Pengorbananku Tak Berharga

Pengorbananku Tak Berharga
Hadirmu Ibu Pov 15


__ADS_3

🍒🍒🍒


Sudah tiga hari aku di sini. Belum ada tanda-tanda suamiku akan datang menyusulku. Aku mengajak anak-anak mencari kesibukan dan pengalaman baru. Mandi di air yang jernih di atas bebatuan bersama keponakan-keponakanku. Mereka sangat senang, aku menunggu di tepian sambil memangku Nur.


"Kamu ada masalah, Dek?" tiba-tiba kakak iparku datang menghampiri.


"Ceritalah pada kakak, mungkin kakak bisa memberikan solusi atau setidaknya bisa meringankan beban pikiranmu," tuturnya.


"Aku tidak tau harus cerita mulai dari mana kak," keluhku.


"Semua masalah pasti ada jalan keluar dan hikmahnya, Dek. Kakak yakin kamu lebih faham di bandingkan kakakmu ini," tuturnya tersenyum lembut.


Aku mengangguk mengerti.


"Selesaikan masalahmu secepatnya, jangan dibiarkan berlarut-larut. Apalagi jika masalah rumah tangga. Ingat, masalah takkan selesai begitu saja tanpa kita turun tangan," nasehatnya.


"Baik Kak, terima kasih. Semoga suamiku lekas datang untuk membicarakannya," jawabku.


"Ya sudah, ini udah sore. Ayo ajak anak-anakmu pulang," perintah kakak.


Aku memanggil anak-anak untuk segera menyudahi aktivitas mandi mereka.



Siang itu. Terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari luar rumah.


"Assalamualaikum..."


tok..tok..tok..


Suara itu, suara milik suamiku. Ada rasa bahagia dan rindu yang membuncah menelusupi ruang atma. Aku bergegas keluar karena bang Sifa masih di kebun dan anak-anak sedang tidur siang.


"Waalaikumsalam," jawabku. Kucium takzim punggung tanganku, ia membelai kepalaku dengan lembut. Kami sama-sama tersenyum.


"Apa kabarmu dan anak-anak, Dek? Seminggu kita tidak bertemu, sangat menyiksaku. Apa kau tau, aku sangat merindukan kalian?" tuturnya lirih.


Kutatap matanya. Ada kejujuran di sana. Rasa haru menyelubungi kami berdua. Seperti sepasang kekasih yang lama tidak bersua.


"Kami juga merindukanmu, Bang. Anak-anak setiap hari menanyakan kapan kau datang untuk menjemput mereka,"


Suara langkah berlari dari dalam.

__ADS_1


"Ayah...? Kapan datang? Kok lama Yah jemputnya?" tanya Ita dan Fitri bergelayut manja pada ayah mereka.


"Ayah kerja sayang, makanya baru sempat ke mari menjemput kalian. Kalian mau kan pulang sama Ayah? Ita, ayah minta maaf ya?" sesalnya.


"Ita udah maafin ayah kok. Ita sayang Ayah," kekeh Ita memeluk ayahnya.


"Ya sudah, ayo kita makan siang dulu. Abang belum makan kan?," tanyaku.


"Iya, ayo anak-anak ayah juga makan," anak-anak menarik tangan ayahnya ke ruang makan. Kami makan dengan canda tawa. Semoga selamanya seperti ini, penuh kehangatan.


"Wah... lagi makan. Paman gak diajak nih?" tanya bang Sifa. "Kapan datan, Adi? Sehat kamu?"


"Baru aja bang. Mari bang makan?" ajak Bang Adi. "Saya sehat bang, alhamdulillah."


"Syukurlah kalau begitu. Ayo, udah lapar siang gini." Bang sifa menyendok nasi ke dalam piringnya makan bersama kami.


Malam harinya kami duduk bersama di ruang tv sambil menemani anak-anak bermain. Anak-anak nampak ceria dengan kehadiran ayah mereka. Suamiku sesekali tertawa melihat tingkah anak-anak.


"Bang, besok saya akan membawa Anna dan anak-anak pulang. Terima kasih, selama seminggu ini menjaga mereka untuk saya," tutur Bang Adi.


"Ya, silahkan. Itu hakmu membawa mereka. Abang tidak mungkin melarang. Pesan abang, jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin. Kita sebagai kepala keluarga harus nisa menahan emosi."


"Abang, tidak tahu apa masalah kalian."


"Jangan pernah egois, pikirkan anak-anak kalian. Merekalah korban sesungguhnya dari keegoisan kita orang tuanya." Tutur bang Sifa menasehati kami.



