
🍒🍒🍒
Suara itu menghilang, aku berniat meneruskan tidurku. Namun suara itu kembali terdengar. Aku berinisiatif untuk keluar kamar. Di rumah kami jika malam hari memang hanya terpasang satu lampu teras karena aku lebih suka tidur dalam keadaan gelap. Kubawa serta sebuah senter.
"Mana ya kucingnya?" gumamku.
Tiba-tiba, ada yang memelukku dari belakang. Ia membekap mulutku dengan kuat. kugigit tangannya lalu berteriak dengan kuat. Anak-anakku terbangun dan menangis. Bukannya melepaskanku ia malah menciumi dengan bringas. Aku menjerit sekuat tenaga, ternyata paman Rahmat dan bibi mengetuk pintu rumah. Mendengar itu, ia melepaskan dekapannya. Kusenter wajah orang tersebut, aku terperangah.
"Bapak?" gumamku hampir tak percaya.
Bapak segera berlari menuju pintu belakang dan pergi. Aku segera membuka pintu dan menghambur memeluk bi Ria dan menangis semaunya.
"Kamu kenapa, Nak? Apa yang terjadi?" cecar paman Rahmat.
"Bapak naik lewat dinding yang ada atapnya, Paman. Bapak.. Bapak.." jawabku terbata-bata karena takut salah menyampaikan apa yang aku alami.
"Mertuamu kenapa? Apa dia melakukan hal yang tidak-tidak terhadapmu?" selidik bi Ria.
"Bapak memeluk dan menciumku bi.....," jawabku histeris.
"Ya Allah, Man!" teriak paman.
Paman pergi ke rumah mertua dan mengetuk pintu dengan keras. "Keluar kau, Man! Bisa-bisanya kau berbuat hal seperti itu pada anak mantumu?!" teriak Paman marah.
Para tetangga berdatangan karena mendengar kegaduhan dini hari itu. Ada yang membantu mencari Bapak, dan mencoba menenangkanku dan anak-anak. Kupeluk anak-anakku, Mengapa cobaan demi cobaan selalu datang menghampiriku? Dulu paman kandungku sendiri ingin melakukan pelecehan ini, sekarang mertuaku? Apakah Allah sangat menyayangiku sehingga Ia selalu memberikanku cobaan? Wallahu'alam.
Teman suamiku segera menghubunginya agar segera pulang besok. Masalah ini harus di selesaikan secepat mungkin. Aku takut akan terulang kembali.
Keesokan harinya suamiku telah tiba, tinggal menunggu kedatangan ibu mertua untuk memgadakan rapat keluarga. Paman Rahmat telah menceritakan semuanya pada bang Adi, termasuk kejadian di gudang dulu. Wajah suamiku memerah menahan amarah.
"Kenapa dulu kamu gak cerita Dek sama abang? Kalau Abang tahu lebih cepat mungkin ini takkan terulang lagi. Abang merasa jadi suami tak berguna untuk menjagamu, Dek?" tangis pilu suamiku sambil terus memelukku. Suamiku tak menyangka, orang yang selama ini ia hormati dan sudah dianggap bapak kandung sendiri tega berbuat asusila terhadapku.
__ADS_1
"Kalau Abang ketemu sama dia, akan abang hajar habis-habisan dek. Gak akan abang lepas dia. Bila perlu akan abang laporkan dia ke aparat berwajib," murka suamiku.
"Sabar Adi, semua harus kita pertimbangkan dahulu baik buruknya. Walau bagaimanapun dia tetap suami ibumu. Kita tunggu kedatangan ibumu dulu, biar dia yang memutuskan," sela Paman.
"Baiklah Paman, kali ini saya akan dengarkan nasihat paman," desah suamiku pasrah. "Maafkan Abang ya dek? Selama ini abang gak peka terhadapmu,"
"Iya Bang, yang penting adek gak apa-apa kan? Baik-baik aja, itu tandanya Allah sayang sama adek," hiburku.
.
.
.
Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ibu pulang pada sore harinya. Kami menunggu ibu rileks dahulu barulag paman akan menceritakan semuanya. Batang hidung bapak tak terlihat, mungkin ia tahu suamiku dan istrinya telah datang.
