
"Sebaik-baik rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum Muslimin adalah rumah yang terdapat anak yatim dan dia diperlakukan dengan buruk." (HR. Ibnu Majah).
🌷🌷🌷
Tanpa terasa tahun ajaran baru tinggal beberapa hari lagi. Bik Utin telah membelikanku perlengkapan sekolah seperti tas, sepatu sekolah, kaos kaki dan perlengkapan menulis. Sedangkan untuk seragam aku menggunakan seragam kak Tia yang sudah tidak muat lagi padanya. Lumayan masih bagus dan layak pakai.
Sedikit cerita tentang kakak sepupuku ini. Kak Tia memiliki sedikit keterbelakangan, tapi masih dapat dikatakan bisa bersosialisasi dengan baik dan bahasa yang baik. Hanya saja untuk keadaan tertentu kak Tia kadang tantrum, mengamuk, bahkan memukul orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu bik Utin membutuhkan aku, kak Mimin, dan kak Ijum untuk selalu mendampingi kak Tia. Kasihan Bik Utin dan Pak Kus, mereka sangat menyayangi anak semata wayangnya.
Besok merupakan hari pertama aku menginjakkan kaki kembali di sekolah. Sekolah baruku. Aku dan kak Tia telah diberikan masing-masing sepeda mini untuk kesekolah kami. Bukan sepeda baru memang tapi bisa digunakan dengan nyaman. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh, sekitar 30 menit perjalanan menggunakan sepeda.
Kami berpamitan pada Bibik dan Pak Kus.
Bismillah ... Kukayuh sepeda menyongsong hari yang lebih baik berkat orang-orang baik yang dikirim Allah padaku. Sesampainya di sekolah aku ke ruang guru terlebih dahulu untuk bertemu kepala sekolah dan kemudian bersama-sama wali kelasku Bu Nurhayati menuju kelas lima.
Masuk ke kelas aku memperkenalkan diri, nama, asal sekolah dan tempat tinggal saat ini. Alhamdulillah teman-teman baruku semuanya baik dan aku cepat akrab bersama mereka. Aku duduk disamping murid perempuan bernama Ayu, anak yg cantik sesuai namanya.
Proses belajar di sekolah sangat menyenangkan. Termasuk pelajaran, teman-teman dan guru-gurunya.
Mereka tak pernah mempersoalkan aku yang pernah tinggal kelas.
Satu semester kulalui dengan sangat mudah. Alhamdulillah, aku bisa mendapatkan peringkat kelas ke dua. Libur sekolah ini, Bibik mengizinkanku untuk mengunjungi nenek dan adik-adikku selama tiga hari. Aku bisa melepas rindu kepada mereka. Biasanya hanya satu malam saja aku bertemu mereka saat aku pulang setiap bulannya atau mereka yang mengunjungiku. Bibik membekaliku oleh-oleh untuk nenek dan adik-adikku. Alhamdulillah ... Semoga Allah membalas segala yang telah Paman dan Bibiku berikan kepada keluargaku.
Tiga hari aku lewati dengan sangat menyenangkan. Tiba saatnya aku di jemput Pak Kus untuk pulang kembali ke rumahnya. Di rumah bik Utin aku sama seperti kak Mimin dan kak Ijum, mendapat tugas-tugas harian seperti mencuci piring, menyapu dan mengepel, memasak nasi yang waktu itu kami masih menggunakan dandang kukusan karena belum memiliki penanak nasi ricecooker. Jadi semua pekerjaan kami kerjakan secara manual walaupun kulkas dan mesin Air sudah tersedia.
__ADS_1
Satu tahun duduk di kelas lima akhirnya kenaikan kelas enam. Alhamdulillah peringkatku naik menjadi peringkat satu. Sejak kelas 1 SD dulu memang peringkatku selalu berkisar tiga besar di kelas, begitu juga dengan Fitri. Kami sudah bisa membaca saat belum sekolah karena saat menonton televisi. Kami berdua sering mengikuti kalimat-kalimat dan kata-kata pembawa berita. Dulu kami punya televisi hitam putih disaat ibu masih ada dan terjual disaat ibu sakit keras.