Pagi ini, aku bersiap-siap untuk pulang ke rumah kami. Setelah semuanya beres kami pamit pada abang-abangku dan keluarga terdekat. Entahlah, ada firasat jika ini terakhir kalinya aku kemari.


"Bang Sifa, jaga kesehatan ya? Siapa tau Anna sudah tidak bisa kemari lagi jenguk abang," tuturku.


"Kenapa kau bicara seperti itu, Dek? Kau akan sehat dan baik-baik saja. Sudah, abang tidak mau mendengar kata-kata itu lagi," sanggah bang Sifa.


"Kan Anna mau lahiran Bang. Kalau sudah empat anak, gimana Anna mau bawa mereka lagi?" candaku.


Kami pun menaiki bus antar kota yang akan mengantarkan kami ke tempat tujuan. Perjalanan setengah hari kami lalui dengan candaan. Anak-anak begitu senang dengan kehadiran ayahnya. Semoga ia tidak akan berubah lagi.


Kehamilanku telah memasuki usia 8 bulan dan perkiraan kelahiranku setelah Idul Adha bulan depan. "Aku masih masih bisa makan-makanan khas lebaran," bathinku. Bang Adi tetap bekerja seperti biasa dan pulang seminggu sekali.


Saat ini, Ita sudah duduk di kelas 3 dan sudah bisa kuandalkan untuk membantuku dalam hal-hal kecil. Walau kecil ia cukup sekatan menjaga Adik-adiknya begitu juga Fitri.

__ADS_1


Belakangan ini, kesehatanku semakin menurun. Entah karena bawaan kehamilanku atau karena sakitku.


Idul Adha tinggal menunggu hari. Anak-anak mulai bertanya mau membuat camilan apa? "Bang, adek hamil besar gini gak bisa bikin kue, capek duduk lama-lama."


"Boleh gak kalau kita beli aja?"


"Kasihan anak-anak kepengen banget makan kue lebaran," tuturku.


"Iya, Dek."


"Abang juga mikirnya gitu."


"Kita beli ajalah."


"Sehari sebelum lebaran, abang akan ke kota."


"Belinya ke Rama**** aja ya?" tanya suamiku.


"Gimana Abang aja, adek ikut," jawabku terseyum.


Lebaran besok lusa, di sini lebaran Idul Adha tidak semeriah lebaran Idul Fitri. Biasanya kami hanya membuat masakan seperti opor atau rendang di temani lontong dan ketupat.


Esok harinya suamiku berangkat ke kota. Jaraknya dua jam perjalanan menggunakan oplet kecil. siang hari suamiku telah kembali membawa beberapa kue lebaran. Dari kue lapis, cookies, manisan dan minuman. "Banyak banget Bang belinya?" tanyaku


"Gak apa-apa lah Dek, Sekali-kali menyenangkan hati anak-anak," jawab suamiku tersenyum.



Anak-anak memilih-milih mana kue yang paling mereka senangi. Wajah-wajah bahagia terpancar "Ayah, ibu, terima kasih ya kuenya?"


"Boleh kami makan satu?" tanya mereka.


Aku dan suamiku mengangguk. "Iya boleh, pilihlah yang kalian suka," jawab ayah mereka.


Anak-anak bersorak riang. Ah.. bahagia melihat senyum mereka dan bayi di dalam rahimku pun sepertinya ikut senang dengan menggerakkan anggota tubuhnya.


Lebaran kali ini terasa sangat meriah, banyak sanak saudara yang datang mengunjungi kami. Syukurlah ada hidangan yang bisa kami suguhkan untuk menemani obrolan mereka. Saudara-saudara mertua juga banyak yang datang.


Lima hari setelah lebaran, perutku mulas. Sangat-sangat mulas hingga aku tak mampu untuk bangun. Ibu dan suamiku kelabakan mendengar teriakanku. Kelahiran kali ini sungguh berbeda dengan kakak-kakaknya.


Ibu membantu proses melahirkanku. Namun, entah apa yang terjadi terasa sangat lama. Hingga ibu meminta suamiku untuk memanggil mbo Minah untuk membantunya. Selama itu pula aku terus merintih, terasa sangat lama. Akhirnya, mbo Minah datang dengan tergopoh-gopoh masuk ke kamar. Ia membimbingku dengan cekatan dan akhirnya suara tangisan itu terdengar.

__ADS_1


"Oekkk...Ooekkkk..ooekkkk..." Tangisan itu menggema ke seluruh penjuru rumah. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Subhana Wa Ta'ala. Anakku lahir berjenis kelamin laki-laki dengan sehat dan tidak kurang satu apapun.


💜💜💜


__ADS_2