"Bu, ada yang mau disampaikan paman Rahmat, ibu diminta ke rumahnya sebentar," ajak suamiku.
"Ayo Bu, kita ke sana dulu," ucap Bang Adi tanpa menjawab pertanyaan ibu. Ibu mengikuti suamiku ke rumah paman, aku telah ada di sana menunggu ke datangan mereka.
"Ada apa ini?" tanya ibu penasaran.
"Duduk dulu, kita bicara dari hati ke hati," hibur paman. Begini Dar, ada sesuatu yang terjadi saat kau mengunjungi adik kita di kampungnya," ucap paman perlahan.
"Ada apa Bang? Langsung saja pada intinya," tanya ibu tak sabaran.
"Abang ini hanya sebagai saksi dan penengah saja, yang jadi korban di sini adalah menantumu sendiri," jawab paman.
Ibu melirikku meminta penjelasan. "Ada apa Anna? Apa ada yang kau sembunyikan dariku selama ini?"
Aku menunduk, bingung harus menjawab apa. "Ayo Dek, ceritakan semuanya agar ibu tau semuanya," pujuk suamiku.
__ADS_1
Kuhela nafas panjang mencari kekuatan. Bang Adi menggenggam jemariku. "Bu, Anna sama sekali tidak berniat menjelekkan apalagi memfitnah, tapi Anna ingin memberi tahukan suatu kebenaran. Bahwa, Bapak sudah dua kali ingin melecehkan Anna," jelasku perlahan.
"Apa?! Apa ini semua benar, Nak?" tanya ibu tak percaya.
Aku mengangguk. Ibu terhuyung ke belakang memegang dadanya, kami semua panik. Bi Ria berlari ke dapur untuk mengambilkan ibu minum. Ibu menangis meratapi nasib dan kenyataan ini.
"Assalamualaikum," Ucap seseorang yang ku yakin adalah bapak mertuaku.
"Bu, maafkan aku bu. Aku khilaf," raungnya berurai air mata menyembah kaki ibu.
Suamiku maju mencekal kerah baju bapak. "Kau orang tua tak tahu diri!" teriak bang Adi. Dengan sigap Paman menangkis bogem yang diarahkan suamiku ke wajah bapak.
Paman dengan susah payah melerai cekalan tangan suamiku. Pak rt dan tetangga yang mendengar kegaduhan kami dengan cepat masuk ke dalam rumah ikut melerai amukan suamiku. Ibu terpaku melihat kemarahan anaknya yang selama ini ia kenal penyabar. "Sudah Adi, sudah nak," raung ibu.
"Ibu masih mau membela laki-laki bejat ini bu? Dia telah mencorengkan arang di wajah kita," cecar suamiku.
"Tidak, Nak. Ibu akan meminta cerai padanya. Karena Ibu telah gagal menjadi istri untuknya," lirih ibu.
Mendengar hal itu, bapak tersungkur di kaki ibu. Memohon agar menarik kata-kata Ibu. "Aku mohon, Bu. Jangan lakukan itu, aku tak bisa hidup tanpamu bu?" tangisnya.
"Mengapa kau lakukan ini Pak? Apa karena aku tak bisa memberikanmu anak? Apa itu salahku? Kau lihat, aku bisa mempunyai tiga orang anak. Walaupun hanya satu yang diberikan umur panjang oleh Allah Swt," raung ibu. "Inikah balasan atas kesetiaanku selama ini Pak? Jika kau ingin memiliki anak dari wanita lain, katakan saja. Mengapa harus menantu kita?"
"Bapak minta maaf, Bu. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
"Minta maaf lah pada anak-anakku. Kau berdosa pada mereka," sergah ibu.
"Adi dan Anna? Bapak mohon maaf atas semua kesalahan yang bapak perbuat pada kalian. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Asal Ibu kalian tidak meminta cerai pada bapak," rayunya sambil menangkupkan kedua tangannya di depan kami.
Aku dan suami terpaku menyaksikan hal itu. Aku tak ingin keluarga ini terpecah belah karenaku. "Bu, Anna sudah memaafkan bapak."
💜💜💜
__ADS_1