***
Satu tahun di sini masalah mulai bermunculan di rumah bibikku. Ada saja kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan dan kemarahan bik Utin, pak Kus termasuk Kak Tia. Entahlah, mungkin benar waktu yang menentukan segalanya termasuk rasa bosan terhadap orang lain. Aku sering telat ke sekolah karena harus mengerjakan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya walaupun ada kakak-kakak yang lain. Sebelum adzan subuh aku sudah bangun, melaksanakan panggilan sang pemilik kehidupan. Setelah itu menanak nasi, mencuci piring. Lalu menyapu dan mengepel. Membantu membuat sarapan pun aku lakukan agar meringankan beban yang lain. Sadar akan keadaan.
Waktu itu aku sudah memiliki keinginan yang besar untuk menggunakan hijab. Namun, keinginanku itu belum mendapat persetujuan dari bibikku.
"Belum saatnya kamu menggunakan jilbab, belum baligh juga kamu .. Kak Tiamu saja yang sudah SMP belum mau menggunakan jilbab, masak kamu yang masih kecil sudah mau bergaya?!" cecar Bi Utin saat aku menyampaikan keinginanku.
Aku hanya bisa menunduk dalam menahan tangis. Entah apa yang dimaksud dari bergaya itu, aku tak mengerti. Bukankah menutup aurat itu adalah kewajiban semua muslimah bahkan sejak dini?
Tak mendapat persetujuan dari bibikku untuk berjilbab tidak menyurutkan niatku untuk menggunakannya. Entahlah, apa itu hanya sekedar keinginan atau aku hanya kagum melihat orang lain menggunakannya. Aku menabung uang jajanku untuk kubelikan jilbab khusus putih dan coklat sesuai seragam sekolah. Tentu saja tanpa sepengetahuan siapapun di rumah bibikku. Aku menggunakannya saat aku hampir sampai di persimpangan sekolah.
Ternyata sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Pepatah tersebut sangat cocok disandingkan dengan keadaanku saat ini. Siang itu sepulang sekolah, Bibikku sudah menunggu di ruang tamu.
Eh ... kok wajah bik Utin ditekuk gitu ya? tanyaku dalam hati. Apa ada masalah?
"Waalaikumussalam ...."
"Masuk Ta, ganti baju lalu makan siang, setelah itu Bibik mau ngomong sama kamu."
"iya Bik ...."
Aku pun bergegas berganti pakaian, lalu makan siang. Ada apa ya? Bibik mau ngomongin apa? terkaku dalam hati.
__ADS_1
"Iya bik, ada apa?" tanyaku pelan.
"Duduk ta ... Kamu sudah pintar bohongin Bibik ya sekarang?"
"Maksudnya bohongin gimana Bik?"
"Kamu diam-diam membeli jilbab dan menggunakannya ke sekolah, iya kan?"
Degh ... rasanya jantung ini akan melompat dari tempatnya berada ... Dari mana Bibik tau? Aku tak langsung menjawab, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
"Kalau ditanya itu dijawab ...!" Bibik membentakku sambil menoyor kepalaku. Ya Allah ... dosakah aku? Aku menangis dalam diamku. Aku menunduk semakin dalam menyembunyikan rembesan air mataku.
"Kalau kamu tidak mau mendengarkan perintah Bibik, lebih baik kamu pulang ke rumah nenekmu dan jangan sekolah lagi!" sambung bibik lagi dengan tatapan tajam.
Aku segera mengangkat kepalaku menggeleng dengan cepat.
"Tidak Bik, Ita tetap mau sekolah ... Tidak lama lagi mau ujian Bik ...," jawabku sesegukan.
"Ya makanya kamu itu nurut, lupa kamu siapa yang biayai sekolahmu? Siapa yang bantu ngasi adekmu makan di kampung?"
"Tidak Bik, Ita tidak lupa ... Iya Bik, Ita tidak akan mengulanginya lagi. Ita janji bik...."
"Ok Bibik pegang janjimu, awas diulangi lagi!"
Bibik pun berlalu masuk ke kamarnya. Aku pun segera ke dapur membereskan piring-piring kotor sisa makan siang. Mencoba sabar walau hati perih. Resiko tinggal bersama orang lain yang harus kita terima.
__ADS_1
💜💜💜