
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ
عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُون
َ
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Semakin hari sakitku semakin parah. Sudah empat bulan berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda aku akan sembuh. Barang-barang berharga kami seperti tv, kursi tamu dan lain-lain telah habis suamiku jual untuk pengobatanku. Telah empat bulan jua aku tak bisa berjalan dan tak bisa melaksanakan kewajibanku sebagai istri dan ibu dari anak-anakku.
Dari awal sakitku, aku telah meminta suamiku untuk menikah lagi. " Bang, sepertinya adek gak akan bisa sembuh."
"Jika Abang telah menemukan pengganti adek, abang boleh menikah di depan adek."
"Tapi, adek mohon, carilah yang bisa menyayangi anak-anak kita." pesanku.
"Adek ngomong apa sih, Dek?"
__ADS_1
"Abang yakin adek akan sembuh."
"Dan akan menemani abang hingga menua."
"Melihat anak-anak kita sukses dan mempuyai cucu yang lucu-lucu," hibur suamiku.
Kami sama-sama tersenyum. Ia membelai rambutku. Aku harus menikmati momen-momen ini. Aku merasa inilah saat-saat terakhirku bersama orang-orang yang aku sayangi.
"Bang, jika bisa kirimilah pesan kepada bang Sifa dan bang Fran untuk datang kemari."
"Adek ingin bertemu dengan mereka bang." pintaku.
Suamiku menatapku heran. "Adek kangen sama mereka?" tanyanya. Aku mengangguk
"Mudah-mudahan mereka bisa datang ya, Dek?" hibur suamiku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya.
Hari itu, aku merasa ada yang berbeda pada diriku. Suamiku sedang tak ada di rumah. Aku meminta Ita memanggil neneknya.
"Ada apa, Na?"
"Ada yang sakit, Nak?" tanya mertuaku.
__ADS_1
Aku menatapnya dalam. Entah mengapa untuk bicarapun aku tak kuasa. Air mataku mengalir tanpa menjawab pertanyaan ibu. Seakan mengerti, ibu terlihat terkejut. Ia memeriksaku. Ia menggeleng. Aku faham maksud Ibu. "Ita, panggilkan kakek Rahmat ya, cu?" pinta Ibu. Ita berlari keluar memanggil paman Rahmat dan Bi Ria. Bapak belum kembali mengunjungi Kakak-kakakku.
Paman datang beserta bibi. ibu menghampiri mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, kulihat mereka menyeka sudut mata mereka masing-masing. Aku mencoba bicara, tapi tak ada suara yang keluar, hanya erangan. Mereka memindahkanku ke ruang tamu agar lebih leluasa. Ibu berpesan kepada teman Bang Adi agar menyusulnya untuk segera pulang.
Aku melihat anak-anakku bermain gelembung sabun di luar rumah. Mereka nampak bahagia, aku tersenyum melihat mereka bahagia. Kusentuh tangan ibu dan adiknya bi Neneng.
"B...bu?"
"An..na... ti...ti...p an..nak..annak."
Ya Allah... itu kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Bi Neneng membimbingku mengucapkan dua kalimah Allah. Kulihat, Ita dan Fitri berlari menghampiriku, tapi ditahan oleh orang-orang yang ada. Mereka menangis, begitupun dengaku.
Nafasku tersengal. Apakah ini pengakhiranku? Terlintas semua perjalanan dan perjuangan hidupku selama ini. Seakan aku sedang di pertontonkan kilas balik hidupku. Aku menangis tanpa suara.
"Ibu... ibu..." suara anak-anakku menangis memanggilku.
Dimana suamiku? Bukankah ia berjanji akan menemaniku hingga akhir? Di mana dia sekarang? Aku merasa kakiku dingin, naik perlahan ke atas. Naik dan naik lagi. Nafasku tersekat, terasa ada yang berdiri di atas kepalaku, tapi siapa? Aku tak mengenalinya sama sekali. Dingin itu membekukan jantungku. Dingin itu menghentikan aliran darahku. Dingin itu memintaku untuk berhenti bernafas. Pandanganku gelap, kelam dan sunyi.
__ADS_1