dan marah. Ia menatapku heran.

__ADS_1


"Om ngapain di kamarku?" sergahku.


"Memangnya salah tunangan kamu jengukin kamu sakit?" tanyanya.


"Kan bisa di luar Om, tidak perlu masuk-masuk kamarku, tidak sopan ... keluar sekarang!" teriakku lagi.


Ia pun bergegas keluar dari kamarku. Mungkin tak ingin lebih jauh mendengar teriakanku. Aku menyesal, mengapa ayah tak juga membuatkan pintu untuk kamarku yang memerlukan ruang privasi. Sejak kejadian itu aku lebih waspada dan lebih menjaga jarak. Tak ingin kecolongan lagi. Aku pernah bercerita tentang masalah ini pada nenek dan ayah tapi tanggapan mereka membuatku bergidik ngeri.


Suatu sore saat aku dan Fitri ke pasar untuk berbelanja, tanpa sengaja kami bertemu Pak Edwar, kepala polisi saat itu di desaku.


"Hai Ita, Bapak dengar kamu sudah tunangan ya?" tanyanya spontan.


Aku dan Fitri mendelik tidak senang, karena aku mencoba menutupi kejadian itu serapat mungkin walaupun ayah dan nenek seakan ingin satu desa tahu akan berita tersebut.


Aku tersenyum kecut dan sepertinya pak Edwar paham akan perasaanku.


"Gini loh Ta, bukannya bapak mau ikut campur urusan pribadi dan keluarga mu. Cuma Bapak kasihan lihat kamu, masih kecil gini udah dijodohkan. Bapak sudah beberapa kali menasehati ayahmu tapi ayahmu bilang ini pilihanmu, apa benar?" tanya pak Edwar penuh selidik.


Tentu saja pertanyaan pak Edwar membuatku semakin menunduk dalam.


"Tidak Pak, saya masih ingin melanjutkan sekolah dan cita-cita saya Pak." jawabku lirih.


"Kamu yakin, Philip itu belum menikah?"


Aku menggeleng. "Tidak tahu Pak, saya tidak pernah bertanya," jawabku sekenanya.


"Besok hari Senin, Bapak kesana."


__ADS_1


__ADS_2